Merantau

Oleh Adi Arwan Alimin

Angin barat bertiup penuh ke wajahku. Seluruh pori-pori yang menempel di sana seperti dihempas kabar yang datang diam-diam dari balik selat yang jauh. Udara yang beradu bagai seseorang yang membisikkan sesuatu yang tak bisa kueja barang sekata. Hembusan yang menyihir.

Aku membiarkan rambutku dipermainkan udara yang kering, di sela dermaga yang sibuk. Di antara sisi pelabuhan yang dihinggapi ratusan manusia setiap waktu. Mungkin ini yang disebut tawaf keseharian yang melingkar-lingkar menuju satu tujuan hidup, dimana setiap orang rela dan mau melakukan apa saja untuk menjangkaunya.

Seluruh harta bendaku berada di dalam tas, barang bekas yang kupakai ke sekolah dahulu. Selain beberapa lembar baju yang mulai lusuh, dan celana panjang yang juga tak kalah belelnya, aku tidak tahu tas itu berisi apalagi. Sebab sebelum berada di tempat ini, res tas kain kanvas itu ditarik ibuku. Ditutupnya setelah menaruh sesuatu.

Aku mengeja kalimat pendek di atas bangunan bertingkat di sisi pelabuhan, di ujungnya tertulis besar-besar; PELABUHAN PARE-PARE. Aku tidak tahu kesibukan apa yang dilakukan orang-orang dibalik gedung itu, karena mereka tak berhenti lalu-lalang, mengangkat telepon, atau mengeraskan suara dari mikropon pelabuhan. Semua dihisap kesibukan, ditelan waktu yang memburu. Apalagi pemandangan kuli-kuli panggul yang tak berhenti berjalan kesana-kemari.

Bila kakiku benar-benar menjejak dek kapal TANJUNG MANIS yang sedang mengarahkan haluannya menuju selat Makassar, Inilah pelayaran kali pertama dalam hidupku. Pengarungan hidup sebagai anak muda yang hendak mengadu nasib di tanah seberang; merantau di Kalimantan. Siapa tahu nasib akan lebih baik.

Aku melihat air laut yang menampung semua kapal yang datang dan pergi ke seluruh penjuru. Bak cermin wajahku ada di sana, tapi keruh, buram dan bergoyang-goyang membiaskan setiap tujuan yang ingin direngkuh pengais reseki. Inikah rupaku yang terus mendaki umur ke ujung belasan tahun.

“Perantau tak pernah kembali, bila ia pulang sebelum berhasil, berarti ia kalah,” kalimat yang dilontarkan pamanku, di ruang tengah dua malam lalu sebelum aku berdiri di tembok pembatas pelabuhan. Ia menyusun satu demi satu batu-bata dengan semen kokoh agar tekadku kukuh dan tak mudah goyah.

Semua mata memandangku di ruang keluarga ketika itu. Mereka seperti sedang menambatkan cita-cita dan kebanggaan yang akan aku tenteng suatu hari ketika aku kembali dengan arloji buatan Swiss, celana panjang Levi’s, rokok filter bersusun-susun di ruang tamu, atau mungkin saja aku akan datang dengan tape rekorder sebesar dandangan nasi, dan gigi seri yang telah kulapisi emas 24 karat.

Identitas perantau memang menjadi stempel yang menetakkan harga diri di atas langit-langit. Ini bisa berarti siriq, atau gumpalan malu bila tak memenuhi luapan kebanggaan keluarga. Tapi apa yang bisa kulakukan dengan hanya bekal ijazah dan sedikit kopian yang dilegalisir sekolah.

Aku tak memiliki kekayaan apapun selain cap tamatan sekolah menengah atas, yang nyaris tak lulus ujian kemarin. Juga kelebat motivasi yang naik-turun di dadaku. Ketika staf tata usaha di sekolahku dahulu tahu bahwa aku akan merantau hanya dengan bekal ijazah itu, di wajahnya seperti ada yang memberat. Ketidakyakinannya menusuk semangatku. Matanya seperti mengejek mentah-mentah.

Aku menjadi linglung, saat mencoba menerebas setiap gulungan ombak yang berbondong-bondong menyentuh bibir pelabuhan ini. Kakiku gemetaran ketika sirene kapal kayu berbobot ribuan ton, yang memuat sapi, kol, bawang merah, bawang putih, bawang prei, tomat, cabai, dan manusia, juga sarung sutra Mandar satu paket dalam perjalanan  laut dua malam dua hari.

“Bila cuaca bersahabat, kita akan sampai dua hari ke depan di pelabuhan Sepingan, Balikpapan, anak muda,” kata ABK yang seusia denganku. Badannya padat berisi, berkulit legam, sorot matanya teduh yang mengiaskan saratnya pengalaman.

Ia melirikku, seperti tahu bahwa aku merupakan calon penumpang yang belum pernah menikmati hebohnya perjalanan laut.

***

Usai maghrib, TANJUNG MANIS mengangkat jangkar, pelan-pelan gugus Ujung Lero yang berada di depan Kota Parepare bak piramida hitam yang dihiasi kelap-kelip lampu nelayan. Kapal kayu berwarna putih ini merenangi laut yang dihembus angin malam. Di ujung pelabuhan masih banyak kerabat para penumpang yang melambai-lambaikan tangan meski dalam cengkeram temaram lampu.

Ini adalah perjalanan pertama dan terjauh dalam hidupku. Merentang nasib yang tentu saja tidak pernah bisa aku lukiskan akan bagaimana wujudnya. Kata rantau menjadi susunan huruf yang menyembulkan ketidakpastian akan kemana ujung semua ini. Identitas perantau selalu diaminkan para kerabat, dan begitu pun bagi sebagian lelaki yang hendak melebarkan kaki di kampung orang.

Yang pasti, embel-embel sebagai perantau mulai disematkan sejak aku meninggalkan halaman rumah dengan isak tangis ibu, paman, adik, dan tetangga. Sepanjang jalan aku hanya merangkai kesedihan itu sebagai sulaman waktu. Semoga aku akan kembali suatu hari dengan kehormatan penuh di mata mereka. Tak sedikit lelaki yang pergi tak lagi pernah kembali, sebab malu bila pulang tanpa ole-ole, atau mudik dengan kibaran bendera putih. Kengerian segera menyergap bila membayangkan itu.

Saat cahaya yang membungkus Parepare hanya menyisakan garis horizon yang sesekali timbul tenggelam karena gelombang yang mulai mendesak geladak, aku merasakan gemuruh yang demikian pekat. Suara mesin kapal yang pecah mencoba melawan arus laut, pertikaian irama yang sepertinya tak akan pernah berhenti menggedor malam. Bunyinya bagai nyanyian tentang kerasnya kehidupan yang harus dipilih setiap anak manusia.

Aku masih berdiri di buritan kapal, ketika bandar niaga itu benar-benar lenyap dalam kelebat malam yang menua.  Angin laut yang menghambur dari teluk dan selat yang jauh bertiup mengurai rambutku yang kini sedikit memanjang. Salah satu identitas bagi perantau muda; rambutnya gondrong.

Udara yang bercampur baur di dalam kapal membuatku kehilangan selera untuk memejamkan mata. Tapi memang tak ada yang bisa lelap bila seluruh kepalanya dipenuhi bayang-bayang mengenai tanah rantau yang beberapa hari lagi akan dijejak. Terlalu banyak hal yang bergumpal-gumpal di benak. Bergulung-gulung dalam belitan imajinasi yang tak bisa aku tangkap dengan sempurna.

Dinding kapal menopang tubuhku, seperti penumpang lain yang ingin menghibur diri dari mabuk laut di sisi ruang nahkoda.Kami duduk berselonjor. Aneh, mengapa laut yang hitam itu serasa pemandangan yang asyik dicecap padahal tak ada apapun di sana. Tapi kami terus saja menautkan pandangan sejurus ke kaki langit yang tak bisa kami temukan tepinya. Laut gelap, langit pun begitu.

“Adik mau kemana?” tiba-tiba seorang bapak yang membekap kepalanya dengan handuk kecil menyapaku. Ditangannya tergenggam minyak angin. Untuk menghalau dingin ia membalut tubuhnya dengan jaket, selain sarung berkotak-kotak yang melingkar di lehernya.

“Balikpapan pak,” sahutku meraih keramahannya.

“Sudah berapa kali ke sana? Tinggal mana di Balikpapan…” ingin tahunya segera membentuk lingkaran perkenalan yang sangat akrab.

Pertanyaan itu, katanya, standar diajukan bagi siapapun yang hendak menuju kota minyak .  Orang tua dari Wajo itu, mengajakku bicara sepanjang malam. Berderet-deret kisah hidupnya disampirkan ke kepalaku. Semakin panjang ia mengisahkan peta hidupnya semakin lapang kegamangan yang menimbunku.

“Yang penting adik bisa menjaga diri, niatkan bahwa tujuan kita untuk mencari penghidupan yang lebih layak. Manusia itu dipandang dari sikap, dan manfaat yang bisa diberikan pada sesamanya, bukan seberapa banyak uang yang diperolehnya,” kalimatnya bagai luapan gelombang yang telah mendatangi seluruh pelosok pantai di mana pun. Kata-katanya bernas.

***

“Jaga diri baik-baik,” sebuah tangan menepuk pundakku saat hendak menyentuh tanah Balikpapan pertama kalinya. Aku menoleh, yang ada di sana sebuah senyum laki-laki tua yang sepanjang pelayaran dua hari dua malam mengurutkan peta hidupnya. Menurutnya ia belum pernah bercerita sepanjang itu pada siapapun.

“Kalau ada apa-apa hubungi saja bapak,” ia menyebutkan itu sambil mengguncang-guncang tanganku saat kami berpisah di gerbang pelabuhan. Ia menunjukkan ibu jari tinggi-tinggi memberiku semangat.

Aku lalu tersadar, titik nol perantauan ini sungguh-sungguh telah dimulai. Sama ketika dua hari lalu di Parepare, kantor pelabuhan Balikpapan rupanya dipasangi identitas yang serupa. SEPINGGAN, itulah kata pertama yang aku eja ketika lamat-lamat sebuah obor yang meninggi telah menyapa semua orang di kapal TANJUNG MANIS saat memasuki area pelabuhan.

Tak seperti yang lain, aku tak dijemput siapapun. Hanya sebuah kertas dekil yang berisi alamat menjadi pedoman. Pikiranku mulai membelukar. Tak tahu hendak kemana. Keramaian kota bagai jenggala yang merubung seorang anak manusia di tengah lalu-lalang kendaraan bak arus banjir.

Kekagumanku mencakari langit-langit Balikpapan. Inilah kota yang menggoda mimpi para lelaki di kampungku. Inilah gelanggang yang kerap membuat banyak orang terkapar atau menjadi pendekar dalam pilihan hidup masing-masing.

Dan, sejak hari ini aku adalah seorang perantau. (*)

Wonomulyo-Balikpapan, 1992-2010

Data Singkat Penulis

Nama               : ADI ARWAN ALIMIN

No Kontak      : 085.242.992.774

Pekerjaan         : Redaktur Khusus Harian Radar Sulbar

Kini menetap di Mamuju, Sulawesi Barat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s