Masihkah Seperti yang Dulu?

Ramadan selalu menetakkan energi luar biasa. Tak terkira bagi mereka yang merasai bulan suci sarat hidayah itu. Di akhir bulan, orang-orang kemudian lebih sibuk mengurusi bagaimana merayakannya dan sebagian lalai menuliskan catatan-catatan pinggir buat Ramadan selanjutnya. Jadilah bulan yang sungguh-sungguh Maha Rahmat itu sebagai siklus yang merambat. Ibarat perayaan agustusan yang kini juga mulai selusuh bendera merah putih di halaman rumah.

Perang ego pribadi sebulan penuh sejatinya sahara yang melempangkan banyak pengalaman ruhani. Bukan sebuah savana yang meliukkan labirin, dimana sejumlah manusia hanya bisa memasuki Ramadan tapi kemudian linglung dalam pelukan kesejatian diri. Bulan Ramadan ini merupakan ceruk dimana kita bisa mengais kesempatan untuk belajar dan mendaras kearifan sekental mungkin.

Sayangnya akumulasi harta-harta yang tak kelihatan (intangible) yang menjadikan banyak tokoh-tokoh besar, pribadi-pribadi yang senyap dalam ibadahnya meraup keuntungan tidak terukur setiap Ramadan tiba, menjadi absurd bagi yang lain. Banyak pula literatur, dan kuliah-kuliah tujuh menitan atau tujuh puluh menit yang membahas dan harusnya mengayakan nalar. Tapi serbuan godaan selalu saja menihilkan martabat baqda Ramadan.

Apakah ini masih saja akan seperti dahulu, saat hari-hari yang diliputi gelombang hikmah itu, kembali bergelung ke titik yang sama, sebelum dan sesudah bulan kebaikan ini. Sebutlah ini semacam kontemplasi yang juga dihunjamkan ke qalbu penulis. Sebab waktu yang terus berjalan ini tak lagi bisa lagi dicegah untuk menautkan rekaman pikiran dan aktualisasi diri kita orang per orang.

Suatu ketika di gerbang rumah sakit jiwa seorang lelaki paruh baya, dengan wajah sumringah harus digiring ulang ke kamarnya. Ia sama sekali tidak memiliki kesalahan atas kegilaan yang pernah disandangnya. Tetapi hari itu ia membersitkan keraguan orang-orang disekitarnya hanya karena ia melantunkan lagu lawas dengan suara parau. … Aku masih seperti yang dulu…

Nukilan separagraf itu mungkin hanya sebuah deru pemikiran yang mestinya dikemukakan di panggung-panggung standup comedy. Sebab beberapa jenak lagi kita akan kembali memasuki panggung sesungguhnya, dimana kita akan mengukur sejauhmana momentum mendaras empati dan kesejatian dalam madrasah maharaya ini berlaku sebagaimana adanya.

Mengutip Qotadah dalam Suara Media, siapa saja yang tidak mendapat ampunan di bulan Ramadan, maka sungguh di hari lain pun akan sulit diampuni. Wallahu’alam…

Selamat berhari raya, dalam kepulangan ke sanubari masing-masing. Semoga mudik kali ini menjadi lebih berarti untuk tidak sekadar disebut pulang kampung. (*)

Mamuju, 14 Agustus 2012.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s