Lonceng Kematian Jelang Pemilu 2014

Lonceng Kematian Jelang Pemilu 2014

PARA tim sukses gubernur Jawa Barat enggan menonjolkan identitas partai politik dalam setiap kampanye. Citra parpol yang terus memburuk sehingga tak layak lagi dijadikan alat propaganda untuk mendongkrak citra calon gubernur. (Kompas, 18/2/2013). Akibatnya selama 10 hari kampanye saat itu, pemasangan bendera parpol sangat minim, bahkan nyaris tak ada. Prahara di sejumlah parpol kini berujung bahaya. Itu panorama di tempat lain yang memiliki jejaring sebab akibat di daerah.

Yasraf Amir Piliang, pengamat politik dan budaya ITB menyebutkan, kematian parpol telah terjadi sejak Pemilu 2004. Ketika Susilo Bambang Yudhoyono terpilih sebagai Presiden RI. Sosok SBY lebih kuat dari partai politik pengusungnya. Para pengurus parpol kini dituntut bekerja keras untuk mengembalikan fungsi parpol dengan lebih mengedepankan etika politik.

Kemenangan Aher-Dedi di Pilgub Jabar pun disinyalir akibat pengaruh Jenderal Naga Bonar Dedi Miswar, yang diperkirakan mencapai 15 persen. Pilgub DKI sebelumnya yang dimenangkan Jokowi-Ahok mematahkan hegemoni partai politik.

Fenomena yang berkecambah.

Eksistensi diri dan partai politik pun menjadi bandul yang goyah didapuk peliknya masalah. Ketika seseorang memilih untuk menjadi calon anggota dewan perwakilan rakyat saat ini, ada dua hal sebagai tinjauan minimal yang mesti kita tanyakan. Apakah ia ingin maju karena memiliki nilai dan kualitas eksistensi diri secara sosial yang sangat kuat, atau hanya karena memahami partai politik akan membantunya sedemikian rupa? Di sekitar kita terlanjur banyak orang yang tak mampu menimbang standar kepopuleran dan peluang dipilih untuk rakyat. Penulis sekali waktu ditanya tentang hal ini.

Hari-hari jelang pencalegan di semua partai yang ada, terhitung masih ada peluang untuk menimbang-nimbang. Paling tidak masih ada 30 hari ke depan. Sayangnya, kata Garin Nugroho, demokrasi kita lebih banyak melahirkan politisi bergelar, yang hanya pandai mengeksploitasi teknis dan prosedur demokrasi bagi ekonomi diri sendiri. Mereka kehilangan daya hidup. Pantaslah rebutan awal ketika mereka memangku kuasa selalu bertumpu siapa memberi apa dan seterusnya.

Dalam diskusi politik yang digelar Koran Mandar akhir pekan lalu, kegelisahan pada patologi politik yang menjadi tuas penyakit birokrasi dan masalah soal lainnya, dianggap telah berada diambang stadium mengkuatirkan. Keadaan yang sakit ini masih dapat diobati dengan terus menggulirkan lebih banyak pencerahan kepada para pemilih potensial. Pendidikan politik yang mungkin sengaja ditinggalkan partai politik harus direbut agar sengkarut tidak makin menggejala sebagai kegagalan kita dalam berdemokrasi. Lonceng kesadaran politik rakyat tak boleh berhenti sedetik pun digemakan. Bangsa ini memang sedang mengalami masa-masa sulit. Tapi bagaimana pun berkepingnya kelangsungan bernegara, espketasi kita pada situasi politik yang mungkin akan membaik, para politisi lokal sejatinya membangun tradisi politik yang sehat. Ada hal yang berbeda secara kontekstual antara kisruh secara nasional dan situasi di daerah. Yakin saja ini hanya semacam siklus jelang pemilu yang tengah menguji ketanggungan parpol di daerah dengan desakan pesona perseorangan. Bila dahulu parpol adalah kendaraan untuk mengatrol seseorang untuk menjadi seperti balon udara, kini zaman telah bergeser. Figurlah yang menjadi sumbu kehidupan partai politik. (*)

Mamuju, 1 Maret 2013

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s