Sipaendongang

Oleh Adi Arwan Alimin

Riak ombak terus mendesak pasir memanjang di pantai Palipi. Purnama yang telah lewat beberapa malam menghitamkan semua yang tersapu siraman kegelapan yang tidak hanya datang dari pegunungan Sendana, tetapi juga berpendar dari teluk Mandar. Langit yang kehilangan gemintang seperti cangkang raksasa menyelimuti semua batas pandang. Gelap.

Dua pasang langkah terlihat bergegas meninggalkan jejak pasir yang sebentar saja disapu gerus air laut. Langkahnya kian cepat ketika seorang sawi perahu memanggil-manggil penumpang kapal yang masih mengurus perut mereka di warung-warung di ujung dermaga. Sebentar-sebentar lirikan mereka menapis jejak malam yang dipunggungi dengan napas tersengal.

“Mereka akan menemukan kita,” gusar laki-laki yang menggandeng tangan perempuan disampingnya. Genggaman yang mengguratkan cemas.

Ketika di dermaga, matanya tidak pernah melepaskan sorot tajam pada setiap orang yang berjalan cepat menuju tempatnya berdiri, walau ia menyembunyikan wajahnya dalam kain panjang yang dililitkan sebagian di leher. Sesekali ia menjatuhkan pandangan bila bersemuka dengan beberapa orang. Ia amat kuatir bila keberadaannya di labuhan itu akan diketahui siapapun. Setiap orang yang hilir-mudik di sana diguliri kecurigaan seperti yang menyembul dari kelopak mata lelaki ini.

“Jam berapa kapal ini berangkat?” Tanyanya pada seorang anak buah kapal yang melintas.

“Sebentar lagi, bila surat-surat jalan telah selesai diperiksa,” jawab laki-laki berotot yang sibuk mengurus arus penumpang, diantaranya ada yang melompat dari bibir dermaga ke dalam perut kapal yang terus bergoyang-goyang seperti tak lagi sabar untuk membelah lautan. Kapal itu seperti berayun-ayun setiap kali ditetak kaki atau diganjar barang bawaan yang dilemparkan kuli begitu saja.

“Berapa jam ke Balikpapan?”

“Baru pertama kali naik kapal ini? Kalau cuaca bersahabat, besok malam kita akan sampai ke Kampung Baru, Balikpapan. 13 sampai 15 jamlah begitu, tidak pernah lebih cepat dari itu. Memang ada pak?” Selidik anak buah kapal itu lebih jauh. Yang ditanya malah lebih banyak mendiamkan keingintahuan sawi itu.

Angin bertiup kencang ketika kapal kayu itu meninggalkan pelabuhan Palipi. Pulau Idaman yang berada di sisi dermaga tak lagi tampak dalam kegelapan malam. Juga barisan pegunungan Puttaqda yang berdiri bak sosok raksasa yang melencangkan tangan ke kiri dan ke kanan. Lamat-lamat semua pemandangan dalam gelita itu berangsur dibenamkan lautan. Pelan-pelan kerisauan yang membekap dua pasang kaki yang beberapa jam lalu berlari-lari di sekitar pantai Palipi ikut ditenggelamkan gelombang teluk Mandar.

“Kita benar-benar pergi dinda,” kata laki-laki itu sambil memeluk perempuan yang melakukan hal sama di buritan kapal. Perasaan mereka kini terasa amat ringan, bagai buah kapuk yang berterbangan ditiup angin barat saat kemarau.

Beberapa penumpang terlihat berdiri dan masih memandangi kehampaan di ujung cakrawala yang kini membisu dalam terpaan gelombang yang datang bergulung-gulung dari tempat jauh.  Membiarkan rambut mereka dipermainkan udara laut yang menampari badan kapal kayu yang sedang bergelut memecah kelamnya lautan. Buih putih penuh desir meleret jauh dalam jejak malam yang segera lenyap.

Daratan Majene benar-benar telah hilang ditelan gelap, kecuali segaris ruas cahaya yang masih mencoba melawan amuk lautan. Beberapa jam kemudian sepasang kekasih itu menjadi titik paling kecil di alam raya ketika moda pelayaran laut itu terombang-ambing di antara daratan Sulawesi dan Kalimantan. Mereka pergi jauh.

***

Bumi petrodollar telah tampak dari jauh melalui obor meningggi dari kilang minyak yang menepi di sekitar pelabuhan Sepinggan. Adzan maghrib baru saja berkumandang dari televisi yang terus menyiarkan isi siaran dari sinetron hingga sepak bola dari belahan dunia lain, sejak kapal ini meninggalkan Palipi, malam kemarin. Belum ada lalu-lalang speedboat yang biasanya sibuk bukan main, seperti pemandangan yang ramai di pelabuhan Balikpapan selama ini.

Api yang menjulur-julur ke udara dan menyisakan sentuhan memerah di langit bagai semangat yang menyala di dada laki-laki itu. Semburat cahaya dari lampu-lampu malam juga telah menopang bentang langit Balikpapan. Namun tak ada lagu merdu sayang-sayang dari denting dawai kacaping Mandar yang mengiring pelarian asmara ini.

Sepanjang perjalanan menyusur gelombang yang kerap mengganas ia tidak pernah bisa memejamkan mata. Ingatannya terus memutar waktu yang baru saja ditinggalkannya. Bagaimana ia berusaha menjemput perempuan yang kini juga terus membangun semangatnya. Bagaimana ia akan merangkai lengkung hari-hari ke depan. Laki-laki terus meluruskan pandangan ke depan.

“Dinda, tanah harapan itu telah ada di sana, lihat api dari kilang minyak itu seperti liukan semangat yang menyambut kedatangan kita,” ujarnya pelan. Tunjuknya memandang cerobong api dari kilang minyak yang sepanjang tahun terus menopang langit dari jauh.

“Ya kanda. Tanah yang mungkin akan bisa menerima kita apa adanya,” Kalimat perempuan itu mengalir dalam belitan haru.  Ada yang menyembul dan terasa dingin dari kelopak matanya. Ia menangis.

“Jangan menangis, air mata itu akan membuatmu kalah dinda, lihatlah api yang menyala-nyala itu,” bujuk laki-laki itu menyapu bilur air yang hendak menggenang di pipi perempuan itu. Api yang menjulang tinggi di bibir pantai Balikpapan itu seperti obor penyemangat bagi siapapun yang hendak menanam keprihatinan hidup di kota ini.

“Apakah kanda benar-benar mencintai saya, dan tidak akan meninggalkan saya kelak?” Perempuan itu menggugat sepi yang berdiri sesaat diantara mereka. Kalimatnya ingin menenun kepastian yang sesungguhnya tak lagi perlu disemai pertanyaan.

Ia berusaha mencari sesuatu ditatapan lelaki yang telah membawanya dengan kepak sayap yang kini begitu tinggi ke udara. Menerbangkannya ke negeri lain, membuangnya dari tatapan ibu yang pasti sedang memenjarakan diri dalam jeruji air mata hingga tanah-tanah menjadi sembab. Melemparkannya dari tatap sang ayah yang tak pernah bisa menerima kehadiran lelaki lain dalam lingkar keluarga darah biru itu.

“Membawamu pergi adalah keberanian yang tidak terkira. Saya akan terus disampingmu dinda, hingga ajal itu menjemputku,” dipeluknya perempuan itu, sementara hembusan udara daratan kota minyak telah makin terasa.

Dikecupnya ujung rambut perempuan itu, ia seperti ingin menghisap segala yang bisa meluruhkan hatinya. Ia tidak ingin wanita yang dipeluknya itu kembali menjatuhkan air matanya. Wangi rambut perempuan itu mengalahkan aroma laut bercampur lelehan bahan bakar minyak di lepas pantai Balikpapan. Api yang menyala-nyala tak jauh dari dermaga itu kini membakar hatinya.

Begitu kapal motor “Ridha Ilahi” itu merapat di dermaga Kampung Baru, dua pasang kaki itu kembali bergegas dalam kerumunan penumpang dan kuli yang bertumpuk-tumpuk di pintu kapal bertonase besar itu. Uap bawang, kol, kotoran sapi, kencing kambing, dan derum mesin mesin bercampur baur saat semua pintu samping bahtera itu dibuka para anak buah kapal. Pantas saja perjalanan berjam-jam itu penuh aroma yang merangsang mual sebagian penumpang. Benar, beberapa penumpang tampak masih mengikat kepalanya dengan syal, atau masih mengisap botol remason saat berjalan dalam jejal manusia di dermaga.

Di sela ratusan mata orang-orang yang menunggu sanak keluarga yang baru saja merapat malam itu, beberapa pasang mata lelaki ikut mengawasi sepasang penumpang yang begitu tergesa-gesa meninggalkan pelabuhan tradisional itu. Dengan mata yang awas, tak satu pun aktivitas kedua anak manusia itu yang luput dari amatan mereka. Yang berada dalam intaian sejauh ini belum menyadari kejadian apapun yang bisa saja tiba-tiba menghadang mereka.

“Hei!”

Sontak kaki yang telah diseret penuh gegas dari dermaga itu berhenti. Panggilan itu menyadarkan keduanya bahwa sesuatu sedang akan dihamparkan di depan mereka. Apa mungkin kerabat Murni telah mengetahui kedatangan mereka di Balikpapan. Ribuan kerisauan segera menyergap pikiran laki-laki ini. Erat-erat ia menggenggam tangan perempuan itu seperti tak hendak melepaskannya semenit sekalipun. Ia berdiri dalam siaga sambil membelakangi lautan yang baru saja diarungi.

“Kamu yang bernama Badar?” Bentak seseorang yang berdiri diantara tiga laki-laki lainnya.

“Ya. Maaf, siapa kalian?”

“Tinggalkan saja perempuan itu di sini, dan kamu boleh segera pergi,” bentak seorang laki-laki lainnya.

“Ni, kamu mengenal salah satu diantara mereka? Tampaknya mereka akan menyulitkan kita,” bisik Badar dengan memasang kuda-kuda, ia menopang tubuhnya dengan gagah. Murni yang berada disampingnya menggelengkan kepala ragu-ragu. Tapi tetap berusaha meredam ketakutannya. Ia menggamit Badar.

“Murni, apa kamu tidak mengenal saya, pamanmu?”

Kalimat itu seperti lontaran meteor yang menghunjam dada Murni. Kata paman, yang didengarnya dari sesorang yang berdiri di bawah sinar lampu neon itu segera menuntunnya pada lembah masalah yang baru. Kubangan persoalan yang penuh lumpur menyemburkan hawa yang menggigilkan tempatnya berdiri. Ribuan tombak menyusul menancap dalam keterkejutannya.

“Saya paman Rustam, ayahmu memerintahkan agar kamu hanya sampai di sini. Biarkan laki-laki tidak tahu diri ini angkat kaki secepatnya,” ucapannya seperti derap ribuan pasukan berkuda yang menggetarkan tanah.

Kalimat itu melesat cepat dan menyayat pendengarannya. Bagaimana mungkin ia akan membiarkan Badar berlalu seorang diri, sedang dialah yang membantu laki-laki itu membenihkan keberanian untuk meninggalkan kampung mereka. Dialah yang …

“Hei, Badar, anak gadis kami hanya pantas dipinang laki-laki yang sesuai. Kami tidak perlu memperpanjang lidah di tempat ini, jadi pergilah kemana engkau suka, tapi tinggalkan Murni di sini,” pria bernama Rustam itu kembali melempar sahutan yang meninggi.

“Tidak. Murni akan tetap bersama saya, kemana pun saya pergi, jangan menghalangi langkah kami,” tak ada nada ketakutan yang melintas dalam kalimat itu.

“Baiklah, berarti kamu sedang menawarkan sesuatu, kami akan membelinya. Ingat kami telah meminta ini secara baik-baik, berpikirlah sebelum terlambat,” sambut Rustam.

Pria itu memberi aba-aba pada dua laki-laki yang berdiri di sampingnya. Keduanya segera menggeser langkah lebih lebar dan berusaha mengepung Badar. Pemandangan ini mulai menarik perhatian orang-orang di pelabuhan. Situasi yang sibuk bertambah ramai. Bunyi sirene dari pojok pelabuhan bagai dentang gong memekak telinga.

***

Bertahun-tahun setelah kejadian di dermaga itu. Mereka benar-benar telah dilupakan kampung yang sempat geger ketika seorang anak gadis dan pemudanya tiba-tiba tak pernah lagi kelihatan. Tetapi rasa malu yang ditanamkan sejoli itu masih mengental. Aib sipaendongang hanya bisa ditukar dengan lipas. Mencabut semua hak untuk mendapatkan tempat di dalam keluarga konsekuensi yang mesti ditanggung siapa pun yang melangkahi ketidakbiasaan ini.

Murni membelai kepala anaknya yang telah memberinya selaksa kerinduan untuk kembali sekadar menyapa tanah kelahiran. Namun ribuan kenegerian lain mengepungnya. Ia tak kuasa membayangkan Badar akan menerima ganjaran karena telah melarikan seorang perempuan dari lingkaran keluarga yang masih menjunjung adat. Untung saja Rustam, paman dari ibunya, melenturkan sikap kerasnya hingga Badar lepas dari pencarian mematikan kala itu.

***

“Badar, kali ini saya masih memberimu kesempatan. Tapi saya tidak pernah ingin mendengar kamu menyia-nyiakan tanggung jawab ini.” Kata-kata itu membalut tanggung jawab Badar dihadapan Rustam, yang entah karena kekuatan apa, kebengisannya sebagai jagoan dari Selatan seketika luluh, di depan Badar dan Murni. Tangannya yang semula dijalari kemarahan hingga setiap urat nadinya mengeras, berangsur-angsur menjadi pelukan hangat bagi Badar dan Murni.

Sejak Badar dan Murni meninggalkan dermaga itu belasan tahun lalu. Keduanya tak lagi pernah bersama menjejak areal pelabuhan yang menjadi pintu pertama untuk kembali ke tanah kelahiran. Hanya Murni yang selalu datang memintal waktu yang telah tercerai-berai menjadi rajutan dalam lembaran hidup yang baru di tanah rantau.

“Kenapa kita selalu datang ke tempat ini Ma?” Pertanyaan dari anak lelakinya selalu mengundang rasa sejuk di kelopak matanya. Selalu ada yang ingin tumpah dari sana.

Murni hanya memandangi suasana pelabuhan yang kini makin ramai dan sesak. Dermaga itu tak lagi didatangi kapal-kapal kayu yang mondar-mandir dari dan ke Mandar. Kini semuanya telah berubah. Sebuah feri yang setiap hari bersandar di tempat itu, seperti nyiur yang melambai-lambaikan kerinduan untuk mengajaknya pulang. Kembali ke tapak kaki ayah dan ibu yang kini kian berumur untuk menetak kata maaf.

“Ma, kenapa mama menangis?” (*)

Balanipa, 24 Februari 2010.

Ket:

  1. Sipaendongang adalah tindakan yang biasa ditempuh pria dan wanita untuk lari dari keluarga, karena tidak mendapat restu. Biasanya mereka baru akan kembali dalam hitungan puluhan tahun, sampai peristiwa itu benar-benar dianggap dilupakan keluarga. Ada juga yang memilih untuk tidak kembali lagi ke kampung halaman.
  2. Lipas merupakan sumpah yang diucapkan orangtua di Mandar terhadap anaknya yang melanggatr aturan, dengan konsekuensi sang anak biasanya dikeluarkan dari garis keturunan, atau kehilangan hak waris dari orangtua.
  3. Sawi adalah anak buah kapal.
  4. Sayang-sayang jenis kesenian tradisional di Mandar
  5. Palipi nama sebuah pelabuhan antarpulau di Kabupaten Majene, Sulbar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s