Jelang Ujian Ngeri Nasional…

Lagi-lagi ujian untuk mengakhiri status siswa di sekolah bakal berulang sebagai tes kengerian nasional. Tanda-tanda itu mengemuka pada suatu siang kemarin, ketika guru yang mestinya digugu dan ditiru oleh peserta didik disampirkan contoh buruk berupa bantuan sporadis agar siswa-siswi memeroleh nilai yang dapat membanggakan orangtua (?) Penulis menyerap itu dari seorang keponakan yang mencoba mempertahankan diri untuk mengerjakan isian tes tertulis dengan segala kompetensi yang dimiliki.

Namuan apa lacur, seorang gurunya malah menanamkan pernyataan yang mendidihkan nalar. Bagaimana mungkin seorang anak didik dipaksa untuk menjawab pertanyaan dalam pembulatan pensil 2B dengan jawaban seragam. Ini mungkin sesuatu yang jamak di banyak tempat di sekitar kita, namun yang patut disedihkan betapa alat ukur mutu pendidikan semakin terkebiri. Buat apalagi siswa lebih rajin ke sekolah, buat apalagi ruang-ruang kelas itu, buat apalagi siswa-siswi belajar tentang pendidikan karakter. Sebab pembodohan itu justeru dihunuskan guru-guru mereka sendiri.

“Jangan terlalu idealis dek, sekarang ini tidak ada lagi orang yang jujur. Nanti kamu tidak maju-maju,” kalimat itu dikatakan seorang guru pada muridnya disela ujian kompetensi di sekolah. Inilah riwayat dari buruknya standar sebagian guru pada ketaatan dan tanggung jawabnya untuk menetaskan luaran yang memiliki kapasitas memadai. Penulis jengah dengan hal demikian, sebab inilah bagian dari titik mula kerapuhan peradaban. Itu pula sebabnya mengapa ujian nasional itu mesti ditolak karena terbukti tak mencerdaskan tapi memperdaya.

Wahai guru yang budiman, tak usahlah kita menerjemahkan ketakmampuan menghadapi standar mutu dengan cara-cara biadab. Tak usahlah hendak merebut nama baik dengan sebutan berprestasi tapi nihil kesadaran untuk menata ideologi peserta didik sejak didik. Penulis menjadi sangsi, apakah ini bagian darin efek domino ketika tidak sedikit guru memakai ijazah abal-abal, atau menyandang status alumni kampus alakadarnya, hingga mampu sebegitunya mencemarkan wibawa sebagai Tuan Guru?

Bom waktu akibat menyuap untuk bisa lolos sebagai abdi negara, tidak perlu ditunggu lama. Kerapuhan mutu pendidikan sebab guru-guru anak-anak kita yang membeli ijazah sepertinya akan terus terbaca. Bukankah tak sedikit diantara ribuan tenaga pendidik di daerah adalah mereka yang tidak memiliki kesanggupan sebagai guru. Penulis mengamati sekian lama, duh, sungguh memedihkan.
Cerita singkat berikut yang penulis kutip dari buku 360 Cerita Jenak Nasruddin Hoja, mungkin bisa menyentuh titik singgung siapa saja yang mendewakan angka-angka, dan lebih menomorsatukan predikat kebagusan walau dikeroposi tata nilai.

… Seorang buta huruf menerima sepucuk surat dari saudaranya. Dia kebetulan bertemu Nasruddin di jalan.

“Tolong bacakan surat ini padaku. Aku ingin tahu isinya,” katanya.

Nasruddin mengambil surat itu. Melihat isinya yang berbahasa Parsi, “Maaf surat ini berbahasa Parsi. Aku tidak bisa membacakannya. Cari saja orang lain.”

“Kalau Anda buta huruf juga seperti Aku dan tak bisa membaca tulisannya, apakah Anda tidak merasa malu memakai sorban dan jubah hingga berpenampilan seperti seorang Mullah?” Kata orang itu.

Dengan marah Nasruddin membuka jubah dan sorbannya, lalu memberikannya pada orang itu. “Kalau kepandaian membaca dan menulis hanya ditentukan dengan jubah dan sorban, pakailah itu dan bacakan surat ini dua baris saja. Aku ingin mendengarnya!”

***

Apakah pernyataan seorang guru tentang nilai ujian yang membanggakan orangtua, padahal itu usaha menyontek massal yang diinisiasi sekolah kelak akan menjadi tropi prestasi atau jubah bermahkota? Tak elok rasanya bila kita harus berkampanye, belajar tidak lagi dibutuhkan, atau disiplin soal waktu sudah kadaluarsa. Sebab pada akhirnya ketika tes akhir kelak tiba, guru-gurulah yang sibuk mengerjakan soal-soal… (.)

Polewali, 19 Maret 2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s