Pemuda Politisi, Mau Kemana?

“Kesetianku pada partai politik berakhir, bila kepentingan negaraku memanggil.” Demikian mantan Ketua Umum Pusat, Tarman Azzam, mengutip Abraham Lincon Presiden Amerika Serikat saat berbicara dalam rapat terbatas di ruang rapat Gedung Dewan Pers, Jakarta, Ahad malam, 26 September 2010.

Kalimat itu menyemangati peserta pertemuan yang datang dari berbagai cabang PWI di Indonesia, juga pengurus Masyarakat Pemantau Pemilu-PWI (Mapilu-PWI) yang saya wakili. Penulis bersama wartawan tiga zaman, Andi Sanif Atjo, sebagai Ketua PWI Sulbar, dan Kepala Kesbangpol Sulbar, Syahruddin Hardi. Rapat berlangsung dalam suasana cair, akrab dan bernas ala wartawan.

Agenda ini terkait dengan rencana Mapilu-PWI Pusat yang akan menggelar Pertemuan Pemuda Politisi di Parlemen Indonesia, awal November tahun 2010. Gelaran itu akan menghadirkan 1.800 politisi di bawah usia 30 tahun yang kini duduk, dan memangku jabatan di sejumlah dewan perwakilan rakyat di republik ini.

Untuk mematangkan rencana besar yang diklaim sebagai pertemuan “Sumpah Pemuda” pascakemerdekaan itu, Senin, 27 September 2010 kemarin, jajaran PWI cabang, Kesbangpol, dan Mapilu-PWI se-Indonesia berkumpul di Millenium Hotel. Kebon Sirih Jakarta. Niat mulia ini memang harus dikelola hati-hati. Jangan sampai terjebak ke soal-soal teknis.

Pada Ahad malam sebelumnya, sejumlah argumen berseliweran, mendebat mengapa harus jajaran pemuda politisi saja yang mesti dihadirkan di agenda tersebut. Mengapa tidak semua elemen pemuda dilibatkan, dan kenapa pemuda yang tidak terjun dijalur politik ikut diundang. Gegap rasanya saling bertumpu pemikiran pada pertanyaan ini.

Salah satu jawaban yang diberikan Hendra J. Kede, Ketua Umum Mapilu-PWI, antara lain; masa depan bangsa ini di 20-30 tahun ke depan tergantung pada pemuda politisi di parlemen (?) Jawaban ini tentu saja hanya satu diantara alasan penggagas acara, yang mendapat dukungan dari Departemen Dalam Negeri, Kementerian Pemuda dan Olah Raga, juga Menkopolhukam.

Benarkah impian Mapilu-PWI hingga begitu berani mengggamit gagasan untuk mempertemukan 1.800 para politisi muda itu kelak? Apakah hipotesa bahwa masa depan bangsa ini berada di tangan mereka yang kini berusia begitu muda, tapi telah memegang kendali dilevelnya masing-masing? Benarkah bila para pemuda politisi itu keliru hari ini akan menggiring Indonesia kian terpuruk ke jurang terdalam?

Jawabannya ada di hati dan tindakan-tindakan nyata pemuda politisi dimanapun ia mengabdikan dirinya. Yang perlu diingat awal berdirinya bangsa ini dikelola oleh mereka yang masih berusia dikisaran 30 tahun. Adam Malik yang kemudian menjadi wakil presiden di jaman Soeharto, di masa-masa awal kemerdekaan masih berusia 28 tahun. Atau Syahrir saat diangkat sebagai Perdana Menteri berusia 35 tahun.

Penulis mencatat, di Sulawesi Barat, setidaknya terdapat 10 orang pemuda politisi yang berusia di bawah 30 tahun. Ada yang menjadi ketua komisi, dan wakil ketua DPRD. Sejauh ini, kita memang belum secara dalam memahami bagaimana kerangka berpikir para pemuda politisi produk pemilu itu. Kecuali, beberapa yang kerap menyembul di media massa, dan jejaring sosial semacam facebook.

Pertemuan Pemuda Politisi di parlemen yang rencananya akan digelar di Jakarta itu, targetnya untuk menggugah mereka. Bahwa terdapat sejumlah pemuda yang sedang memegang kendali dan arah sebuah kabupaten bahkan provinsi. Kesadaran inilah yang memotivasi Mapilu-PWI dalam mendesain sebuah agenda berskala besar pada satu tujuan utama, Untukmu Indonesia.

Kebangkitan pemuda di sebuah peradaban memang akan menentukan perjalanan sebuah bangsa. Makanya, kita benar-benar berharap bahwa para pemuda politisi kita bisa menyiapkan diri, dan waktu untuk menyongsong ajang yang akan dicatat dalam lempeng sejarah republik. Kita tentu berharap mereka akan ke pertemuan itu untuk mewakili Sulawesi Barat.

Dalam sejarah nasional, pemuda politisi dari Sulawesi Barat Kita harapkan ikut memainkan peranan yang sangat menentukan agar mereka tak sekadar tampil, tapi memegang sanggup kiprah. Kepeloporan ini urgen dan mesti menjalar ke sumsum politisi muda yang ada di kabupaten pun provinsi.

Pada Pertemuan Pemuda Politisi itu partai-partai akan mengirim wakil-wakilnya untuk memadatkan kebanggaaan bahwa mereka memiliki pemuda yang bisa dibanggakan. Generasi yang lahir, tumbuh dan akan ikut menentukan sebuah peta zaman. Karena kita berharap jalan panjang mereka memiliki alur yang terarah untuk menata peradaban Indonesia yang nomor satu di dunia.

Ini mungkin terlalu ideal rasanya, tapi bangsa Kita memang harus berani bermimpi, sebab faktanya di parlemen saat ini terdapat 1.800 anak muda di bawah 30 tahun. Meski selama ini tersembul antipasti tentang munculnya dinasti keluarga atau empirium politik lokal yang bisa saja rapuh karena tak mengidamkan aktor dari pergumulan sosial-politik yang teruji.

Dahulu saat Amerika Serikat menyembul dengan gagasan Republiknya untuk menjadi nomor satu di dunia, mereka menyebutnya sebagai mimpi besar. Hal itu dianggap sebagai impian murahan oleh Eropa yang mayoritas berlatar monarki. Hari ini Amerika Serikat mewujudkan itu,

Catatan ini masih dipenuhi rumpang untuk mengurai lebih panjang mengenai konsep, gagasan dan desain yang lebih besar soal urgensi pemuda di parlemen. Sebab Kita tak bisa menafikan peran pemuda 30-40 di luar parlemen yang ikut menyokong bangsa ini sedemikian rupa, dimana penulis juga berada di gerbong itu.

Esai yang sekaligus laporan singkat ini, penulis maksudkan sebagai wadah komunikasi lebih awal kepada rekan-rekan pemuda politisi di parlemen. Untuk menjawab pertanyaan pertama, hendak kemana bangsa ini Anda bawa? Lalu seberapa tangguh! Bravo Pemuda Politisi di Parlemen. (*)

(Laporan dari Jakarta Rabu, 29 September 2010)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s