Lelaki Itu Bernama Sufyan Sagena

Sufyan Sagena; kami memiliki kekerabatan dalam banyak diskusi meski pada durasi terbatas. Lalu ketika saya menerima sekantung kertas untuk mengenang 100 hari kepergian almarhum, barulah saya kembali sadar, betapa birokrat langka itu benar-benar berlalu. Tapi ia tidak sepi sebab almarhum meninggalkan jenggala pemikiran yang belum sepenuh usai diurai. Juga beberapa tulisan yang pernah dimuat beberapa media cetak, yang kini dirangkum dalam buku bertajuk Tentang Sebuah Lencana.

Saya ingin mengatakan, amat sulit menemukan pegawai negeri sipil selevel Sufyan di Sulawesi Barat yang bernyali pembaharu. Kalau pun ada mungkin rekan-rekan PNS muda yang masih harus merambati alur birokrasi bertahun-tahun hingga mampu menggapai kedudukan eselon puncak. Itu pun bila tak digerus pragmatisme keadaan yang memang penuh resiko ala abdi negara. Namun, sosok ini melewatinya dengan banyak pikiran, gagasan, dan tindakan-tindakan nyata baik yang bisa dibaca maupun dilisankan sepanjang hayatnya.

Salah satu hal yang menurut penulis tak jamak mengenai kemampuan Sufyan mengelola alam pikirnya, mendistribusinya dalam diskusi formal atau nonformal, bahkan menjadikan buah gagasannya menjadi narasi populer di media massa. Mungkin ada pejabat atau abdi negara lainnya yang memiliki kemampuan itu, tapi amat sedikit yang berani memburainya sebagai tulisan di kolom-kolom surat kabar.

Berkali-kali penulis membahas banyak hal  dengan almarhum bila bersua di Majene, termasuk kegetirannya melihat roda birokrasi di daerah. Ketika mendengar almarhum diangkat menjadi eselon II di Majene, saya meresponnya dengan mengatakan, “Jabatan ini seharusnya sejak lima tahun lalu kanda!” Tapi ia lalu merendah dan tabah dengan kesahajaannya.

Tidak satu kali almarhum mengurutkan kegetirannya mengenai rendahnya minat baca mahasiswa, pun mental pegawai yang umumnya dinilai malas. Hingga even Sandeq Race yang pernah dikeluhkan, “Dinda, saya tidak seperti yang disangkakan orang-orang itu. Saya tidak mungkin mau merusak integritas kemandaran saya. Sudahmi dinda, minta tolong saja beritahu mereka jangan suka menyinggung hal-hal yang tidak benar.” Itu salah satu. diantara keluhan yang penulis duga melekati kegalauannya cukup lama.  Alharhum terbukti hingga menutup mata tidak pernah bersinggungan dengan soal-soal hukum karena lahan basah.

Hal yang tidak menyembul selama ini, semangat untuk terus menerus menulis sebab merasa “terganggu” setiap kali membaca halaman Opini Radar Mandar yang lalu menjadi Radar Sulbar. “Saya penasaran dengan tiga penulis yang masih muda-muda yang sering muncul di Radar, lalu mengapa saya tidak bergegas juga. Supaya teman-teman lainnya termotivasi.” Untuk memberinya penghargaan atas atensinya di bidang tulis-menulis, pada edisi perdana Koran Mandar medio Februari 2011, Sufyan Sagena didaulat sebagai penulis Opini pertama! Tulisan keduanya terbit pada 6 Juni 2011 dengan judul Urgensi Branding bagi Daerah Otonom.

Ia sering menyebut penulis lokal yang juga sastrawan seperti Muhammad Syariat Tajuddin, Nur Salim Ismail, juga penulis dalam diskusi untuk memberi semangat bagi kader yang berusia lebih muda. Ini mungkin terasa sentimentil, tapi nuansa yang pernah melingkari ragam persinggungan ide dengan Fian (demikian nama karib Sufyan Sagena) sesuatu yang patut dieja hari ini. Penulis menuangkannya untuk menegasi bahwa waktu akan berkisah tentang orang-orang yang bisa menarik semangat dari banyak faedah pertemanan.

Masih banyak hal yang bisa penulis terakan, tapi cukuplah, semoga para birokrat lainnya paling tidak sedikit cemburu untuk berani menulis. Lelaki Mandar bernama Sufyan Sagena itu telah merangkai banyak ikhtiarnya. Tidak hanya dibenak, tapi juga ditulisannya. Jelang 100 hari kepergiannya, penulis terhenyak, ternyata kawan diskusi itu telah benar-benar menghadap Tuhan. (*)

Kampung Jawa, 27 Juni 2012.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s