Sumpah Pemuda, Jejak di Atas Pasir

Sumpah Pemuda. Dua kata yang menjadi penanda waktu bahwa para pemuda di Indonesia memiliki peran yang tak bisa dipandang remeh. Dalam lipatan sejarah yang panjang, republik ini rupanya digagas oleh mereka yang berusia muda di zamannya.

Semangat yang menyala untuk merdeka, telah membius keanekaragaman Nusantara pada paruh tahun 1928. Momentum yang terus berderak hingga berusia 82 tahun hari ini. Jika sumpah pemuda itu diibaratkan sebagai seseorang, maka tentu akan demikian sepuh bila terus menghirup udara di zaman ini.

82 tahun perjalanan Sumpah Pemuda dilimpahi orde yang berganti-ganti, pemimpin yang beragam karakter, dan juga sumpah serapah rakyat Indonesia atas nasib bangsa yang belum juga membaik. Memang telah terjadi perubahan dari waktu ke waktu, tetapi itu tidak signifikan bagi rakyat yang terbelenggu kemiskinan turun-temurun.

Merujuk pada tahun 1908, sebagai asal mula semangat ini, pergerakannya masih didesain hati-hati, dan tertatih. Tak mudah merangkai semangat di bawah pengawasan penjajah dan antek-anteknya. Tapi gerbong itu terus berjalan, hingga mencapai tahun 1928 sebagai deklarasi nama Indonesia.

Waktu itu di Waltervreden (sekarang Jakarta) lagu Indonesia Raya telah diperdengarkan WR. Supratman di tengah-tengah 80 orang pemuda-pemudi Indonesia, dan empat orang peninjau dari timur asing. Panitia dan peserta Soempah Pemoeda dari jong-jong se-Nusantara itu membenamkan pasak bumi tentang kebhinekaan yang melebur satu.

Semangat yang mengikat dari Sumpah Pemuda inilah yang kemudian memberi porsi yang luar biasa, hingga tahun 1945, kalangan pemuda kembali menunjukkan emosinya, agar republik ini segera diproklamasikan. Berterima-kasihlah kita kepada guru sejarah di sekolah yang dahulu mengajarkan tentang hal ini secara meyakinkan.

Momentum tahun 1966 saat orde lama runtuh, hingga 1998 saat orde yang menggantikannya bernasib sama, juga dimotori mahasiswa dan kalangan pemuda. Gerakan perlawanan terhadap tirani di negeri sendiri ini menggumpal bak bola salju, yang makin lama makin membesar. Berhentikah sampai di situ?

Tahun 2010 dinamika politik dan kebangsaan secara luas juga terus digelorakan anak-anak muda di Indonesia. 12 tahun pasca refeormasi rupanya belum cukup untuk membawa bangsa ini ke arah yang lebih ideal. Apakah sesungguhnya yang dicari kalangan muda hingga terus berada di garis depan pada setiap upaya untuk menata republik ini?

Bangsa ini telah melahirkan jejak yang begitu panjang bagi lahirnya pemuda (i) dengan karakter yang berbeda-beda. Atmosfir tahun 1908 tentu berbeda dengan iklim politik tahun 1928, pun dengan suasana heroik di tahun 1945, apalagi ketika bangsa ini dirundung bencana sosial-politik tahun 1965/1966. Konteks itu juga bersisian dengan karakter anak muda Indonesia tahun 1998, apalagi di tahun 2010 ini.

Kilas balik ini hendaknya mengembalikan kesadaran kita bahwa pemuda selalu memiliki kesempatan yang terbuka di zamannya.

Persoalan akhirnya sisa dikembalikan ke pemuda itu sendiri, peluang di era yang sedang dihadapi mau dibawa kemana. Sebab selalu ada dua pilihan, tetap berjuang dengan semangat ala pemuda yang pro kepentingan bangsa, atau menempuh alur pragmatis karena hendak mengail uang receh!

Apa yang membuat kaum muda dan kaum tua selalu berbeda pandangan? Hal ini sering diperdebatkan, karena semua momentum selalu dialamatkan ke kaum muda. Salah satunya adalah sikap pemuda yang progresif, terbuka dan menguasai informasi. Keadaan ini terjadi pula saat momentum proklamasi yang kala itu mendapat pertentangan.

Desakan pemuda saat itu diawali karena mereka lebih awal mengetahui takluknya Jepang, sedang yang lain belum mengetahui kabar itu secaraa jelas. Itu sebagai misal. Hingga tak mengherankan kedudukan kaum tua seringkali didudukkan pada kursi status quo.

Lalu apa yang bisa dipetik bagi Sumpah Pemuda kali ini. Yang pasti UU Kepemudaan telah membuat garis besar bahwa mereka yang disebut pemuda adalah yanag berusia di bawah 30 tahun. Berarti di atas usia itu bisa disebut pemuda yang dewasa! Karena usia 30 tahun hingga 40-an itu belum tampak terlalu “tua’ dalam pendekatan semangat dan apapun yang masih bisa bergelora.

Lihat saja bagaimana tagline atau ungkapan tentang kata muda dan pemuda yang berseliweran setiap kala. Apakah jelang pemilukada atau apapun yang dinilai bisa memicu semangat untuk terus melakukan hal-hal yang baru atau berubah dari awalnya. Fakta ini memperlihatkan bahwa jargon pemuda itu sebuah daya tawar yang baik. Sebab pemuda identik dengan semangat dan visinya yang bisa menjangkau masa depan.

***

Pesan tunggalnya, pada setiap zaman pemuda selalu menempati posisi dan kedudukan yang diperhitungkan. Ketika Soempah Pemuda dibacakan, pada teksnya tidak dicantumkan nama Soegondo Djojopoespito, sebagai ketua panitia agenda besar itu. Saat proklamasi diumukan para pemuda pun mengambil tempat secara elegan dan lebih mendorong dua tokoh, Soekarno-Hatta sebagai wakil bangsa ini.

Hikmah paragraf di atas tentu amat besar, dan hanya bisa kita diskusikan hari ini. Namun, mereka yang disebut pemuda pada zaman yang bergerak amat cepat ini, diharap tetap bisa meneguhkan diri sebagai pejuang-pengawal; pendebat zaman; pemberi solusi; peniup peluit bila terjadi pelanggaran; bukanpengekor; apa lagi hobi ikon kemapanan.

Pemuda pada setiap waktu terus dilahirkan. Benarlah ungkapan mati satu tumbuh seribu, sebab pekerjaan untuk terus menjaga martabat bangsa ini tidak boleh berhenti ketika seremoni sumpah pemuda itu disudahi, atau memuai setiap kali ragam dialog dan diskusi selesai di warung-warung kopi, atau dimana pun. Pemuda senantiasa tumbuh dan hidup.

Catatan ini bisa menjadi alat untuk menekuri setiap jengkal jejak sumpah pemuda. Sebab dahulu mereka yang disebut pemuda berjuang sungguh-sungguh untuk menempa dan menemukan jati dirinya. Kini bagaimana? Jawabannya, tidak sedikit diantaranya yang hanya sibuk memerah peluh untuk memperbaiki diri (?)

Arkian, semoga semangat Sumpah Pemuda tahun ini, tidak hanya dimaknai apa adanya. Hingga noktah sejarah itu bagai jejak di atas pasir. Taweq! (*)

Mamuju, 27 Oktober 2010

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s