Tuan Guru Sulaiman

Oleh Adi Arwan Alimin

Dengan rapal berisi doa, Sulaiman, guru satu-satunya di kampung itu, meraih sepeda ontelnya. Udara pagi yang masih bergumul dengan embun membuat pori-porinya terisi.  Kereta angin yang menemaninya sekian tahun itu pun meluncur meninggalkan rumah kayu yang mulai pupus dimakan waktu. Isterinya, setiap pagi dengan setia memanggulkan doa di punggung suaminya.

Bunyi kerikil yang beradu dengan debu, lumpur, atau tanah kering, nyanyian setiap saat ketika Sulaiman menerabas jarak tempuh yang tidak dekat. Sebagai guru yang mengajar semua anak-anak di pedalaman itu, dari tak bisa menghitung dan membaca, Sulaiman setiap bertemu siapapun di sepanjang jalan yang belum tersentuh aspal, menuai senyum orang-orang yang dilaluinya.

Pemandangan itu yang membuatnya tetap bersemangat, dan bisa bertahan bertahun-tahun di area terpencil. Sapaan orang-orang yang ditemuniya kala menghitung jarak dengan kaki-kakinya yang kokoh pada pedal sepeda meninggikan moralnya untuk terus menjadi menara pengetahuan di kampung yang tidak masuk dalam peta pelajaran IPS.

Bulir keringat mulai menyembul dari wajahnya, dan lengannya yang kokoh ketika ontel itu menikung di pagar sekolah. Roda sepedanya menyisakan alur tunggal di halaman yang berdebu, karena memang tidak ada kendaraan lain yang pernah memasuki hamparan tanah lapang dengan rimbun pepohonan yang menopang tiga ruang belajar. Mirip lukisan berbingkai yang banyak dijual di pasar.

“Alhamdulillah,” ujarnya saat menyandarkan sepedanya di dinding papan sekolah.

Ia mengibas celananya dari debu, juga lengan kemejanya yang subuh tadi diseterika arang istrinya. Sepatunya yang telah dikiwi tampak buram, tapi sebentar, karena dari balik sadelnya kain katun digosokkannya hingga ujung sepatunya tidak lagi terlihat dekil.

Dengan itu, Tuan Guru Sulaiman tampak penuh wibawa. Rambutnya yang legam disarungi kopiah setinggi delapan sentimeter. Gagah benar pria ini. Seorang guru pedalaman yang merangkap sebagai kepala sekolah, plus sebagai pengajar semua mata pelajaran di sekolah itu.

Seperti biasa, dia adalah orang pertama yang hadir di sana. Sulaiman memang pria satu-satunya yang mengabdikan dirinya di sekolah yang amat jarang dikunjungi penilik dari kecamatan. Sepuluh tahun mewakafkan diri di salah satu titik paling rapuh di dalam atlas republik ini bukan pekerjaan menggoda atau pilihan mudah bagi mereka yang sekadar ingin menjadi guru alakadarnya.

Tapi Sulaiman memilih itu dengan bangga. Ia sebenarnya mantan aktivis kampus yang disegani, lalu kemudian memilih menjadi guru. Ketika pilihan datang menyambanginya untuk ditugaskan ke daerah terpencil, Sulaiman menerimanya tanpa banyak menuntut. Kala itu ia berpikir perjuangan tak selalu di jalan dengan orasi berbusa-busa, masa sebagai demonstran telah lewat. Saatnya mengabdi dengan karya nyata.

“Assalamu’alaikum… kami datang pak guru.”

Segerombol anak usia 8 sampai 11 tahun berjajar dengan kaki beralas sandal, atau tak beralas sama sekali. Mereka berdiri seperti itu setiap hari, saat tiba dari segala pelosok, dengan baju sekolah seadanya. Seorang siswa malah terlihat telah kehilangan seluruh kancing baju. Tapi mereka masih bisa tersenyum.

Serempak suara itu memecah ruang kelas dimana Sulaiman sedang menulis sesuatu. Dilihatnya tak kurang 20 anak-anak telah berdiri di pintu kelas atau mungkin lebih tepat disebut kandang tempat belajar. Sebuah jempol diacungkan ke anak-anak. Artinya, kalian anak-anak yang rajin.

Serombongan anak-anak menyerbu tangan Sulaiman. Diciumnya tengah jemari laki-laki tanpa cincin kawin itu. Fragmen setiap pagi atau siang inilah yang meruntuhkan emosi Sulaiman. Setiap kali anak-anak itu menyalami dengan tulus, setiap kali itu pula dorongan batinnya untuk mengajar di daerah terisoilir itu menguat.

Sang Tuan Guru mengangkat senyum, meski kelopak matanya setiap waktu membanjirkan kesedihan yang tak pernah ditumpahkan di depan anak-anak muridnya.

“Ayo, ke kelas masing-masing. Ayo, ayo…”

Yang disebut sebagai kelas di tempat itu berupa: dinding papan dari kayu kapuk sumbangan orangtua murid; ruang kelas berlantai tanah; papan tulis dari enam papan yang dicat hitam; juga beberapa meja dan tempat duduk yang disebut sebagai kursi; dan penggaris kayu semeter yang kehilangan warna dasarnya. Tak ada gambar apapun di ruangan itu, kecuali foto Presiden tanpa Wakil Presiden dan Garuda Pancasila.

Puang, Bunga tidak datang hari ini, ibunya bilang Bunga sakit,” seorang bocah perempuan, anak umur kelas tiga SD, menggamit tangan laki-laki itu. Yang diberitahu mengangguk, dan meletakkan tangan di kepala muridnya yang belajar menyampaikan pendapat, lalu didorongnya pelan menuju ruang belajar.

“Sebentar bapak mampir di sana,” balasnya.

Sulaiman tak hanya menjadi guru ilmu dan pengetahuan, tetapi ia juga telah menjadi orang paling dekat bagi anak-anak itu. Saat mereka muncul di depan kelas, beberapa saat lalu, jam tangan Sulaiman menunjuk tanda 08.45 Wita. Di sekolah yang beratap langit, dan berdinding pohon-pohon yang masih tumbuh menjulang ini waktu belajar berbeda dengan sekolah di kota.

Bila tak hujan, pukul delapan hampir sembilan itu, menjadi jadwal paling pagi. Sebab bila hujan mengguyur, sungai yang tak jauh dari sekolah ini akan meluap, menghalangi siswa hingga berjam-jam untuk bisa menjejak halaman sekolah. Bila hujan, siswa yang tinggal di huma atau pinggir-pinggir kampung yang jauh baru akan muncul hampir tengah hari dengan basah kuyup.

“Kalau hujan lebat, kalian tidak perlu datang, Berbahaya bila sungai sedang banjir, apa kalian tidak takut hanyut?” kata Sulaiman pada mulanya.

“Kami bisa berenang puang.

“Kami bisa menunggu sampai sungai surut lagi.”

“Kami bisa…”

Anak-anak itu tak hirau, dan mereka tetap saja berusaha datang. Tak heran jika pelajaran bisa dimulai siang, dan pulang saat sore. Sekolah ini tidak mengenal jadwal pelajaran seperti yang memenjara siswa dalam ruang-ruang belajar, dari pagi sampai siang. Atau, pagi belajar lalu ada selingan istirahat di kantin, lalu masuk lagi hingga siang dalam tudung berhawa panas.

Oya, di sini juga tak ada kantin, apalagi perpustakaan. Kantinnya berupa bekal ubi jalar rebus, atau jepa -makanan khas Mandar yang dibuat dari ubi kayu. Perpustakaannya? Pasti guru Sulaiman, yang tidak hanya pandai mengajar matematika, tapi gemar bercerita tentang hikayat, atau dongeng apapun.

Satu lagi, Sulaiman mulai mengajari anak-anak yang telah pandai membaca dengan keterampilan menulis. Mungkin dari tempat ini suatu hari, akan lahir satu dua orang siswa yang akan menjadi penulis hebat di negeri ini.

“Pak guru yang bilang, anak-anak tidak boleh menyerah. Anak-anak tidak boleh banyak mengeluh, jadi kami tetap datang puang.”

Kalimat yang dilontarkan anak-anak didiknya membuat Sulaiman serasa dikalungi tanggung jawab untuk menerima mereka kapan pun. Maka di sini, belajar di ruang yang dianggap sebagai kelas bisa dilakukan kapan saja. Pagi, siang atau sore.

Semua itu ditulis guru Sulaiman dalam sebuah catatan harian. Penggalan pengalamannya bertahun-tahun di sana, membuat buku bergaris itu hampir penuh. Disesaki kutipan waktu, pengalaman, dan persahabatan dengan anak-anak yang sebagian besar diantaranya tak pernah bisa mengecap bangku sekolah menengah pertama.

***

“Bila dinda tidak kuat bertahan, saya bisa mengurus surat pindah ke kecamatan,” ujarnya kepada perempuan berkulit kuning langsat, istrinya. Pernyataan itu tidak sekali diangsurkan, namun kerapkali saat perempuan itu melihat suaminya dengan nanar.

“Saya terlanjur meneken surat perjanjian untuk bersedia mengabdikan hidup saya di manapun di negeri ini, Itu pelajaran moral pertama yang membuat saya belajar menghargai komitmen yang saya tahu itu tidak semudah yang dibayangkan orang lain,” kata Sulaiman ketika melepas penat di teras rumah dinas empat kali tujuh meter.

“Saya ada di sini, karena saya tahu bahwa lelaki yang saya cintai itu akan tetap teguh pada komitmennya. Sekali pun saya tidak pernah merasa lelah, karena orang yang saya cintai juga begitu kuat menopang hidupnya,” balas istrinya.

Di sekolah, ia memiliki puluhan anak-anak dengan minat belajar yang luar biasa. Buku cerita yang hanya berjumlah tak lebih dua puluh  buah, telah lusuh, karena terus dibaca berganti-ganti setiap hari. Anak-anak hampir menghafal semua cerita yang ada di buku itu.

Sedang di rumah dinas yang dibangun masyarakat di atas bukit itu, seorang perempuan setia menjadi pasak hidupnya. Waktu lima tahun untuk bisa pindah dari sana, sesuai perjanjian bermeterai yang diteken sepuluh tahun silam, kini tak lagi menggodanya untuk segera pergi ke kabupaten untuk minta diganti dengan guru yang lain.

“Ada saatnnya kita akan pergi dari sini sayang, tapi belum hari ini,” ujar Sulaiman.

Perempuan yang disuntingnya tujuh tahun lalu itu telah memberinya buah hati, yang juga diajak tumbuh bersama dengan anak-anak di pedalaman itu. Sulaiman ingin anaknya akan tumbuh bersama alam, bermain di bawah rindang pepohonan, dan mengamati langit setiap malam.

***

Pagi kemarin, matanya begitu berkaca-kaca ketika seorang siswanya yang duduk di kelas enam SD tergopoh-gopoh menemuinya di perumahan. Jalan yang sedikit berundak menuju rumah dinas yang dikeliling pagar dari kembang sepatu, pohon jarak, dan nenas itu seperti ruas yang rata di kakinya.

“Zainuddin, ada apa?”

“Lihat ini puang,.. saya sudah bisa mengarang sendiri,” diserahkannya buku tulis bergambar bintang film itu dengan dua tangan. Rasa hormatnya tetap terjaga. Anak itu menunggu sesuatu dari Sulaiman.

Satu kata, dua kata, hingga menjadi kalimat yang utuh menjalar di matanya. Sekali waktu ia menengok Zainuddin, salah satu muridnya yang tinggal di seberang bukit. Sulaiman mengangguk, menggelengkan kepala, lalu mengangguk lagi. Bagaimana mungkin Zainuddin melesat dengan pilihan-pilihan kata begitu.

Bunyi karangannya begini,… kami memiliki seorang tuan guru bernama Sulaiman. Ia pandai bercerita dan berhitung. Guru kami setiap hari ke sekolah dengan bersepeda. Bajunya rapih, suka tersenyum dan senang mengajar kami. Guru kami tak pernah membentak, apalagi memukul anak-anak. Tapi kami tetap rajin ke sekolah. Anak-anak tidak pernah bosan mendengarnya berkisah, tentang dunia yang jauh dari kampung kami.

Di halaman lain, …kami ingin sejago guru Sulaiman. Yang tidak menolak makan bersama bekal kami dari rumah. Kami jadi tahu ternyata, guru kami itu juga menyukai ubi jalar rebus, dan pisang bersantan. Makanya, Bahar teman kami, pernah memikul seikat ubi dan setandan pisang walau ia tak mampu menyeberangkannya di sungai… Ia hampir hanyut, tapi pak guru tidak tahu…

Air mata Sulaiman tumpah. Ia mendongak melewati ujung atap rumbia yang pupus digerus matahari. Di sana ia melihat awan yang menyelimuti langit biru. Sulaiman seperti hendak terbang ke sana. Ia tak ingin menangis di depan muridnya. (*)

Mandar, 7 Mei 2010

Puang: Sapaan khas di Mandar, Sulbar untuk orang yang dihormati

Cerpen ini buat semua Guru yang saya cintai.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s