Tagihlah Kambacong di Akhirat

PEDIH rasanya. Ketika membaca pesan pendek tentang seorang saudara yang dicap sebagai warga miskin. Siapa tidak terenyuh saat tahu bahwa pemilik surat keterangan miskin itu hingga menjelang ajalnya, masih harus mengemis di depan apotek yang mengais untung di rumah sakit milik negara. Tak tahu untung!
Tengadah tangan sebagai tanda tak berdaya, tak juga mampu meluluhkan hati siapapun. Harus dengan cara apa untuk bisa dihargai sebagai manusia. Kambacong, akan menjadi saksi di hari kemudian betapa Kita tak memiliki perikemanusian sebagai mahluk bermerek manusia. Betapa kita lebih miskin dari Kambacong.
Mungkin hari ini ia telah mengadukan itu kepada Tuhannya bahwa di RSUD Polewali Mandar setengah bulan terakhir ia sangat disia-siakan. Kambacong telah dicap sebagai manusia semiskin-miskinnya untuk tak boleh diberi kesempatan menghirup udara lebih lama. Karena ia terlalu miskin, tak punya apa-apa ataupun siapa-siapa. Padahal Kita bisa lupa siapa yang miskin sebenarnya?
Andai Kambacong keluarga pejabat dengan tanda eselon tertentu. Saya bertaruh bahwa pihak RSUD atau petugas apotek dan PMI akan lebih mudah percaya. Tidak akan memicingkan mata. Sebab manusia sering hanya dinilai ketika ia datang dengan pernak-pernik kefanaan. Simbol-simbol dunia yang pasti ditinggalkan itu.
Bila Kambacong datang dengan gigi emas, dan menenteng kartu miskin, petugas di sana akan lebih sigap. Kalau perlu ada yang menghamba-hamba, dan tiarap di lantai rumah sakit. Tak ada tolak pinggang. Karena demikianlah nilai manusia yang melacikan makna kemanusiannya. Sadisme pada gakin memerlukan evaluasi pada seluruh jajaran siapapun orangnya. Adakah yang peduli?
Tetapi apapun itu. Lelaki uzur dari Majene dengan nomor kemiskinan … telah berpulang. Demikian kronik dari tanah air yang hanya mengagungkan slogan gratis kesehatan bagi warga tertentu, tapi tidak untuk orang miskin! Rupanya Kita harus makin waspada bila tiba-tiba jatuh sakit. Saya membayangkan kira-kira bagaimana nasib orang yang tak memiliki keterangan miskin, tentu akan lebih malang dari Kambacong.
Semiskin-miskinnya Kambacong, sesungguhnya ia sedang dicoba Tuhan untuk bertahan atas perlakuan buruk sesamanya. Hari ini ia sedang duduk termangu melihat sejumah orang yang panik untuk mencari jalan keluar. Hari ini ia juga sedang melihat sejumlah orang yang lupa memasang label miskin di hatinya.
Ia mungkin miskin secara materi, tapi ternyata ia kaya ketulusan. Ia ternyata kaya nilai kesabaran dalam menerima perlakuan sejumlah orang yang miskin kalbu. Pernahkah orang-orang itu berpikir bahwa gaji yang mereka susui setiap bulan, antara lain hasil perahan negara pada orang-orang yang juga relatif miskin hidupnya.
Dari drama Kambacong, ada pesan tunggal yang ingin disampaikan. Apa itu? Koar-koar janji, dan pemanis saat kampanye mengenai layanan dasar kesehatan yang gratis adalah kebohongan semata. Sebaiknya strong poin semacam itu dihapus saja dari visi dan misi pemerintahan. Itu hanya melukai etika sosial Kita.
Apa yang bisa kita petik dari semua ini. Sebab tragedi yang menimpa Kambacong hanyalah segelintir dari segumpal kekacauan catatan kemiskinan yang pernah dibuat. Persentase kemiskinan di daerah ini rupanya tak menjangkau Kambacong, buktinya nomor cap kemiskinannya ternyata tak pernah diakui lembaga yang sama-sama dibentuk oleh negara.
Pijakan utama seharusnya adalah negara tak boleh melakukan pembiaran bila ada warga yang harus meregang nyawa karena nasibnya dimiskinkan negara. Kita ini sesungguhnya milik negara atas jaminan Undang-Undang Dasar 1945 pada layanan kesehatan memadai yang memberi rasa hormat pada kita sebagai manusia.
Penolakan pihak apotek RSUD, apalagi lembaga sosial semacam PMI untuk memberikan darah merupakan bencana kemanusian. Ini jelas bertolak belakang dengan misi yang diemban PMI. Pelajaran ilmu sosial yang kita kecap sejak SD rupanya buntu di titik ini. Apakah PMI telah beralih ke kapital? Maaf, bila saya tak tahu bahwa lembaga ini telah berganti patron.
Harga manusia pun makin murah saja. Bila PMI saja secara faktawi menolak memberikan darah kepada Kambacong, maka nyawa Kambacong ketika itu ternyata hanya senilai satu kantong darah. Saya yakin di Polewali Mandar atau di Majene akan ada dermawan yang bisa menebus harga Rp105 ribu untuk setiap kantong darah.
Sejawat saya yang mengirim SMS tiga hari sebelum kematian Kambacong, juga mengirim pesan pendek ketika dini hari kemarin Kambacong menerima tamu agungnya, malaikat Israel.
Kambacong memang telah pergi, yang ditinggal seharusnya makin mengasah setiap sudut kepekaan. Pemerintah daerah yang masih menuliskan layanan kesehatan gratis bagi siapapun di program tahunan, sebaiknya menimbang-nimbang untuk menghapus lema tersebut. Program itu ternyata hanya makin mengaratkan makna kemanusian sejumlah orang.
Pengabaian pada Kambacong adalah luka sosial, yang tak akan pernah sembuh. Sebab di luar sana tentu masih ada warga yang bernasib sama. Untung saja mereka tak harus datang mengemis ke apotek RSUD atau ke PMI, sebab terlanjur terkapar sebelum disentuh layanan kesehatan gratis yang bongkar-bangkir.
Bila Kambacong, misalnya, harus berhutang karena makan obat dari apotek RSUD, dan terpaksa meminum amis darah dari PMI untuk menyelamatkan hidupnya. Siapa yang harus ditagih? Siapa yang harus dituntut! Siapa yang harus menebusnya?
Jawabannya adalah Negara yang menggaji petugas di apotek, dan mereka yang [katanya] bekerja untuk PMI. Abdi negara yang jumawa mungkin lupa bahwa orang-orang miskin itu Kekasih Rasulullah. Kalian bisa menagih Kambacong di akhirat nanti. Paham! (*)

Senin, 21 April 2008

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s