Taman Budaya, Taman Hati, dan Taman Wisata

SOLO, Senin, 11 Mei 2009, pukul 11.15. Bersama Ridwan Alimuddin, saya tiba di stasiun kereta api Solo dari Jogyakarta. Perjalanan yang hiruk-pikuk segala rupa wajah dan kesibukan itu dirubung lelah. Namun kepenatan seketika tandas saat networker kebudayaan mas Halim HD terlihat berdiri di peron stasiun.

Penulis jelas bangga ditunggui budayawan sekelas beliau.Kurator Taman Budaya Solo yang tak pernah berhenti bergerak, dan berbicara di seminar dan simposiun di seluruh Indonesia ini, segera menggiring kami ke warung sate kambing. Ucapan selamat datang para sahabat, katanya.

Lima menit kemudian dengan berjalan kaki kami telah berada di area taman budaya Solo, seluas 5,6 hektar. Sesungguhnya kawasan pendidikan dan pengembangan kebudayaan Jawa Tengah itu dahulu dirancang seluas kurang-lebih 180 hektar. Tapi areal yang dahulu gersang, tapi kini hijau royo-royo, sedikit demi sedikit terkikis pertumbuhan permukiman dan sebagainya.

Perjalanan atau pertemuan dengan para seniman dan budayawan sejak di Jogyakarta hingga ke kota Solo kali ini, menjadi menarik, sebab di Sulawesi Barat, juga sedang ada wacana terkait proyek taman budaya. Meski itu maksudnya, lebih pada proyek taman wisata, layaknya TMII.

Tapi saya ingin menegaskan, studi banding mengenai ruang, dan pemanfaatan taman budaya ini, ikhlas tanpa biaya dari APBD alias modal pribadi. Sekali lagi ini hanya soal bagaimana menguatkan tanggung jawab moral semata.

Sebab kami tak pernah mau berdebat apalagi hendak beradu gagasan dalam gelapnya pengetahuan mengenai area yang dipenuhi bermacam-macam studio dan sarana pertunjukan semacam ini. Namun bila tak bisa dihindari, perdebatan yang kami tunggu tentu dalam bingkai opini di surat kabar, dialog, bukan bisik-bisik karena kepentingan sekelompok orang.

Halim HD menyebutkan, tak perlu meniru bagaimana pemerintah provinsi Jawa Tengah menggelontorkan anggaran untuk taman budaya sejak tahun 1980-an. Sebab Pemprov Sulbar tak akan pernah mampu secara suka rela menyiapkannya, mengingat, selama ini program semacam selalu didekati dengan kegiatan proyek semata. Taman wisata di Gentungan merupakan contoh kasus yang seharusnya membuat pemerintah provinsi berpikir 1000 kali untuk membuat konten yang sama. Apakah telah ada data berapa jumlah pengunjung dan pendapatan yang bisa dihitung sejak area itu resmi dipakai?

Gagasan tentang “ekonomi kreatif” yang hendak didorong melalui taman wisata, yang disebut pula sebagai taman budaya, merupakan blunder yang kelak tak akan mampu menumbuhkan semangat berkesenian dan berkebudayaan.

Sebab taman wisata yang hendak dikemas satu bersama taman budaya tak akan bisa tumbuh bersama.

“Seharusnya kita juga mau belajar dari peletakan taman budaya di Palembang, atau taman wisata di Donggala. Keduanya sebagai contoh yang gagal karena tiadanya studi lebih dalam sebelum dibangun. Orang di Sulbar harus belajar dari tempat lain,” sebut Halim ketika kami rehat di kantin wisma seniman, masih di area taman budaya Solo.

Ia juga memaparkan bahwa taman budaya Solo yang tak pernah sepi dari jadwal pelaku seni tradisi-budaya, dapat berkembang karena didukung basis tradisi yang kuat. Senin kemarin, ratusan anak-anak usia SD hingga mahasiswa tumpah di pendopo seukuran 2000 meter pangkat dua. Pendopo terbesar di Indonesia itu sedang dipenuhi seniman-seniman muda dari berbagai sekolah dan kampus di Solo.

“Kenapa taman budaya ini mesti di Solo? Karena di sinilah proses pendidikan dan pengembangan kebudayaan tumbuh sejak dahulu, makanya tidak diletakkan di Semarang yang merupakan ibukota Jateng,” ungkap Halim yang selama ini aktif menulis di sebagian besar media yang terbit di Indonesia. Beberapa kali ia juga pernah mengirim idenya melalui opini di koran ini.

Taman budaya Solo yang telah menelan anggaran sekitar 300 miliar, sejak dibangun tahun 1980-an, selalu menjadi perhatian empat penting gubernur Jateng. Sejak Gubernur Ismail hingga Bibit Waluyo saat ini, taman budaya ini terus dikucuri anggaran.

Saat berkeliling di area yang penuh undakan beraspal itu, saya melihat sebuah gedung teater besar, dari tiga gedung teater yang telah ada, masih sedang dalam tahap perampungan. Setiap tahun proyek ini mendapat alokasi Rp1,5 M untuk tahap selama empat tahun.

Mahal? Ya. Sebab akustik untuk menopang tata lampu dan sound system yang standar memerlukan ongkos senilai Rp 3 miliaran. Bila proyek gedung kesenian yang akan dibangun di Sulbar hanya dipatron semiliar, maka jelas pernak-perniknya akan jauh lebih mahal dari nilai gedungnya, dan menggiurkan dari sisi pengadaan barang!

Di benak saya, sebuah gedung kesenian-bukan gedung bulu tangkis ya- saja, eksplorasi para pekerja kesenian akan makin menggairahkan. Tapi tentu dengan catatan, gedung semacam itu harus dekat dengan para pekerja kesenian. Tapi bila akan dibangun serampangan, sama saja kita sedang mendesain sebuah gedung kosong.

Perdebatan yang disodorkan pekerja kesenian dan kebudayaan di Mandar, Sulbar terkait proyek taman budaya (wisata?) di Simboro, Mamuju, merupakan gambaran betapa amat dinamis pemikiran dan pengalaman mereka dalam bersentuhan dengan sebuah ruang bernama taman budaya.

Mungkin perlu dicatat di sini, pengetahuan para pekerja kesenian itu jauh lebih besar dibanding mereka yang hanya kebetulan diberi tanggung jawab untuk membangun gedung, menyiapkan lahan, atau seorang kepal dinas kebudayaan dan parawisata sekali pun.

Bukan apa-apa, unsur pekerja kesenian dan kebudayaan yang bersama DKM Sulbar selama ini adalah mereka yang pengalaman melanglang buana di seantero taman budaya di republik ini. Mulai dari Bali, Jogyakarta, Solo, Makassar, Kutai, dan sudut-sudut terjauh sekali pun yang bisa dijejak dengan kaki mereka.

***

Makanya, persoalan pembangunan taman budaya di Sulbar hanya membutuhkan satu hal; yakni kearifan untuk tidak melihat taman budaya atau taman wisata itu hanya sebagai onggok proyek yang akan mengelupasi anggaran daerah. Juga kesadaran untuk mendengar dan menghargai komitmen sebagai penanda nilai setiap mahluk bernama manusia.

Dari Solo, yang memuat sebuah ruang taman budaya terbaik di Indonesia, saya bisa menerawang bagaimana proses pertumbuhan kesenian dan kebudayaan di Mandar Sulawesi Barat, akan kian lebih bernas. Tapi sekaligus akan menjadi mimpi buruk atau bias, bila setiap pondasinya dimulai dari estetika yang jauh dari komposisi berimbang. Antara aspek kepentingan dan kebutuhan.

Taman budaya ini terletak di sisi jalan raya Ir Sutami Kentingan, Solo tak pernah sepi. Gema gamelan, bunyi drum, atau poster-poster pertunjukan teater puluhan komunitas yang meramaikan taman yang membuat manusia di sekitarnya makin memahami darimana ia datang.

Sungguh lekuk tubuh anak-anak kecil yang mulai belajar menari dengan iringan musik tradisi itu mengusik hati penulis.Namun segera saja nanar. Sebab saya tak sanggup membayangkan bila taman budaya itu akan dibangun, atau dibenamkan di sebuah kawasan yang kita tahu tak pernah melahirkan nilai tradisi-budaya apapun di sana.

***

Dalam diskusi setengah malam di kawasan Malioboro, Ahad lalu, bersama kawan-kawan pekerja kesenian dan penulis profesional yang lahir di Sulbar, kami sama-sama tersudut pada satu pertanyaan. Taman Budaya yang sedang diancang-ancang di Simboro, Mamuju itu sebenarnya buat siapa?

Apakah itu dibangun untuk kepentingan pejabat dengan seremoni per dalam rangka, atau taman budaya itu memang didesain bagi pekerja kesenian-kebudayaan yang tak akan pernah berhenti berkarya. Ini adalah sisi mata uang yang berbeda.

Di Solo, saya melihat konsep yang berbeda antara pikiran taman budaya dan sekumpulan anjungan khas taman mini di Jakarta. Di Jogyakarta pun demikian. Tapi mungkin saya yang ketinggalan istilah bahwa konteks taman budaya dan taman wisata adalah hal yang sama saja. Entahlah.

Mungkin pula ada makna leksikal yang belum saya baca di Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) edisi IV yang terbit tahun ini. Bila tak, maka dirikanlah sesuatu dengan menata Taman Hati lebih awal. Itu yang lebih penting. Taweq. (*)

[Tulisan ini dimuat di Radar Sulbar, Edisi 13 Mei 2009]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s