Bila Polewali Mandar Mencari Pemimpin

Ketika tulisan ini saya buat, proses demokrasi langsung di DKI Jakarta sedang menunggu hasil hitung cepat. Ronde kedua dari duel duet pasangan Foke-Nara dan Jokowi-Basuki itu membetot sirkulasi pemikiran dan emosi politik banyak orang. Apapun alasannya, pemilukada di ibukota itu seolah-olah telah menjadi wabah yang endemik. Politik kotak-kotak atau putih-putih menggariskan satu garis, keterpilihan antara sosok dan refrensentasi wakil partai politik sedang bertarung memperebutkan kuasa.

Bila Jokowi-Basuki memenangkan Pemilukada Jakarta, maka indikator keterpilihan figur memenangkan hasrat politik siapapun yang tidak mampu membeli dukungan kursi. Jika Foke-Nara yang unggul itu berarti bahwa dominasi partai-partai yang berkoalisi untuk petahana itu memupuskan impian lain. Ini memang hanya sebuah tesis yang dinamis, sebab banyak juga yang berdalih setiap daerah memiliki kecenderungan pemilih yang berbeda. Bahwa Jakarta bukanlah parameter, namun apa benar demikian? Yang pasti Jokowi adalah fenomena dalam iklim politik yang gamang ini.

Panggung politik Gajah versus Semut di Jakarta menerangkan secara kasat mata bahwa regenerasi partai politik adalah tindakan yang perlu dilakukan. Bagaimana mungkin seorang Jokowi-Basuki tiba-tiba begitu diharapkan dan mengantongi kecintaan pemilih, jika rekrutmen dan metode pendidikan politik di partai-partai politik tidak sedang mengalami masalah. John Dewey dalam Tilaar (2009:107) mengatakan, demokrasi adalah pengalaman, bukanlah merupakan keinginan atau dorongan dari seseorang seperti seorang filsuf raja atau saintis untuk menetapkan ketertiban, tetapi suatu gerakan kejiawaan (moving spirit) dari seluruh anggota.

Manajemen politis yang menggurita hingga ke daerah memang sungguh sesuatu yang tak bisa dielakkan.
Kemenangan 54,11 persen atas incumbent sungguh-sungguh membuka pengalaman realitas seperti yang disitir Dewey, betapa figur seseorang, dan deret kompetensi serta kapasitas kepemimpinan mampu meniarapkan kumpulan gajah oleh barisan semut. Partai politik, termasuk di Polewali Mandar, sebaiknya melakukan kontemplasi bahwa mesin partai bisa dikalahkan lumasnya jejaring individu yang mengusung ketokohan kandidat. Pengalaman bagi manusia adalah sumber pengetahuan, sesuatu yang menggelantung pada sejarah.

Gerbong partai-partai sesesak apapun mesti mencari pemandu yang terpercaya, agar integrasi di pemilukada tidak kehilangan arah dan momentum. Tapi sungguh repot, berjibunnya kepentingan dalam satu lokomotif pemilukada, dapat selalu kita curigai bahwa kesungguh-sungguhan dukungan tak pernah bergerak penuh. Pragmatisme hanya selalu bertumpu pada apa yang bisa dikeruk partai pendukung. Antagonisme pemilukada juga selalu sulit dicari begitu TPS membubarkan diri.

Kesempatan untuk membenahi segala sesuatu masih demikian lapang. Anomali Jokowi-Basuki di Jakarta tidak lagi tepat disebut sebagai kebetulan dalam sebuah pertarungan politik. Fenomenanya memberi spektrum bagi sejumput cita-cita reformasi yang hampir kehilangan tujuannya. Sosok sederhana, sopan santun, tanpa politik uang menginjeksi. Pemilukada Polewali Mandar bakalan seksi bila beberapa hari ke depan atmosfirnya juga bisa “memanurungkan” sosok semacam itu.
Kehadiran pemimpin yang bersih, apa adanya, berhasil dalam rekam jejak bukan tidak mungkin digamit seseorang untuk bisa meruntuhkan hegemoni politik-ekonomi yang kini berkelindan di Bumi Tipalayo.

Dari hasil diskusi dibeberapa titik untuk menyerap pendapat di Polewali Mandar, penulis hanya ingin menitipkan sebuah simpulan tunggal, rakyat tengah pada titik jenuh. Mereka sedang berpikir mencari alternatif pembaharu. Tapi mungkinkah partai-partai di sana memiliki kemampuan menetaskan figur yang memenuhi kriteria ideal: bisse ditallang; kombong dibura; raqda dilattigi di tengah kuatnya era jejaring media saat ini. (*)

Mamuju, 20 September 2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s