Diaspora Politik dalam Relasi Sosial

PETA politik berubah drastis. Penentuan 10 partai politik lengkap dengan nomor urutnya, mengubah situasi dari pesta multipartai yang jumlahnya lebih dari jemari tangan menjadi 10 pilihan. Apakah sesuatu yang kebetulan untuk lebih memudahkan urusan administrasi tiap pascapemilu, ataukah angka-angka itu saklik pada urusan semiotika seperti yang lagi marak. Yang jelas, urusan 10 partai ini kemudian menyisakan kepentingan banyak orang dalam diaspora legit metafora.

Hasil verifikasi partai politik, meninggalkan pelajaran penting mengenai jenggala administrasi yang lebih banyak diabaikan. Fungsionaris parpol sering meremehkan administrasi kecuali jelang pemilu, padahal itu bagian dari cermin sistem manajemen kepartaian yang mestinya kesinambung dari waktu ke waktu.

Ini juga bagian dari wajah kaderisasi yang kerap macet. Mengapa ada partai besar dan gurem, titik temunya hanya pada soal apakah partai-partai itu menjalankan kaderisasi yang pasti diikuti tertibnya administrasi. Pemandangan ini telanjang ketika komisi pemilihan umum turun ke lapangan. Meski hal itu telah berlalu, dan kini menuai gugatan, untuk diketahui rakyat menelaah dan menilai dari media baca atau layar kaca. Bahwa ada partai yang serius, duarius, atau seriburius.

Sejatinya partai bukan hanya gumpalan perseteruan kepentingan, tapi menjadi candradimuka untuk menyemai kader pemimpin. Harapan itu selalu saja membuai kita. Namun kerap membuncah dalam kekecewaan.

Tahun 2013 dapat disebut sebagai era politik yang penting untuk menentukan posisi di 2014. Kita sedang menyaksikan kesibukan itu dari hari ke hari, misalnya ketika seorang kader partai atau calon anggota legislatif yang giat mengendus peluang. Menduga-duga zona yang paling aman. Tempat berlabuh memang kerap memerlukan terawang, apakah labuhan sedang berkabut atau akan benderang di 2014.

Tahun 2013 sebagai tahun Ular, menurut sebagian orang sungguh memerlukan keliatan memilih bukan hanya syahwat yang melahirkan keliaran dalam liukan menggoda semata.

Dan, kita sebagai rakyat pemilih selalu saja mengantongi hak yang semoga saja tak lagi tergadai. Tahun 2013 ini satu tahun yang cukup untuk menimang-nimang pilihan. Agar parlemen di tahun mendatang lebih kuat, sudah saatnya kita terus mendorong mereka yang selama ini terbukti lebih banyak bersuara bagi rakyat. Bukan mereka yang hanya pandai menenteng aspirasi kelompoknya.

Diaspora politik awal tahun ini bagian dari proses penyerbukan demokrasi yang bertumbuh. Bila ada kumbang atau mungkin pemain politik yang gemar melompat kiri-kanan hanya sekedar mencari manisnya zona aman, diabaikan saja. Meski itu mungkin halal dalam kehidupan politik, cukuplah partai-partai untuk tidak gandrung memburai harga kursi banderol grosiran.

Apakah kita selama ini telah membenihkan pendidikan politik yang mencerdaskan, ataukah justeru larut dalam paradigma sempit yang menihilkan kepedulian. Dalam konteks apapun kepastian yang mesti selalu dijaga yakni ritme kepemimpinan pemerintahan yang harus makin membaik. Itu sebabnya kekuatan relasi sosial harus terus berkelindan. (*)

Mamuju, 19 Januari 2013

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s