Koran Mandar, Tiga Tahun Kemudian…

Koran Mandar, Tiga Tahun Kemudian…

IDE yang berkecambah sejak tahun 2009 itu menjadi benih. Tak pernah bosan dibicarakan dalam semuka dari waktu ke waktu. Mungkin orang merasa lelah mendengar pintalan gagasan yang berbiaya tinggi ini. Namun tak juga jengah menyodorkannya sebagai lompatan dengan jurus penuh bunga. Lalu kini media berbasis komunitas ini berusia tiga tahun (14 Februari 2011). Setelah dua tahun ditenteng kesana kemari, pada diskusi dengan banyak orang.

Bila rubrikasinya terus saja berubah, hingga belum sepaten media konvesional pada umumnya, bagi Kami itu ibarat air yang sedang mengalir menuju muara. Suatu hari dengan dukungan masyarakat pembaca yang amat kritis kepada media lokal ini, desain kolom dan rubriknya akan ajeg. Koran Mandar ditetaskan dari cangkang zaman yang tengah berubah. Tak heran, prinsip adaptasilah yang mungkin lebih tepat hari ini, meminjam pikiran Tanri Abeng.

Mengapa Koran Mandar meski dilahirkan? Sebuah pertanyaan yang selalu diutarakan sejak semula media ini terbit. Kami memahami itu sebab tak mudah menyembulkan sebuah surat kabar yang mengandalkan komunitas sebagai basis utama. Tapi kami juga meyakini disela distribusi media sosial yang menggenggam dunia, khalayak tetap akan menyukai lokalitas dengan segala atributnya. Faktanya, lamat-lamat Koran Mandar menjadi tumpuan harapan pembaca yang dibekap gelisah. Ini sebenarnya hanya sebuah celah konteks, yang gagal dipenuhi oleh media mainstream.

Menurut Denis McQuail (1987) ciri-ciri khusus institusi media massa antara lain; memproduksi dan mendistribusi pengetahuan dalam wujud informasi, pandangan, dan budaya. Upaya tersebut merupakan respon terhadap kebutuhan sosial kolektif dan permintaan individu. Kedua, menyediakan saluran untuk menghubungkan khalayak ke  khalayak lainnya. Ketiga, media menyelenggarakan sebagian besar kegiatannya dalam lingkungan publik.

Kami berusaha selalu tampil lebih modern tanpa berusaha meninggalkan ciri khas lokal. Meski kita memahami dengan baik setiap media pasti memiliki agenda setting. Yang didefinisikan sebagai proses di mana media massa menentukan apa yang kita pikirkan dan cemaskan (the process whereby the mass media determine what we think and worry about).

Koran Mandar tumbuh di fenomena kapitalisme media yang ditandai makin hilangnya ruang publik, bangkitnya infotainmen, anjloknya jurnalisme investigasi, dan  homogenisasi. Di media ini terdapat halaman yang demikian luas dan gratis untuk pembaca atau warga. Layanan publik itu tidak mesti berupa daftar keluhan dan kritik, Kami juga menawarkan kesempatan sebagai Citizen. Ketika setiap orang boleh menulis berita dari lingkungannya sendiri, kini disebut jurnalisme warga.

Digitalisasi media yang kami usung sejak tahun akhir 2011 dapat dibaca di manapun di muka bumi. Kliklah e-koranmandar.com di ponsel cerdas pembaca untuk membuktikannya. Sistem mobileitu belum pernah dilakukan media lokal lainnya, sebelum Koran Mandar memulainya di Sulawesi Barat. Puluhan ribu tamu telah mengunjunginya, dari Mamuju, Toronto, Mesir hingga Maroko. Saat catatan ini dibuat visitornya 32.901, angka ini pasti terus merangkak setiap jam.

Jelasnya, Kami ingin membangun media lokal yang memiliki karakter. Atau sesuatu yang khas di masyarakat. Itulah yang menyebabkan sehingga tagline 100 % Berita Lokal Sulawesi Barat, masih kukuh di newsroom Koran Mandar. Daya tarik soal proksimiti atau kedekatan pembaca dan isu lokal, kami jadikan panutan yang tidak akan pernah bergeser. Yakin!

Apakah standar ini suatu hari akan lumer dalam gempuran kepentingan global? Kami akan menyerahkannya kepada pembaca, sebab merekalah Majikan Koran Mandar. Yang pasti media ini ingin dijunjung sebagai saluran komunikasi sosial-politik yang lebih efektif dibanding sekadar menjadi etalase diplomasi tradisional.

Dalam kaitan itu, media ini ingin mentransformasi politik lokal secara sadar dan mendasar melalui proses mediasi (mediated international politics), yang membuat transisi demokrasi lokal lebih menekankan pada image politics dibanding power politics. Visi ini lambat-laun menempatkan Koran Mandar sebagai Koran Politik, dengan tetap menjunjung nilai-nilai sosial budaya dan sisi humaniora lainnya.

Lokalitas Koran Mandar tidak hendak menampik apa yang disebut globalisasi, yang ditopang oleh perkembangan teknologi komunikasi. Dan, telah menciptakan apa yang sering disebut Marshal McLuhan, sebagai perkampungan global. Sebab di tahun ketiga ini, kami tetap patuh pada adaptasi zaman yang membuat Koran Mandar bertransformasi, dari standar media lokal pada umumnya ke level komunikasi massa lebih elegan dan menginspirasi.

Simaklah kami secara terus menerus, dimanapun dan kapan pun. Kabarkan juga apa yang menarik dan urgen di sekitar pembaca. Jangan lupa, tepuk kami selenturnya. Agar nanti, penulis dapat membuat catatan tahun Keempat lebih gegap gempita. Salamaq mating! (*)

Mamuju, 11 Februari 2013

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s