Sebuah Hikayat dari Negeri Tempe

Asal-usul tempe cukup sulit ditelusuri. Tapi diyakini makanan fermentasi yang luar biasa karena kaya manfaat bagi kesehatan ini bermula dari Jawa. Tempe dianalog sebagai daging, sebab memiliki tekstur, rasa, dan kandungan protein tinggi. Sepotong makanan yang penulis mulai nikmati sejak kecil itu mengandung karbohidrat, lemak, protein, serat vitamin, enzim, genisten, serta komponen anti bakteri. Pokoknya selain murah, tempe juga cocok bagi semua umur.

Tempe kini banyak dikonsumsi semua kalangan di Indonesia pun kaum vegetarian di dunia, sebagai pengganti daging. Tetapi sayangnya, kebijakan soal bahan baku tempe sepertinya kurang berpihak ke petani. Bayangkan saja, akibat ketidakmampuan kita menyediakan stok kedelai padahal ini republik negeri agraris, membuat hobi makan tempe terancam akibat kemarau panjang di Amerika. Menjadi lucu, bila untuk sekadar membuat tempe saja bangsa ini harus menggantungkan produksinya ke Paman Sam.

Presiden Soekarno sepertinya telah meramalkan ketergantungan ini. Hingga dahulu ia sering memperingatkan agar Indonesia jangan sampai menjadi bangsa tempe! Yakni bangsa yang gemar bergantung pada telunjuk bangsa lain. Apa yang terjadi pada situasi kekurangan bahan pembuatan tempe menunjukkan bahwa mental gampangan, seperti yang dimaksud ungkapan mental tempe atau kelas tempe tengah berfermentasi pada bangsa yang besar ini.

Dalam catatan id.m.wikipedia.org disebutkan tempe telah mendunia sejak tahun 1895 melalui orang-orang Belanda. Prinsen Geerlings seorang ahli kimia dan mikrobiologi asal Belanda melakukan usaha pertama kali untuk mengidentifikasi kapang tempe. Konon perusahaan-perusahaan tempe yang pertama di Eropa dimulai di Belanda oleh imigran dari Indonesia. Tempe mulai sangat populer di Eropa sejak tahun 1946. Di Amerika Serikat tempe populer setelah dibuat pertama kali tahun 1958 oleh Yap Bwee Hwa warga Indonesia. Lalu menjangkau Jepang hingga Afrika.

Saya kira tempe menjadi produk lokal nomor satu yang sangat mendunia. Yang kita kuatirkan suatu saat tempe lagi-lagi akan diklaim sebagai milik bangsa lain. Kekuatiran mendalam penulis, antara lain lontong kecap; dan nasi berenang di Wonomulyo yang merupakan kuliner khas Kappuang Jawa itu akan naik harganya. Tempe-tempe goreng dengan cita rasa khas di lidah egaliter kami bakal berubah. Pandangan yang seharusnya lebih berpihak pada tempe rupanya hanya pandai di meja kabinet dan di kolom-kolom surat kabar.

Apakah ini berkaitan dengan mental tempe seperti kekuatiran Soekarno. Hingga tempe melahirkan anomali kebijakan. Kita tunggu saja bagaimana akhir dari drama ekonomi soal tempe dikelola pemerintah. Dari bentang Aceh hingga Merauke seharusnya kebijakan lebih memandirikan, bukan merentangkan ketergantungan yang memukul rasa keadilan. Inilah sepotong hikayat yang ditulis seorang penyuka tempe. (*)

Mamuju, 30 Juli 2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s