Tuan di Tanah Kami

Oleh Adi Arwan Alimin

Warga di kampung tak menyadari bahwa mereka mulai kehilangan tanah-tanah leluhur. Ratusan hektar area yang dahulu menjadi kebun kehidupan pelan-pelan digusur dengan buldozer, eskavator atau alat penggaruk pepohonan dari kota di mana pohon-pohon mengalirkan setiap tetes embun ke mata air.

Setiap saat mereka bersitatap, bila raungan dan asap dari monster-monster itu memecah batang, melayukan ranting, merontokkan dedaunan hingga berguguran karena kehilangan akar yang dicerabut paksa. Dahulu penduduk di kampung ini sangat menjaga martabat hutan yang menjadi suluh kehidupan mereka yang harmonis dengan alam. Tapi kini setiap hari jengkal demi jengkal persil tempat semua orang berpijak berganti pemilik.

Tanpa air mata warga bergerombol di sisi bukit atau di huma-huma mereka yang hanya tanah sepetak, menyaksikan lereng atau lembah moyang mereka di seruduk perkebunan-perkebunan yang lebih modern. Pemandangan itu berlangsung sejak seorang pejabat dari kota mendapat tukar guling kepentingan karena anak kepala kampung lulus sebagai calon pegawai negeri sipil.

Dari sinilah perlahan-lahan episode mengerikan mengenai kekuasaan atas wilayah moyang kami dimulai. Bumi yang menjadi tumpuan memanggul adat dan kebiasaan lambat-laun berganti kepemilikan.

Tanpa banyak berpikir satu hektar tanah kepala kampung berpindah tangan, hanya karena menitipkan nomor ujian pada pejabat itu. Lalu warga yang lain pun mulai menerka-nerka apa anak-anak mereka yang telah tumbuh dewasa, meski hanya lulus sekolah menengah pertama, juga bisa disorong-sorong untuk menjadi pegawai pemerintah?

Ketika anak kepala kampung itu mulai membelah jalan desa dengan seragam dinas pada pagi hari, saat warga lain mulai sibuk ke ladang, pikiran warga makin tak karuan. Mereka tak lagi bisa konsentrasi mengayak gemburnya tanah di kebun-kebun, tak lagi tahan menerabas rerumputan yang meninggi, tak lagi kuasa merambah sisi hutan terjauh. Sebab seorang warga di kampung itu mulai tampil lebih bersih, rapih dan saban hari memasang gaya sok wibawa.

Wewangian murahan yang disemprotkan di bawah ketiak baju dinas anak kepala kampung menebar aroma kebencian dan ambisi yang membutakan kesadaran sebagian orang. Penampilan yang necis itu memaksa para ibu untuk merayu suami menyerahkan kehormatan di  tapak kaki pria tua yang kini dianggap menjadi dewa penolong warga yang selama ini merasa hidup dalam baskom.

Status pegawai negeri, pikir warga kebanyakan, menjadi satu-satunya jalan untuk mengantrol harga diri mereka. Agar tak lagi dianggap kampungan. Kesempatan inilah yang dianggap akan mampu mendudukkan udik mereka sejajar dengan kampung-kampung lain di kecamatan sebelah. Dan, pilihan untuk menyandarkan masa depan itu ada di kehendak pejabat yang baru beberapa bulan lalu datang ke desa.

***

Maka satu demi satu warga yang kekeringan pikiran sehatnya juga mengikuti jejak orang paling dituakan di kampung. Pada suatu kesempatan, mereka secara bergerombol mendatangi si pejabat yang sebentar lagi memasuki masa pensiun untuk menyerahkan ketetapan nasib anak-anak di kampung. Konon status pegawai kantor meski baru suka rela lebih mantap rasanya.

Yang dituju tentu saja tak banyak berpikir seperti warga kampung itu. Pejabat bertubuh tambun itu, hanya memasang muka berat, seakan-akan pilihan warga yang terasa amat sukar itu juga tengah membelukar di otaknya. Padahal durian sedang jatuh sendiri diujung jari kakinya.

Sesekali ia memanggut-manggutkan wajahnya yang menua, setua akal dan ambisinya untuk menjadi raja kecil di kampung itu. Dan, rupanya hal itu sisa menunggu semua orang datang bertekuk lutut dan melipat tangan di depannya. Menabur kata tanda takluk.

Hati kecilnya sungguh jumawa, karena tanpa berpayah-payah sepetak demi sepetak tanah kini memenuhi lemari sertifikat tanahnya. Sore itu ia menghitung dengan tepat kedatangan tujuh kepala keluarga, yang sama berarti tujuh hektar tanah. Tujuh penyerahan kedaulatan yang tak akan pernah dapat ditebus warga sampai anak-anak mereka menjadi pegawai kantoran.

Demikianlah tawar-menawar sekumpulan kepala yang saling mencari untung itu.  Di atas kertas bermaterai enam ribu rupiah, setiap orang yang bersungguh-sungguh hendak menyorong nasib anaknya ke level yang katanya lebih terhormat itu menggariskan tanda tangan. Lepasnya sebagian tanah harapan mereka tak lagi bisa ditunda siapa pun.

Dengan wajah bangga orang-orang itu menuruni jalan setapak yang menjadi lorong  kompas ke kampung mereka. Sebentar lagi anak-anak mereka juga akan menjadi orang kantoran dengan segala macam embel-embel di pakaian dinasnya. Kebanggaan memuncak yang juga dijalari rasa kehilangan lahan secara diam-diam di hati mereka. Tapi inilah kesukaan yang pandir.

Sebentar lagi anak laki-laki yang telah digadaikan bersama sehektar tanah itu akan dicarikan jodoh, karena tak baik, orang kantoran berlama-lama menjauhi kursi pelaminan. Begitu pikiran warga. Sementara itu berarti, setiap gelar pesta perkawinan sama dengan kehilangan sepetak tanah yang lain.

“Dul, rupanya amat mudah ya,” kata si pejabat sambil berselonjor di bungalao yang dibangun di sisi bukit. Tak jauh darinya, tunas-tunas ribuan pepohonan dengan segala rupa jenis mulai menghijaukan huma yang dahulu hanya kumpulan belukar dan umbi-umbian warga. Di ujung pandangannya yang lain, sehektar kolam ikan tawar sedang dirapikan pekerja.

“Kamu tinggal mengajak warga yang lain lebih banyak ke sini. Dul, kamu bilang saja, Bapak bisa mengatur itu dengan mudah, apalagi mereka itu hanya meminta agar anak-anaknya bisa jadi orang kantoran saja dulu. Meski jadi jongos kantor,” sambungnya menyisakan senyum getir. Entah pikiran apa yang melompat-lompat di batok kepalanya yang beruban.

Dul, laki-laki yang berada disampingnya juga ikut senang. Dialah yang mula-mula mengenalkan tetua kampung dengan calon purnakarya itu tahun lalu. Ia kini diangkat sebagai pengawal atau suruhan paling setia dengan pria berumur itu. Dengan gaji yang cukup untuk mengepulkan asap dapur, Dul yang juga pemuda dari kampung itu, gontai saja dalam setiap urusan tuannya.  Tiada terusik dengan kondisi yang mencekik komunitasnya.

Di simpang jalan yang jauh dari tempat itu, para gadis juga sibuk menggunjing pemuda yang sebentar lagi juga akan berseragam kantor. Mereka saling cekikan dengan gosip di seputar isu dan kabar terkini kampung itu. Topik paling utama tentu si anak kepala kampung yang kabarnya mulai makin meninggikan taraf pergaulannya. Sebab ia tak lagi banyak kelihatan di kampung, sebab kabarnya pula ia sangat sibuk di kota.

Cara inilah yang ikut menggugah banyak pemuda untuk berani mengabulkan permintaan kepada ayah atau ibu mereka, agar ikut menjual tanah atau kebun supaya mereka bisa segera mengenakan seragam atau baju berwarna pakaian pegawai kantoran. Lalu makin sibuklah pejabat yang sedang memasuki masa persiapan pensiun itu menerima transaksi jual-beli yang sebenarnya tak seimbang.

“ Sehektar tanah juga bisa ditukar dengan sebuah motor bebek keluaran terbaru. Atau dengan uang tunai,” ungkapnya di depan sejumlah ayah dari pemuda kampung yang tak memiliki pilihan atau terpaksa mengikuti alur kepentingan si tuan tanah.

“Sebulan saja ya,” ujarnya lembut di kesempatan lain, ketika seorang warga datang tergopoh-gopoh menggadaikan seperempat tanah garapannya.

Tanpa ba-bi-bu, pria setengah umur itu hanya menganggukkan kepala tanda setuju, lalu hilang di balik pintu rumah yang dibangun dari kayu berdiameter lebar yang diterabas secara serampangan di hutan-hutan larangan adat. Tapi siapa yang bisa menghalangi, sebab hutan dan tanah yang digunduli itu milik raja kecil itu.

Semua cara dipakai tua bangka itu dalam menyeret kesibukan warga untuk segera menukar secara suka rela tanah yang menjadi tumpuan hidup mereka. Tapi yang lebih menggiurkan, soal gampangnya anak-anak di kampung itu berseragam pegawai, meski rupanya hanya sebagai tenaga kerja yang tak terdata dalam catatan resmi kepegawaian.  Liar atau tak sah dalam hitungan anggaran tahunan.

***

Waktu terus saja bergulir. Bukit yang sepuluh tahun lalu dibabat gundul itu kini telah menghijau, lebat dalam jajaran peleton kayu jati yang bernas, ramai dalam barisan selaksa pasukan yang menebar aroma kayu damar. Di manakah para kepala keluarga yang satu dasa warsa lalu itu gemar membungkuk-bungkukkan kepala bila sedang melingkar di ruang tamu rumah di sisi bukit itu? Kemanakah gurauan gadis-gadis kampung yang setiap malam berharap dihampiri mimpi, disunting pegawai kantoran pada esok paginya.

Asap putih dan tipis yang mengepul dari lereng-lereng nun jauh sebagai tanda perladangan berpindah yang menyisakan jejak warga yang terdesak. Mereka rupanya harus makin menjauh dari kampung di mana pensiunan itu kini menghabiskan waktu menghitung keuntungan dari setiap meter isi hutannya. Setiap hari.

Sebab tak sejengkal pun kini mereka menyisakan kehormatan di lembah di mana leluhur mereka pernah meletakkan peradaban, dan meniupkan roh kehidupan yang berujung pada sesal diri di kemudian hari.  Di tempat mereka yang kian mendekati batas tanah tinggi dengan awan, tak ada lagi sisa pemandangan yang dikenali. Semuanya berganti perkebunan tanpa belukar berjenggala.

Untuk  menyebut hamparan subur itu sebagai kampung mereka rasanya tak lagi pas. Sebab si lawas yang sejak lima tahun terakhir pensiun dari jabatannya itu kini jadi tuan tanah di jejak purba nenek moyang mereka. Sebagian besar tanah di kampung yang dahulu adem itu dikangkangi tanpa pernah dirampas secara paksa.

Wargalah yang suka dan rela berduyun-duyun ke depan lutut pria itu. Memohon ketinggian budi lelaki penuh lemak itu, sedang mereka tak pernah sadar itulah pemandangan yang merendahkan harga diri. Serendah-rendahnya di depan orang yang sebentar lagi akan menjadi tuan mereka.

Dan, di suatu malam yang benderang oleh purnama yang melintas di atas hamparan tanah luas itu. Lelaki itu menatap pucuk-pucuk pepohonan yang disiram cahaya rembulan. Menekuri kontur perkebunan yang buram dan begitu jauh pandangan.

“Aku ingin mengganti nama kampung ini dengan namaku sendiri, bagaimana pendapatmu Dul?” Pertanyaan itu menyentak keriangan malam. Orang yang diajak berbicara hanya sanggup merangkai kalimat datar. Sedatar pikiran orang-orang kampung yang kini mengumpulkan  penyesalan tiada henti.

“Terserah sama Puang saja, mana yang baik,” jawab laki-laki yang dipanggil Dul itu tanpa ekspresi. Matanya hanya mencoba menyingkap gelap yang disisakan cahaya bulan di tempat itu.

“Dul, kamu masih mendengar saya?”

Yang dipanggil Dul, lalu mengheningkan diri. Ia sedang menggigil dalam kecemasan, dan menyesal di tepian waktu. Nama kampung tempatnya dilahirkan bakal segera diganti dengan deret huruf mengeja nama tuannya yang bau tanah itu. Dalam lautan diam ia hanya meremasi sarung jambia yang diselip dipinggangnya.

Matanya mulai nanar. Laki-laki yang dikirim kepongahan itu benar-benar jadi tuan di tempatnya kini mematung.  (*)

Ket: Jambia: Badik khas Mandar

 

Mamuju, 9 Oktober 2009    

 

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s