Perempuan yang Menikam Rembulan

Oleh Adi Arwan Alimin

Najib hanya duduk seorang diri, hening di ruang tamunya. Sejak beberapa hari, tak ada suara kesibukan dari bilik dapur. Tak ada panggilan sayang untuk sarapan pagi atau makan malam. Semuanya lenyap bersama rasa hampa. Wangi bumbu masak mengundang selera yang menjalar dari ruang dapur tak lagi mengapung-apung di udara.

Pikirannya mengembara ke pucuk-pucuk waktu. Tiada ada apapun yang kini menemaninya duduk di ruang tamu itu, selain sepasang kursi tamu yang dibeli jelang lebaran tahun lalu, dan seonggok bufet yang penuh asesoris berupa patung-patung, manik-manik atau benda mungil berupa-rupa yang kini dilekati debu. Benda-benda kecil itu seakan ingin mengajaknya berbicara tapi mulut dan matanya hanya terbuka tak mendesis apapun.

Laki-laki itu menerawang masa silam dengan sisa umurnya yang terus berjalan. Di depannya ada kalender bergambar calon anggota dewan perwakilan rakyat daerah penuh tanggalan menemaninya menghitung hari. Beberapa hari dan angka-angka disilangnya dengan spidol bertinta merah. Itulah adalah jumlah hari selama induk keriangan di rumahnya ini pergi. Meninggalkan semua yang pernah ditoreh sekian dekade.

Pikirannya membentur langit-langit. Ia berusaha menggamit semua kenangan terlintas dengan memejamkan mata. Nafasnya yang panjang-pendek diaturnya sedemikian agar tidak membuatnya sesak menyisir setiap lorong waktu yang telah lewat. Ia sama sekali tidak ingin dianggap tak sempurna akal orang sedesa karena terus berdiam diri.

Bagaimana mungkin perempuan yang telah bersamanya merenda hari-hari yang diselipi kerinduan untuk menimang buah hati itu menikamnya hanya dengan satu kelebatan amarah. Ia pun membuka-buka lembaran album foto yang memuat dirinya kala muda, saat bersanding dengan perempuan yang dinikahinya dengan siraman lagu-lagu rebana dan kalindaqdaq.

Ya, dulu perempuan itu memang menyerahkan dirinya karena tak kuasa mengurai kebiasaan lingkungan keluarga yang tak ingin ada orang lain lebih cepat meminangnya. Idenya untuk melarikan diri tak pernah bisa mencapai kehendaknya, hingga hanya diam seribu bahasa saat ditanya, apakah ia telah siap menikah atau ingin menolak suntingan. Sementara diam bagi perempuan berarti setuju putusan keluarga.

Tanpa apa yang disebut masa pacaran, Najib dan Darmi lalu duduk di pelaminan berlantai karpet dan ambal dari Mekkah. Najib sepanjang pesta dibekap senyum, sedang mempelai perempuan bersembunyi dibalik kipas bulu kasuari saat perjamuan malam digelar dengan mengundang ribuan undangan.

Sejak itu, pada puluhan tahun berselang hingga ia pergi beberapa hari lalu, kerinduannya untuk menggendong seorang anak yang lahir dari rahimnya tak juga membuatnya pernah tersenyum. Pangkal inilah yang memicu keriangan yang pernah ada itu kini mengunci Najib dalam kekalahan sebagai laki-laki. Kerak menahun yang kini menyisakan gumpalan menggigilkan.

***

“Saya tidak pernah memintanya pergi,” jawab Najib setiap kali ada orang yang bertanya kemana istrinya pergi.

Laki-laki ini hampir selalu kehilangan jawaban bila bersemuka dengan banyak orang yang mengalungi keingintahuan tentang Darmi. Mengapa mereka seperti memiliki kekuasaan untuk terus menunggu mengalirnya jawaban yang sangat berat itu, gerutu Najib dalam kedongkolan. Apakah karena Najib menjadi bagian dari warga yang hidup di tengah lingkungan sosial yang masih sok peduli, atau hanya sekadar ingin mengejek kesialan satu sama lain. Pertanyaan-pertanyaan yang dibenci itu dianggapnya hanya sebagai satu keisengan tetanga untuk mengembangkan cerita dari mulut ke mulut agar tak pernah kehilangan topik yang menarik.

“Pintu rumah juga tidak pernah tertutup untuk ia datang kapan saja,” sambungnya lagi bila pertanyaan terasa menyudutkannya di ring kegamangan.

Bagi Najib, sebagian warga serasa tak bosan. Dimana-mana ia selalu dihadang pertanyaan-pertanyaan yang sama, meski ia seringkali berusaha menghindar. Baginya keingintahuan itu dinilainya sebagai ejekan yang disertai semprotan ludah ke wajahnya.

“Tapi kenapa tak berusaha membujuknya?” Bunyi pertanyaan senada yang mendidihkan ubun-ubun Najib.

“Saya tidak merasa mengusirnya…” Kalimat itu menjadi kastil penuh bebatuan tempatnya berlindung dari serba ingin tahu keluarga dekat. Ia merasa heran mengapa semua orang seperti ingin menguliti borok yang menjangkiti keluarga kecilnya. Semua orang baginya seakan-akan sebagai anggota detasemen khusus yang sedang mengajukan pertanyaan-pertanyaan layaknya sedang memburu otak kejahatan.

Usai menjawab pertanyaan-pertanyaan sejurus itu Najib selalu bergegas pulang ke rumahnya. Ia kuatir bila gelegar pertanyaan orang-orang itu akan melingkar atau melengkung menjadi pelangi berwarna-warni di kepalanya. Ia sebenarnya sangat ingin berteriak sekeras-kerasnya ke udara, tapi Najib kuatir, itu malah akan memicu pertanyaan-pertanyaan baru yang bisa menambah diskusi interaktif di warung-warung. Atau ia akan dianggap mulai tak waras.

Yang lebih menyakitkan lagi sebab ada kabar, istrinya pergi tak pamit bukan hanya karena soal tak adanya keak anak bayi yang bisa mereka lahirkan di rumah mereka, tetapi juga menguapnya desas-desus kehadiran laki-laki lain yang merebut hati istrinya, Darmi.

Soal yang terakhir ini membuat Najib seperti mendapat kiriman halilintar yang memekakkan gendang telinganya. Ia tak tahu akan menyembunyikan wajah dimana. Bila itu benar-benar terjadi kiamatlah semua jejak malam yang penuh dengus itu. Tapi dengan laki-laki yang mana, sungutnya mencari tahu di kegelapan.  Tak pernah rasanya Darmi berkenalan dengan lelaki lain selama ini. Pikir Najib dalam-dalam.

Apakah ini ada hubungannya dengan segala macam pesan singkat yang masuk ke telepon genggam istrinya. Atau, apakah ini berhubungan dengan seringnya Darmi menelepon diam-diam kala malam mengirimnya ke alam mimpi. Najib rupanya merasa lalai dan dibekap sesuatu yang telat, mengapa selama ini tak berusaha membesarkan rasa ingin tahu tentang dering telepon yang hanya sering bergetar itu.

Perasaan itu ingin dibuangnya sampai jauh. Tetapi selaksa keraguan ikut memuaikan pertanyaan dan rasa ingin tahunya yang lain. Terlambat.

***

Najib tak lagi begitu percaya diri berkeliaran dengan sepeda motor di jalan-jalan desa. Semua orang baginya seakan sedang memasang teropong yang bisa menguntit atau melihatnya lebih dekat. Sejak ia tak lagi pernah membonceng istrinya yang selama ini duduk mesra di sana, dunia serasa bagai bentang daun kelor, sangat sempit. Dimana-mana ia selalu merasa sangat gampang bertemu siapa saja yang sebenarnya tidak begitu diinginkannya.

Ketika orang sibuk menggunjingkan dirinya yang tak mampu memberikan cucu bagi mertuanya, itu sama berarti sebuah tikaman jambia yang mengarah ke ulu hati. Itu juga dapat mengandung pengertian yang selaras bahwa ia sebenarnya tak layak berlabel pejantan. Sebab ia tak sanggup melabuhkan satu pun riak malam di rahim Darmi, setelah sekian tahun pelayaran yang tak pernah bergelombang besar.

Tuduhan sebagai pria tak perkasa telah mendudukkannya amat letih akhir-akhir ini.

“Apakah aku memang tak perkasa?” gumannya suatu waktu.

Najib kian putus asa. Sejak istrinya pergi, ia sama sekali tak memiliki akses yang bisa menghubungkannya dengan perempuan yang telah menikam kesetiannya itu. Darmi sepertinya sama sekali tidak hirau pada setiap anak tangga zaman yang ditetak puluhan tahun. Telepon genggamnya tak lagi pernah merespon panggilan.

“Bila soal anak yang terus diperdebatkan, bukankah kita telah mencobanya selama ini?”

Argumen yang terus berulang disela debat kecil bersama istrinya. Najib selalu kekeringan jawaban bila istrinya kembali mengungkit pedang kegelisahan yang begitu tajam itu.

“Tapi orang lain ingin melihat kita menimang buah hati,” desak Darmi suatu malam.

Di sisi dipan kayu jatinya perempuan itu menangis.  Ia menggerutu pelan dalam selimut yang membungkus tubuh gempalnya. Tangannya meremukkan bantal yang hanya menjadi saksi setiap pertempuran hati yang tak pernah tuntas. Lelaki tempatnya menyerahkan segala kepasrahan sejak bertahun-tahun itu berdiam diri di punggungnya.

“Seharusnya engkau melihat sisi yang lain. Tidak hanya soal kelahiran anak yang bukan kuasa kita,” ujar Najib di meja makan, esok paginya. Sejauh itu Najib menganggap fragmen silang kata di kamar tidur itu masih sebagai dinamika biasa-biasa saja.

Darmi hanya diam sambil menyuapi mulutnya dengan sarapan. Petang harinya perempuan itu tak lagi pernah bertemu Najib. Tak ada jejak yang menyeret kecurigaan Najib bila istrinya itu akan melakukan tindakan nekat. Sebab semalam masih ada pergumulan pelik yang berakhir tanpa lenguhan seperti malam-malam yang lalu.

Mulanya, Najib menyangka Darmi sedang bermain ke tetangga. Tapi sampai maghrib usai, dan jamaah isya bubar di masjid, Najib mulai sadar bahwa sesuatu tengah merubungnya di rumah yang cukup megah bagi orang-orang di desa. Ancaman dalam teriakan-teriakan yang terjaga di rumah mungkin sedang berlaku.

Ia membuang badannya di kursi tamu saat kembali dari setiap rumah tempatnya mencari perempuan yang sangat dicintai itu. Dibiarkannya pintu depan terbuka, sampai hangat udara pagi memasuki rumahnya, Najib baru sadar, kali ini ia sedang tidak bermimpi. Ada yang telah pergi dari hatinya.

***

“Saya tidak bisa menghubunginya sama sekali,” adunya pada Kadir, saudara sepupunya yang masih kerabat jauh Darmi.

Kadir sadar tidak memiliki ruang lebih luas untuk memasuki wilayah itu. Guratan wajah Najib dilihatnya bertambah rapuh. Usia yang menua menggenapi setiap tatapannya yang kuyuh. Mungkin lelaki ini tidak pernah tidur, tebaknya.

Sejak Najib benar-benar tak bisa menghubungi, apalagi menemui Darmi. Lelaki itu saban malam tak pernah memadamkan lampu di rumahnya. Sinar benderang dari rumah di dekat simpang desa itu membuat jalan yang semula remang menjadi terang. Kelakuan Najib pun berubah. Setiap pagi ia kelihatan berpakaian rapi entah akan kemana, lalu menyetel motornya menuju jalan yang paling jauh.

Ia baru kembali bila rembang senja mulai memeluk malam. Setelah itu ia akan terus berada di dalam rumah dengan tidak pernah mengunci pintu depannya. Warga merasa keganjilan ini berasal dari melimpahnya kecintaan Najib pada Darmi. Tapi baginya sangkaan itu hanyalah tuduhan tak bermata karena mereka tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Namun sia-saia saja sebab publik selalu merasa lebih pintar, ibarat penonton yang tetap lebih jago dari pemain sepak bola.

***

“Kembalilah ke rumah,” ajak Najib ketika dua keluarga mempertemukan mereka untuk mendamaikan suasana.

Orang-orang hanya terdiam saat kalimat itu mencoba mencairkan pilihan Darmi yang membeku. Orang-orang tidak ada yang berani menyela atau merajut kata diantara dua manusia yang semula sangat adem dan saling menyayangi itu. Darmi yang menjadi tujuan ajakan itu menekuri lantai ubin rumah pamannya. Ia seperti tak memiliki kemauan untuk memandang wajah suaminya.

“Saya tak lagi pantas berteduh di sana, apalagi menemanimu mengisi malam di bawah sinar rembulan itu,” jawab Darmi pelan. Pandangannya jatuh ke kaki laki-laki yang masih mengajaknya pulang.

“Tapi saya tetap mengharapkanmu.” Najib berusaha mendekat, tetapi ia segera sadar dan mengurungkan tangannya. Ia ingin menjangkau Darmi.

“Tidak, saya telah menikam bayanganmu,” balas Darmi, menghindar bujuk yang mengalir tulus dari Najib. Ungkapan itu membuat Najib tak lagi berusaha memilih diksi untuk menggamit perempuan itu.

Ia berusaha menatap perempuan itu sekali lagi. Di sana memang tak ada lagi selarung tempatnya bisa berjalan di pematang waktu. Kelopak mata itu mulai gersang, tak ada tempat untuk menimba rasa saya di telaga yang kering. Setelah itu Najib pulang. (*)

Mandar, 26 Februari 2010

   

Keterangan:

Kalindaqdaq atau seni pantun khas Mandar, Sulawesi Barat

Jambia adalah badik khas Mandar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s