Sekeping Narasi dari Karampuang

Pukul 09.00. Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Mamuju masih ramai, sisa kesibukan yang digelar sejak pagi buta. Ada puluhan kapal motor yang berayun-ayun gelombang, sandar dilabuhan atau dermaga kecil yang memanjang mengikuti liukan pantai, dan berbatas langsung kampung nelayan. Riuh-rendah suasana diantara suara pedagang, knalpot, dan mesin-mesin diesel.

Dengan naik sepeda motor dari rumah, saya bersama Dimas Wahab rekan di KM segera bergabung dengan warga yang hendak menuju Tanjung Rangas, dan Pulau Karampuang. Yang terakhir ini hanya sepemandangan mata dari pantai Manakarra.

Sejak menetap di Mamuju akhir tahun 2004, baru Ahad pagi lalu, saya kesana. Menuju pulau yang berarti rembulan. Beberapa warga menyebut, Karampuang juga bermakna bulan purnama.

Nama ini (mungkin) tidak memiliki kaitan mitologi dengan Karampuang, pemukiman adat di Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan (?) Konon Karampuang di Sinjai bermula dari penamaan tempat pertemuan antara Kerajaan Gowa (Karaeng) dan Kerajaan Bone (Puang) seperti yang tertulis di www.portalbugis.com.

***

Rupanya, kami berdua penumpang yang sejak tadi ditunggu. Isnaeni Kurniatun, guru madrasah tsanawiyah yang mengundang KM telah mengingatkan juru mudi kapal motor, untuk menunggu. “Kami sudah sampaikan bahwa ada tambahan penumpang yang sedang ditunggu,” ujarnya ketika bertemu di dermaga. Dia ditemani rekannya Siti Bahria, alumni salah satu universitas swasta di Makassar.

“Rasanya sepeti di pasar terapung Banjarmasin,” sebut Dimas Wahab saat menjejak kaki di anjungan. Butuh keterampilan tersendiri untuk bisa menyentuh papan geladak, sebab kapal tak pernah berhenti naik-turun. Bila tidak, bisa-bisa nyemplung ke laut.

Setiap hari kapal-kapal motor yang dapat menampung puluhan penumpang tersedia melayani rute pergi-pulang ke Karampuang. Tidak lama berselang, penulis telah duduk di sisi dalam kapal. Sebuah mesin diesel merek Tianli, memekakkan telinga ketika pertama kali dikebut. Kapal seperti mau pecah. Tidak ada pelampung yang disiapkan sebagai standar keamanan bila keadaan darurat.

Kami pun melaju dalam debur ombak yang melandai. Tiupan angin juga tidak begitu kencang. Langit dengan awan berarak tampak indah memayungi kota Mamuju. Belasan tower milik provider telekomunikasi yang menjulang disela pemukiman warga kota seandai tugu besi.

Mamuju yang dahulu gulita kini penuh warna. Setiap kontur tanahnya yang berbukit kian sesak. Yang terasa menjorok ke Karampuang yakni penimpunan pinggir laut yang membentang dari area TPI hingga ke Maleo. Hmmm, inikah kota ini yang makin bersolek.

Ketika lamat-lamat kota makin menjauh, seumpama Hotel Maleo yang bak kubus dari laut. Mesin diesel buatan China itu tiba-tiba berhenti. Tak ada semburat kepanikan diantara 21 penumpang pagi itu, juru mesin yang lincah dan pengalaman hanya menyahut, “baling-balingnya dibelit sampah!” gerutunya dari buritan ketika kapal mulai bergerak.

Saya hanya menggelengkan kepala, ingin menepikan cemas yang mendadak. Lalu kembali menikmati laut, sambil mengerjapkan airnya yang asin. Kedalaman yang membiru menyimpan rahasia dan kekayaan melimpah. Di sini, disepanjang tahun nelayan Mamuju, Polewali dan Majene mencoba nasib baik dari laut.

Kurang 20 menit pelabuhan kayu yang ada di Dusun Karampuang telah kami titi. Panjang dermaga mungkin 100-an meter, tingginya empat-lima meter. Panorama segera berubah drastis ketika pertama kali menjejak pulau yang amat dekat pusat kekuasaan di Mamuju, dan Sulawesi Barat ini.

Dari Karampuang, kantor Bupati Mamuju, kantor DPRD Mamuju, kantor DPRD Sulbar, dan Gubernuran yang berdiri megah di seberang laut seperti poster kalender tahunan. Atau kartu pos berwarna kontras. Sisi bukitnya yang membentang lambat-laun akan serupa Balikpapan, bisa jadi kota Mamuju akan lebih perlente. Karena masih ada kesempatan dalam tata ruang.

Tak ubahnya perkampungan nelayan di manapun. Menyusuri setapak Karampuang sesungguhnya dapat menjadi rute wisata tersendiri, selain sumur jodoh tiga rasa itu. Trek bagi pejalan kaki atau kegiatan bersepeda di Karampuang penulis yakin akan dapat memicu destinasi ini lebih baik ke depan. Namun rencana pemerintah sepertinya tidak akan mengindahkan potensi dan nilai-nilai sosial-budaya di tempat ini.

“Kabarnya akan ada kerja sama dengan pengusaha China untuk menjadikan Karampuang sebagai salah-satu pusat hiburan. Rencananya juga akan ada dibangun jembatan besar ke sini, benar itu pak?” selidik seorang perempuan setengah baya kepada penulis. Di media cetak dan situs berita online kabar itu memang tersiar.

Informan ini sesungguhnya risau bila daerah dengan tujuh dusun itu akan berganti adab. Yang dikalkulator sebaiknya jangan hanya soal untung-rugi tetapi juga mengenai kearifan lokal. “Kami ini hanya butuh bagaimana ekonomi makin membaik pak, anak-anak bisa sekolah itu saja,” paparnya ketika tahu bahwa penulis wartawan.

Kunjungan penulis ke pulau ini, sesungguhnya ingin bertemu anak-anak madrasah tsanawiyah Karampuang. Mereka sejak tahun lalu ingin belajar menulis. Melalui akun facebook mereka mengirim undangan lisan. Rencana itu pun selalu bergeser menyesuai jadwal dan kondisi alam. Janji ketemu pekan lalu batal, akibat cuaca yang tidak bersahabat sejak pagi.

“Terus terang, kami berharap mereka tidak hanya bisa baca, tulis dan menghitung. Tapi kami ingin anak-anak di sini juga pandai mengembangkan gagasan, dan ide mereka dalam bentuk tulisan,” sebut bu Isnaeni, perempuan berjilbab besar yang telah tiga tahun menjadi guru di Yayasan Al-Chaeriyah Mamuju. Perempuan asal Jawa Tengah ini setiap hari pergi-pulang ke Karampuang.

Untuk mencapai sekolah itu, rupanya harus melewati setapak yang menjadi jalan utama di sana. Madrasah ini sebenarnya telah terlihat saat menuju dermaga. Ruang kelas yang dibangun di atas karang itu harus ditempuh dengan menyusuri jalan yang rimbun. Kita juga harus berjalan di halaman belakang SDN Inpres Karampuang, dan melewati sebuah rumpun bambu yang melebat.

Madrasah yang didirikan untuk pendidikan gratis ini, kini telah menampung 40-an siswa. Meski masih sangat terbatas, keberadaan 10 guru di tsanawiyah telah cukup membantu. Semua bidang studi dapat ditangani meski dengan kompetensi dan sarana yang belum memadai.

“Kami sangat senang dengan guru-guru kami. Tiap hari mereka mengajarkan hal-hal yang baik. Sekarang saya telah pandai membaca al-Quran, dan bisa shalat. Apalagi kami bersekolah secara gratis,” tulis Hasni dalam paper singkat yang menjadi tugas perkenalan.

19 lembar halaman dari 19 peserta “Sekolah Menulis” Karampuang membuat penulis diliputi haru. Betapa banyak harapan meninggi itu yang mungkin hanya akan menguap dalam gemuruh lautan. Mereka memiliki cita-cita menjadi guru, dokter, ustdaz, TNI, wartawan hingga menjadi seorang Presiden.

“Saya tidak tahu, apakah saya masih bersekolah setelah tamat dari madrasah ini kelak. Orangtuaku hanya seorang nelayan, tidak memiliki biaya. Makanya saya sangat gembira saat tahu, ada sekolah gratis bagi kami di sini,” tulis siswa lainnya.

Ada emosi yang membuncah, saat mengajarkan keterampilan menulis bagi anak-anak ini. Di sela fasilitas yang sangat terbatas, mereka sangat antusias dan berbakat. Penulis jadi mengingat bagaimana Laskar Pelangi di Bangka Belitung itu menyelia kisahnya. Bagaimana mereka yang selama ini hanya mampu menikmati kerlap-kerlip kota Mamuju dari kejauhan.

Di Sulawesi Barat tentu masih banyak kisah yang sedramatis anak-anak Karampuang yang juga ingin melihat kota-kota besar di dunia. Melanglang dalam pengalaman yang suatu ketika akan mereka tulis dalam halaman surat kabar atau buku. Saya memimpikan akan lahir satu orang atau lebih, anak-anak Karampuang yang mahir menuangkan kata dalam standar jurnalistik lebih baik.

“Saya ingin jadi orang yang terkenal, makanya saya juga ingin jadi penulis yang hebat,” ungkap Hajril sang ketua Osis. Usai mendengar potongan kisah para penulis dan orang-orang hebat di dunia. Saya tak lupa menyampaikan bagaimana seorang Menteri bernama Dahlan Iskan yang juga alumni madrasah seperti mereka. Beberapa siswa menundukkan wajah ke lantai mendengar cuplikan itu.

Karampuang berjarak sekitar 3 mil laut dari kota Mamuju. Area seluas 6,21 kilometer persegi ini memiliki beberapa obyek wisata. Selain sumur jodoh dengan tiga rasa: tawar; asin dan payau, Karampuang juga memiliki gua kelelawar. Ahad (23/2) pagi, penulis sekapal dengan tiga orang pemuda yang memanggul senapan angin. Tujuannya ke gua kelelawar itu.

“Karampuang memiliki mitologi tersendiri yang membedakannya dengan daerah lain. Kekhasan yang seharusnya memberi tempat yang cukup untuk mendapat perhatian serius dari Pemkab Mamuju,” tutur Ikrar salah seorang pemuda Karampuang. Ia menyebutkan, sebagai penduduk asli Karampuang, leluhurnya memiliki hubungan kerabat dengan orang-orang Sirindu, Majene.

Usai menyantap nasi panas, bau peapi, tuna digoreng sambal kecap, dan sayur mi instan yang dihidangkan, penulis bergegas pulang. Cara menikmati eksotisme pulau itu belum lunas. Laut mulai pasang ketika belasan tatapan mata mengantar kami ke dermaga. Karampuang yang sangat dekat di mata itu, ternyata tak cukup ditulis sekadarnya. Semoga ini baru halaman pertama… (*)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s