Bila Rhoma Irama Ingin Jadi Presiden

SAYA memiliki tetangga yang sangat gandrung pada Rhoma Irama. Belasan album kaset sang raja dangdut dikoleksinya, bahkan semua filmnya di bioskop tak satu pun yang dilewatkan. Bila ia memutar lagu sekencang mungkin, meski pada siang bolong di lorong kami, tak ada tetangga yang keberatan.

Sebab mereka pun fanatik pada lelaki bercambang itu. Sejak kecil penulis juga ikut menjadi penyuka. Saat Rhoma show di Wonomulyo tahun 1980-an penulis bersama ratusan orang berjalan kaki ke Mapilli, karena pertunjukan digelar di sana. Walau berdiri paling belakang, pelantun nada-nada dakwah dengan gitar tuanya itu membetot imajinasi dan rasa penasaran.

Siapa tak mengenal Rhoma Irama? Bisa dipastikan sebagian besar rakyat Indonesia tahu siapa penyanyi dangdut paling ngetop dalam empat dekade terakhir. Ketika ia mewacanakan dirinya sebagai bakal calon presiden, ia pun mendapat banyak tanggapan, juga sindiran. Orang lupa, jumlah penyindir pasti akan dikalahkan jumlah fans yang jutaan selama ini.

Tinimbang nama-nama capres yang berseliweran diberbagai survei, nama Rhoma Irama sejak lama jauh populer. Ini yang harus dihitung para spekulan politik yang ramai membincang tingkat keterpilihan menuju 2014. Bukan tak mungkin ia mampu mengungguli siapa pun di tengah kemaruk bangsa ini. Sesuatu yang tak mungkin selalu menjadi peluang dan kemungkinan dalam jungkir-balik hitung-hitungan politik.

Tahun 1980-an silam, ada puaq atau paman saya dari kampung yang membeli karcis di bioskop Gelora Wonomulyo tiga lembar sekaligus. Setiap lebaran tiba film terbaru Oma Irama selalu diputar hingga tiga-empat kali dalam sehari-semalam. Paman saya membeli karcis untuk tiga kali pemutaran tanpa pernah keluar dari gedung pertunjukan. Di rumahnya pun juga ada poster Rhoma ditempel di ruang tamu.

Kita baru saja melewati momentum Jokowi di DKI Jakarta. Itu satu pelajaran penting disela ketidakpercayaan publik pada partai politik, dan cenderungnya rakyat pada figur. Survei-survei terakhir yang dirilis di media pun memuat tidak populernya para ketua-ketua partai politik untuk menjadi pilihan warga di pilpres, dibanding tokoh sekaliber JK, Dahlan Iskan atau Jokowi. Fenomena ini seharusnya menepuk jidat fungsionaris untuk memperbaiki diri.

Apakah Rhoma Irama memiliki peluang itu? Riwayat politik raja dangdut ini dimulai akhir tahun 1970-an ketika menjadi bagian dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP), meski muaranya berlabuh di Partai Golkar jelang kejatuhan Soeharto. Peta itu cukup panjang, dibanding para politisi yang mungkin baru lulus dari kampus satu atau dua dekade lalu.

Ingat, Rhoma bagaimana pun kontroversionalnya di mata sebagian orang, dia terlanjur populer tanpa baliho atau luapan spanduk dimana-mana. Bang Haji tentu lebih paham sebenarnya mau kemana, tapi penggemarnya mungkin akan tetap memilihnya sebagai pelampiasan ketidakpuasan pada runtuhnya wibawa pemerintah.

Kita tunggu saja apa yang bakal terjadi kemudian. Yang pasti Rhoma sebagaimana dikenal memiliki darah muda; ia juga seorang ksatria bergitar; suka berkelana; anti mirasantika; musuh perjudian; dicintai bunga desa; dan sangat kental dalam perjuangan & doanya; dia juga kerap terjebak cinta segi tiga; pun kini membuat kita penasaran dengan gitar tuanya. Begitu kira-kira… (*)

Mamuju, 30 November 2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s