Senoktah Pelajaran Buat Para Pemimpin

Suatu malam Umar ibn Al-Khattab mengundang Abdurrahman ibn Auf. “Sebuah kafilah telah sampai di pintu kota Madinah. Aku kuatir, barang-barang mereka akan dicuri orang jahat saat mereka tidur,” sebut Umar. Keduanya pun bergegas. Sesampai di tempat kafilah tersebut bermalam, “Tidurlah, aku yang akan menjaga kafilah ini sepanjang malam,” kata Umar lagi kepada Abdurrahman ibn Auf.

Pada malam yang lain, Zaid Ibn Aslam melihat Umar sedang meronda. Lalu ia meminta izin untuk mengikuti dan menemani beliau. Di luar kota Madinah, mereka melihat api di kejauhan. Mereka pun mendekat dan mendapati wanita janda, dengan tiga anaknya sambil berkata,”Tuhanku, beri keadilan padaku dari Umar. Beri hakku darinya. Ia bisa makan kenyang, sedang kami kelaparan.”

Mendengar itu, Umar mendekat dan mengucapkan salam. “Apa yang sedang kamu masak?” Tanya Umar. “Kami sedang memasak air untuk menenangkan mereka, supaya mengira aku sedang memasak makanan.”

Lalu, Umar pun segera menuju sebuah tokoh untuk membeli daging dan tepung. Belanjaan itu kemudian digotongnya ke tempat janda yang sedang kelaparan bersama anak-anaknya.

Zaid meminta agar dapat membawa barang yang tidak ringan itu. Namun Umar menolak. “Jika kamu yang membawa, siapa yang akan menanggung dosa-dosaku serta siapa yang akan menjadi pendinding antara aku dan doa wanita itu.” Tutur Zaid, Umar terus berjalan sambil menangis sepanjang jalan hingga sampai ke tempat wanita itu.

Wanita itu menyambutnya dengan mengatakan, “Semoga Allah membalas kebaikan tuan dengan sebaik-baiknya.” Tampak Umar mengambil sebagian daging dan tepung, lalu memasukkannya ke kendil, sambil menyalakan api. Umar meniupnya dengan keras hingga abunya berterbangan hingga mengotori raut muka dan pakaiannya. Demikianlah hingga makan itu terhidang.

Umar berkata, “Jangan kau mendoakan (hal buruk) atas Umar, karena ia tidak mendapat kabar tentang keadaanmu, dan ketiga anakmu.” Sepotong kisah arif ini penulis kutip dari buku Peringatan Bagi Penguasa karya Al-Ghazali, semoga tetap relevan dengan konteks di Kampung Besar ini, Mandar Sulawesi Barat.

Kearifan lokal tentang Tarrare di Allo Tammatindo dibongi Mappikirri Atuowanna Paqbanua, penting sebagai cermin untuk memaknai realitas kepemimpinan saat ini. Bagaimana di tempat Anda? (.)

Mandar, 14 Desember 2011

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s