Agar Provinsi Ini Tak Salah Urus

Sulawesi Barat ini lahir bukan karena hadiah. Kehadirannya tidak serta merta seperti halnya daerah lain yang mungkin hanya persoalan penggabungan wilayah-wilayah administrasi pascakemerdekaan Republik Indonesia. Bekas Afdeling Mandar ini pun tak serupa ucapan terima kasih usai lomba makan kerupuk. Tapi menetas dari luapan keringat, cucuran air mata, dan usaha berdarah-darah.

Sejumlah tokohnya kini entah dimana (?) Kita sebagai bangsa yang baru saja lahir, delapan tahun lalu seharusnya memiliki catatan lengkap tentang semua itu. Tapi dasar selain pelupa, banyak yang tak sadar provinsi ini sedang menuju ke suatu titik, yang kian jauh dari amalaqbiang. Ini bermula dari sikap birokrasi yang main embat kiri-kanan, lihatlah daftar panjang temuan-temuan BPK dan kasus-kasus yang mulai terendus. Ditambah sumber daya manusia tak disiplin.

Rekrutmen pegawai dan penjejangan karir yang seharusnya melewati standar mutu; kelayakan dan kepatutan juga takluk di depan kuasa garis nasib dan campur tangan politik. Sebagai contoh sederhana, apel bendera saja yang tak memiliki relevansi dengan kualitas pekerjaan tak bisa terpantau dengan baik. Apalagi menyangkut hal-hal lebih besar. Ironinya itu pemandangan yang setiap pekan terjadi di depan hidung mereka yang pemegang kendali kekuasaan, tapi tak juga memiliki efek apapun. Akibatnya, apatisme sebagian besar pegawai makin menggelembung, berbanding wibawa pejabat yang juga melorot.

Birokrasi yang sehat dan bersih sesungguhnya tak begitu menyulitkan. Sepanjang pemerintah pandai mendistribusi sumber daya manusia pada posisi sepatutnya, dan mereposisi mereka yang selama ini memalukan. Kesempatan itu sedang terbuka di tengah kesibukan sejumlah orang mengerek kepentingan pragmatisnya. Di sela penggodokan kelembagaan daerah, banyak yang kasak-kusuk kuatir dihempas tsunami roling di birokrasi. Seharusnya tak ada tempat bagi pejabat yang ternyata teruji tak bisa diandalkan, dan membebani keuangan daerah. Saya kira daftarnya dari urutan A sampai Z sudah ada di kantong pemangku kebijakan.

Gerbong mutasi yang tak bergerak pasca pemilihan Gubernur Sulawesi Barat tahun 2011 menyisakan ruang menganga, betapa publik dengan geram menunggu bersih-bersih birokrasi. Sayangnya lokomotif itu belum juga meniup peluit panjang. Di peron stasiun, geopolitik sosial rupanya terlanjur didominasi hitungan-hitungan jangka pendek. Maka tak heran kuasa seperti tersandera hegemoni  kelas tertentu. Menurut Gramsci hubungan edukasional seperti inilah yang membentuk ‘civil society’ yang didalamnya terletak dasar dari kekuasaan.

Kini perang manuver pun tak terhindarkan dalam adu kekuatan yang melahirkan persinggungan posisi. Apakah ini alamat buruk bagi kelangsungan provinsi yang sedang membenahi dirinya dalam dandanan agar tak terlalu menor kekecewaan publik. Kehendak akan kekuasaan memang akan terus menerus bertarung. Namun kata Nietzche, konflik kekuasaan harus tetap memiliki maknanya dengan hasil yang kreatif, sehat dan produktif. Tapi apakah itu mungkin dalam transformasi kedudukan dan sumringah kesempatan seperti yang berlaku kini.

Kita sesungguhnya ingin melihat ekspresi kekuasaan dalam bingkai berupa perubahan-perubahan sosial yang lebih berarti. Bukan persembahan berupa panggung transaksional yang telanjang menari-nari, dan kerapkali amat menggoda kita. Seharusnya ada yang menyadari kita tengah berada dalam perubahan masyarakat, termasuk perubahan ketatanegaraan serta perubahan-perubahan sosial dalam pusaran kompetisi dunia.

Hanya akan ada satu kebenaran yang pasti dibalik kenyataan, cetus Schopenhauer (Tilaar: 2009), yakni pertarungan yang terus-menerus dan penuh gairah dari kehendak manusia. Sayangnya, itu amat sulit dihindari, dan hanya beberapa orang saja yang dapat memilih untuk menghelanya. Mungkin benar tesis yang berkembang akhir-akhir ini bahwa perbedaan-perbedaan yang kita tonton di depan kamera, hanya terletak pada cara pandang, dalam realitas keduanya sebenarnya adalah satu. Aneh. (*)

Padang Bulan, 13 Oktober 2012.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s