Nyanyian dari Ladang

Oleh Adi Arwan Alimin

BILA kayu hitam di puncak bukit itu juga runtuh, maka habislah tanah di kampung ini. Buldozer, eskavator dan truk-truk sepuluh roda yang saban hari hilir mudik menerabas setiap jengkal hutan membuat Muhaimin dan seisi desa resah.  Pohon itulah yang menjadi simbol terakhir yang selama ini menegaskan keberadaan setiap inci tanah leluhur mereka.

“Jangan biarkan mesin-mesin itu mengoyak tanah dan mencabut pohon terakhir kita,” kata Mustafa, tetua kampung bersama sejumlah pria dari desa Renggeang yang sedang mematung menghadap ke bukit Jalaqja. Ada rembang senja yang mendaki langit di sisi barat. Pemandangan itu bak guratan sebuah penantian yang kian ke ujung tapi masih menyisakan harapan. Warnanya melarung benak warga pada palung terdalam.

Pandangan mereka nanar, pohon kayu hitam di puncak bukit seperti bendera kesebelasan sebuah tim sepak bola yang tak pernah berhenti berkibar itu, tak lama lagi akan mencium rerumputan, atau memeluk tanah hingga menjadi bantalan lalu digerus menjadi balok-balok pipih. Mungkin segala perabot yang beraneka ukir dan ulir yang dipajang di toko-toko itu diambil dari lembah-lembah yang kini menanti longsor.

Bila pohon itu ikut ditebang habislah seluruh artefak kawasan yang dahulu menjadi hunian turun-temurun. Perang batin para lelaki yang tengah berkacak ke bukit tak sanggup mengerem deru mesin penghancur yang terus menderukan sisa-sisa penggalan waktu.

“Mereka berjanji akan tetap mempertahankan pohon itu di sana. Tapi mengapa buldoser mereka makin ke bukit? Ini harus kita lawan, mereka menginjak perjanjian yang kita buat bersama,” ungkap Mustafa galau dalam lenguh yang parau. Usianya yang berkepala tujuh membuatnya hanya sanggup menggariskan petuah yang mengalirkan keberanian dan melecut harga diri bagi yang lebih muda.

Setelah menyerahkan sertifikat tanah untuk ditukar dengan harga yang terbilang miring, sebentar lagi puluhan kepala keluarga di Renggeang harus angkat kaki. Jumlah mereka yang cukup banyak itu kalah dalam iming-iming tentang tanah garapan yang lebih menjanjikan. Inilah yang membuat Mustafa sebagai orang paling dituakan gundah. Usianya yang menua sepertinya tak lagi mampu melawan derasnya godaan materi yang berbinar-binar di benak para keponakan, dan sanak saudaranya yang lain.

Dari atas bukit orang-orang yang tersisa itu sedikit demi sedikit mata telanjang mereka melihat satu demi satu rimbunan pepohonan tempat mereka bernaung dicabut paksa. Sebentar lagi tanah kelahiran mereka itu akan berganti barisan tanaman sawit. Hamparan tanah yang selama ini tak juga sanggup memberi penghidupan yang lebih baik memaksa mereka mengambil pilihan untuk menerima tawaran investor, melalui mandor-mandornya atau jongosnya yang genit di kampung-kampung.

Meski sulit tetapi inilah prasasti yang akan dibaca anak cucu mereka entah pada zaman kesekian. Kerelaan mereka sebenarnya segurat kekalahan menghela kehidupan dalam perdebatan kemiskinan yang berjenggala. Yang dimakan rayuan belum tentu akan menjadi pemenang, demikian pula warga yang mencoba mengais-ngais limpahan rahmat di tanah leluhur mereka, tak pasti akan menjadi pecundang. Patok nasehat yang rapuh. Tapi mampu menyadarkan sebagian yang lain untuk menunda keinginan meninggalkan litaq pembolongang.

Iming-iming pemerintah daerah tentang tanah yang lebih subur, setelah ditukar guling dan sedikit tambahan rupiah karena sebuah perkebunan raksana akan dibangun di sana, meluluhkan kerasnya hati puluhan kepala keluarga. Mata mereka tak bisa menolak keluarga lainnya yang lebih dahulu bergegas pergi setelah menerima ganti rugi. Keadaan yang memicu pertentangan dan persinggungan antara mereka yang tak lagi betah menggarap tanah tak beririgasi, dengan para pemegang teguh amanat tanah yang kian menyusut.

Muhaimin, Mustafa dan beberapa kepala keluarga lainnya adalah barisan terakhir yang menolak menukar tanah kehidupan mereka ke perusahaan sawit yang konon dari Jakarta itu. Sayangnya, puluhan keluarga yang lain lebih memilih untuk pergi dan merasa bosan mengaduk periuk mereka dengan tanah-tanah yang tak lagi subur. Mereka ingin hidup lebih terhormat dan berkecukupan, agar anak-anak dapat sekolah dengan baik.

“Kita tidak mungkin bertahan dan membangun kampung di tengah puluhan ribu tanaman sawit ini. Ayolah bersama kami, siapa tahu di tanah yang baru nanti kita akan bisa bertani dengan hasil yang lebih menguntungkan,”  ajak Amir, salah seorang warga desa yang telah menggamit uang pengganti dan selembar surat kepemilikan tanah yang cukup jauh dari tempat mereka selama sekian tahun hidup dan kawin-mawin.

“Ini akan memberi harapan yang lebih baik, ketimbang kita mengeraskan leher satu sama lain. Banyak keluarga kita yang hendak mengubah nasib, tetapi ragu-ragu karena masih ada yang terus menolak program ini. Lihatlah bahwa apa yang saya sampaikan ini benar adanya suatu hari,” sebutnya mengangkat selembar akta tanah yang dibagi staf kabupaten dalam ukuran yang sama luas dan rata bagi penduduk yang ingin pindah lokasi.

Punggung mereka yang berangkat dengan truk atau bus-bus damri sejak tiga bulan lalu, dilabeli istilah transmigran lokal. Surat pindah anak-anak sekolah dasar ditanggung pemerintah setempat, mereka tinggal terima beres. Jatah hidup berupa sembako dan alat-alat pertanian atau saprodi selama sekian bulan akan dijamin pengelola program. Pendekatan semacam ini yang meyakinkan masyarakat, dan membuat pengurus transmigran lokal itu leluasa mempengaruhi yang lainnya. Memang sepertinya ada semangat terselubung yang dibungkus rapat agar warga asli mesti segera pergi.  Gelagat ini tidak pernah diendapkan mereka yang abai.

“Pergilah, kami akan tetap di sini,” kata Muhaimin menenangkan diri. Ia sebenarnya cukup mendidih setiap kali mendengar saran atau lebih tepatnya celoteh Amir, perantara warga yang ingin pindah dengan pihak investor.

Dialah yang disebut-sebut warga amat bersemangat mengumpulkan tanda tangan penduduk yang sebenarnya enggan, tapi karena tak tahan dibujuk dan dirayu-rayu, akhirnya tidak sedikit warga meneken lembaran hvs berkolom-kolom. Setiap tanda tangan warga berarti kesedian dan kerelaan untuk mengangkat seluruh perabot, hingga tubuh yang ringkih sekalipun.

“Kita lihat saja nanti, biar langit runtuh, kami tidak mengangkat kaki. Ingat Amir, siapa lagi yang akan menjaga jengkal demi jengkal tanah leluhur kita bila semua orang harus pergi dari sini. Kali ini kita jelas berbeda jalan, sekarang pergilah, sebelum kamu ditinggalkan bus-bus itu,” nada itu datar tapi bagai sembilu yang menusuk setiap renik tubuh Amir, yang kini tampil lebih parlente.

Tidak hanya mulai gemar memakai jeans, Amir pun selalu menutup wajahnya yang penuh bekas jerawat batu dengan kaca mata gelap grosiran. Tangan kirinya juga dikalungi arloji warna keemasan bermerek Grado. Entah dia beli dimana. Warga curiga jam tangan itu hadiah yang diterimanya dari orang perusahaan sebab ia sering kedapatan mengendap-ngendap ke basecamp para mandor perkebunan.

“Saya hanya mengingatkan saudara-saudara yang masih ingin bertahan. Mau tidak mau kita semua akan tetap pergi. Tanah moyang kita sisa sejengkal, Muhaimin, apalagi yang bisa kita harap, apalagi yang bisa dihisap dari sawah-sawah kita yang tadah hujan itu. Kita tidak memiliki kuasa untuk terus membusung-busungkan kepapaan dan makin tak jelasnya apa yang akan di makan anak-istri esok hari, tapi baiklah tetaplah di sini…” seru Amir di bawah tatapan orang-orang yang sekian puluh tahun bersamanya memanggul nasib di tanah itu. Hampir saja dia dihajar sejumlah lelaki karena kesombongannya, tetapi Muhaimin terlalu tenang, hingga yang lain menjadi sungkan.

“Jangan,” cegah Muhaimin menggelengkan kepalanya begitu melihat satu dua orang pria mengadu gerahamnya kuat-kuat.

Ia pun membalikkan tubuh memunggungi mereka yang lebih banyak diam. Matahari turut membakar punggungnya ketika ia menginjakkan kaki pertamanya dalam bus yang merengek-rengek di atas tanah berbatu menuju jalan beraspal. Ia hanya menoleh sekali, itupun setengah pandang dengan gerutu yang tak jelas. Rokoknya yang tak lagi kretek murahan mengepulkan asap bergerombol dari cela jendela kaca bus yang bergerak berat.

***

Bunyi keke* melengking membabat setiap sela udara yang dipenuhi debu. Dari balik pepohonan yang masih tersisa di pinggang bukit Jalaqjaq, Mustafa meniup alat musik dari bambu yang dibebat janur kehijauan itu. Nadanya penuh irama yang menggiriskan. Lengkingannya berayun-ayun pilu di ranting-ranting pohon yang masih tegak berdiri.

Beberapa orang yang menemaninya siang itu, hanya menekuri sisi bukit yang kini menjadi curam karena digempuri alat berat. Yang lain mengatur pandang mengawasi pekerja perkebunan yang terus menyalakkan semangat membalak hutan.

Lembah-lembah yang dahulu menjadi ajang berburu untuk sekedar mengganjal kebutuhan hidup sehari dua hari, kini setiap hari dikejar eskavator. Buldozer pun tak tinggal diam, seperti truk-truk besar itu yang tidak bosan mengangkut kayu gelondongan entah kemana setelah berbelok di jalan aspal. Padahal warga yang selama ini menjaga hutan dengan ramah malah lebih sering dicegat aparat jaga wana bila kedapatan menggotong kayu dengan kuda. Pohon-pohon seperti menjadi target mati akhir-akhir ini. Tiada kata tebang pilih, semua rata dengan tanah.

Setiap kali pohon-pohon itu terjengkang ke tanah, nyanyian yang ditiupkan dari alat musik keke pun mengalirkan bilur-bilur dendam. Ladang-ladang yang sekian tahun menjadi sumber kehidupan walau amat membatasi keinginan perut, berangsur tergusur. Apalagi yang bisa ditekuri bila semua kebanggaan ini akan segera berganti barisan sawit yang bershaf-shaf dari ujung ke ujung, seperti kata para mandor perusahaan yang diaminkan staf-staf pemerintah.

Tetapi sejumlah anak manusia yang menghapal setiap lekuk tebing, dan jalan-jalan penuh semak belukar masih ada yang membenamkan akar kecintaannya ke sumsum bumi.

***

Ladang-ladang yang telah ditinggalkan warga itu kini jadi bengkalai dengan bangkai-bangkai sisa gerusan eskavator dan buldozer. Tanah perkebunan dengan barisan sawit yang berderet-deret meleret jauh, tak juga pernah ada yang tumbuh menghela tanah leluhur penduduk yang telah lama meninggalkannya. Sosialisasi yang digeber berminggu-minggu itu rupanya hanya kedok yang menipu mentah-mentah warga, sementara tanah mereka telah diguling dengan cara ditukar rupiah.

Siasat untuk menghabisi isi hutan, dan melumatkan kayu berdiameter besar menjadi kekuatiran yang telah dibaca Muhaimin, Mustafa dan warga yang lain. Sejak awal mereka telah berusaha menyakinkan saudara-saudara mereka. Tetapi nasi telah menjadi bubur, hutan hanya menyisakan lumpur bila hujan mengguyur.

“Inilah yang saya tangisi sejak semula,” kata Muhaimin setengah berbisik, ketika berdiri tak jauh dari pohon kayu hitam yang diameternya seukuran pelukan dua lelaki dewasa.

Orang-orang yang selama ini menyertainya menggeleng-gelengkan kepala bila menengok hamparan mengenaskan di depan mata. Ratusan hektar tanah yang dahulu menyejukkan mata tatkala dipandang dari bukit itu telah disulap investor menjadi ladang pembantaian pohon-pohon bernas mahal.  Yang tersisa hanyalah tanah sisa keruk tak beraturan hingga makin melukai warga yang tetap bertahan hingga puncak kegeraman.

Areal perkebunan yang dijanjikan hanyalah kehampaan. Ini hanyalah modus pembalak untuk menggerayangi hutan dan menjualnya lebih mahal. Pantaslah bila tak semeter pun kawasan pembibitan sawit yang sering ditanyakan Muhaimin, pernah dibangun. Bedeng-bedeng tanah yang dibuat membujur tinggi untuk penanaman tunas-tunas sawit serangkaian tipuan untuk menjinakkan liputan wartawan media lokal yang sejak semula menebarkan gugatan diam-diam dalam tajuk rencana.

Seminggu dua minggu, dan beberapa bulan kemudian orang-orang warga yang bulan lalu berkonvoi meninggalkan jejak semula mereka di bumi ini, mulai ada yang datang menenteng kekecewaan. Sebagian lagi merasa malu untuk kembali dan memilih tanah rantau di kampung-kampung yang jauh.

Mereka ternyata hidup terkatung-katung di barak-barak transmigran yang setiap lembar papan, seng, dan alat pertaniannya telah dikorupsi pejabat berwenang. Amir yang memimpin mereka menuju tanah harapan, rupanya tak pernah menampakkan batang hidung di lokasi trans penuh cadas. Saat mengantar warga yang berduyun-duyun mengikuti ajakannya, lelaki yang pernah bekerja sebagai mucikari itu memisahkan diri di tengah perjalanan. Ia raib bersama seorang gadis muda yang ditimangnya dari kampung, dan sekantung komisi yang diterima di belakang kantor perusahaan sebelum para mandornya ikut ditelan bumi.

***

Bila senja mulai menghias langit, dan malam pun segera datang, sebuah nyanyian pilu selalu didendangkan dari balik huma yang jauh. Lengking keke yang dimainkan pemilik suara paling rapuh di kampung ini saban malam menangisi berpetak-petak ladang yang kini bagai pekuburan di bawah sinar bulan. Tonggak-tonggak sisa kayu yang menjulang ke udara seperti anak panah yang tak pernah sanggup mengantarkan pemiliknya menggapai apa yang ingin dituju.

Gundukan tanah sisa keruk yang bablas di sela-sela sapuan rembulan bagai gelombang laut yang menggulita di teluk-teluk diseberang pulau. Seperti itulah kecamuk penyesalan sebab tanah telah berpindah tangan. Tiada kuasa warga untuk kembali menggarap hamparan ladang yang telah  berubah jadi bongkahan penuh bonggol kayu, dan hanya dibiarkan pemiliknya yang baru menjadi penampung tumpahan air hujan yang mungkin sebentar lagi akan menjadi banjir bandang.

Dendang keke itu menyesali tingkah dan kepongahan segelintir anak manusia yang tak sabar dalam rentangan nasib. Tanpa dawai dan tabuhan gendang yang menghentak, hembusan nafas yang mengalir dari gelembung-gelembung otot perut menuju rongga dada, dan tumpah di mulut yang bersih itu menggulirkan ratapan tentang tanah yang kehilangan kekuatan berpijak.

Ooo, nameapami tuona kapputta

Puang orongngi sara paqbanua

Andiangngi mala dzisuatang

Muaq Tania eloqmu puang

Puang di lino, puang di  aheraq…

Nyanyian itu masih terdengar kini, bersama seonggok pohon kayu hitam yang tetap mengibarkan ranting-rantingnya, yang membenamkan dahan-dahanya menjadi belit akar berurat di dalam tanah tersisa. Keke itu merinaikan pengaduan pada pemilik langit tentang ladang yang kehilangan tuan. (*)

Mandar, 20 Februari 2010

*alat musik khas mandar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s