Iklan Politik: Issue Advertising atau Advocasy Advertising?

Iklan Politik: Issue Advertising atau Advocacy Advertising?

 

MAKA tahun 2013 adalah tahun politik. Hari demi hari pasca penetapan 10 partai peserta Pemilu 2014, kemudian lamat-lamat melindap dalam dialektika yang terus berkecambah. Ruang diskusi bukan lagi milik para elit di ruang-ruang eksklusif, atau gawean punggawa analisis di warung-warung kopi, namun juga menjadi dapur kecap siapa pun yang memahami atau tidak memahami makna kuasa politik.

Tak heran, bila ada sekumpulan orang yang mengepulkan asap tembakau, hampir pasti sebagian dialognya mengenai iklim yang tak pernah sudah-sudah. Pemilu mungkin suatu ketika akan menjadi semacam musim, seperti halnya musim semi, musim salju, musim panas, musim hujan, musim kemarau, musim rambutan atau durian. Tahap pemilukada untuk memilih bupati dan wakil bupati, juga gubernur dan wakil gubernur membuat kita tidak pernah lepas dari pembicaraan ini. Seperti candu.

Hanya ada jeda sesaat untuk mengambil nafas, lalu sarapan selalu diawali dengan rempah-rempah dan lauk-pauk soal kandidat, hingga marketing dan gaya komunikasi politik. Tentang cara menjual kepopuleran melalui iklan lalu melebarkan ruang tersendiri. Bahwa wilayah ini memerlukan keterampilan tinggi, sebab komponen-komponen pembentuk iklan yang melakukan itu meski dengan sangat baik. Iklan politik merupakan salah satu cara komunikasi untuk menyampaikan pesan individu, partai politik dan visi-misi.

Hanya saja, iklan politik seharusnya dipahami lebih dari sekadar iklan jualan. Genre ini harus menjalankan fungsi sebagai issue advertising atau advocacy advertising. Yang lebih mirip iklan layanan masyarakat ketimbang iklan komersial. (Tinarbuko: 2009).  Ini yang kerap dilupakan, sehingga pengiklan sering lebih menonjolkan selebrasi, tapi nirinformasi. Sementara biaya iklan itu tidak murah.

Informasi dalam iklan politik adalah compact, yang wajib memberi pengetahuan pada masyarakat tentang individu dan parpolnya. Jika dalam iklan komersial pesan kerap lemah, iklan politik sebaliknya. Maka tak heran, di jalan-jalan atau di sudut-sudut simpangan yang menyerbu pandangan dan kejenuhan kolektif pengendara yakni tumpah-ruahnya citra visual dengan tumpukan pesan abstrak. Ini sejatinya dikelola secara berimbang.

Para konsultan komunikasi politik saya yakin memahami pesan ini dengan baik. Dari beberapa peristiwa politik di daerah, iklan sebagai alat komunikasi mendominasi baik dalam bentuk spanduk rentang, spanduk vertikal, baliho maupun di media cetak dan televisi. Kita telah memiliki referensi dan pengalaman sepanjang tahun. Bagi yang serius urusan macam begini, bukan semata job pekerja desain grafis di depan komputer.

Di tengah budaya citra di panggung politik kita, sebaiknya para pengiklan politik itu tidak membuat rakyat terengah-engah di jalanan karena membaca atau mengutui setiap bentang promosi yang kehilangan informasi kreatif apalagi pesan persuasif. Ingat, para pemilih itu kian cerdas. Citra visual kandidat memang penting, tapi jangan melupakan subtansi dari visi dan misi.

Syukurlah sebab Pemilu 2014 hanya menampilkan 10 parpol pilihan. Ruang-ruang publik yang sebelumnya disita 38 parpol, sedikit banyak membantu hingga tidak menimbulkan luapan pesan yang mungkin hanya pepesan kosong. Efektifitas pesan politik juga berkaitan dengan kepercayaan orang banyak terhadap calon legislator dan partai politik.

Agar tulisan ini terasa lebih ringan, berkacalah pada kampanye Obama, dengan pesan sederhananya, Change… Yes We Can! Atau cobalah mengadopsi efek Jokowi yang kini populer dengan istilah Jokowitainment. Atas apapun yang dilakukannya, dia datang dan kini menjadi episentrum yang terus dibincangkan masyarakat, dan ruang-ruang redaksi… (*)

Mamuju, 27 Januari 2013.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s