Jangan Bilang, Apalah Arti sebuah Nama

ESAI ini penulis buat saat tiba di bandar udara Sultan Hasanuddin, Makassar. Usai membelah udara Sulawesi Barat via bandara di Tampa Padang. Sesungguhnya ada yang terasa hilang, sebab kemarin di Mamuju, ada gelaran seminar mengenai ide penamaan bandara dan pelabuhan laut. Momentum yang akan menetakkan tugu identitas.
Tapi biarkanlah saya menulis esai singkat ini, untuk memberi muatan atas apa yang mungkin masih kurang, atau malah telah lebih di benak publik atau peserta temu muka hari ini. Sebab pertemuan untuk mencari nama, mana yang lebih ideal atau patut bagi sebuah bandar udara atau pelabuhan laut, sesuatu yang monumental.
Senin malam sebelumnya di PadangBulan -untuk menyebut nama lorong ke rumah di Padang Panga Mamuju, penulis terlibat diskusi panjang hingga tengah malam dengan aktivis, wartawan, komisioner dan peminat kebudayaan tentang kepantasan bagi artefak peradaban di Tampa Padang dan di Belang-Belang.
Pergulatan gagasan ini bertumpu pada beberapa figur yang masing-masing dianggap layak. Semua orang menandaskan pikiran, tapi tak ada yang tergesa-gesa. Ada yang menggulir nama Prof Dr Baharuddin Lopa, Ibu Agung Andi Depu, Punggawa Malolo, Ahmad Kirang, dan Ammana Wewang.
Sejumlah nama yang tentu saja masing-masing memiliki derajat kelaikan atau kepantasan sesuai zamannya. Bagi setiap orang yang mengenal sosok tersebut tentu saja masing-masing menguatkan urat leher.
Tetapi soal penamaan bandara atau pelabuhan bukan perkara emosional, apalagi menyangkut geografi. Sebab pelekatan nama atas aset semacam bandara selalu diikuti prestasi, hal-hal monumental, heroisme, juga standar ketokohan seseorang.
Penulis menilai bahwa setiap orang yang hari ini mengikuti seminar dengan maksud itu telah berulangkali menginjak berbagai bandar udara. Dimana plakat yang selalu pertama kali kita ingin baca adalah nama bandara atau pelabuhannya. Laku yang kemudian kita aminkan bahwa nama-nama yang dipasang besar-besar itu pasti sebuah nama yang pantas menjadi papan nama di sana.
***
Bagian paragraf ini penulis ketik saat makan siang di Bandara Soekarno-Hatta (Soeta) Jakarta, Selasa siang kemarin. Penulis buru-buru membaca nama itu, ketika pesawat mendarat, meski telah sekian puluh kali membacanya. Kesadaran yang menyembul jelas bahwa nama proklamator itu memang layak menyandang wajah terminal udara itu.
Siapa yang tak mengenal duet bersejarah Soekarno-Hatta? Ketokohan dan nilai sejarah yang mengalungi mereka hingga bangsa ini merdeka, tak pernah diperdebatkan, atau tidak pernah disangkali. Lalu, apakah telah ada ukuran yang sama sebelum ketuk palu tanda setuju dijatuhkan. Parameter apakah yang akan kita pakai?
Sebagai peminat kebudayaan Mandar, dan peta jalan Sulawesi Barat selama ini, penulis ingin menggariskan bahwa pilihlah nama yang bisa menggetarkan atmosfir wilayah yang kita cintai ini. Figur mana yang memiliki peluang untuk dapat diterima dengan lapang publik di Sulawesi Barat. Jauhkan patron apapun yang akhirnya akan mencederai kemufakatan.
Jangan pernah mengatakan, apalah arti sebuah nama, sebab kita semua bisa kualat. Jangan pula pernah abai untuk mengeja nama-nama yang memang pantas untuk memasuki wilayah perdebatan kita. Artinya, sebutlah nama yang memiliki tingkat resistensi paling nihil untuk mendapat penolakan di kemudian hari.
Sebagai pengagum Baharuddin Lopa, penulis tentu akan mengusulkan nama itu lebih awal. Meski tak pernah ada rasa yang kurang hormat pada Ibu Agung Andi Depu bahwa beliaulah lambang perlawanan yang paling gigih terhadap penjajah. Walau beliau seorang perempuan, tapi predikat Tomuane yang disematkan padanya, tak bisa dinilai dengan peniti emas seberat apapun.
Kita juga mengenal sosok Ahmad Kirang, dan Punggawa Malolo, figur yang juga memiliki tempat tersendiri di benak banyak orang. Keduanya sama-sama dinilai mewakili keperwiraan lelaki yang tak mengenal takut dan pantang menyerah. Beberapa sumber menyebut nama beliau juga bisa diajukan sebagai pilihan.
Lalu jangan lupa Ammana Wewang, sosok lelaki dari Mandar yang pernah dibuang Belanda ke tanah Belitung. Karena motif perlawanan yang amat keras dan tak pernah surut ke langkah pun. Nama ini patut dicatat untuk diberi penghargaan yang sama atas pengabdiannya.
Penulis pernah bertemu teman-teman dari Dewan Kesenian Belitung di Bangka medio tahun 2009, yang menggambarkan bahwa di Belitung selama ini dikenal secara turun-temurun legenda “Raja dari Mandar”. Tentu saja yang dimaksud adalah sosok Ammana Wewang, sebab mereka juga menghafal dengan baik nyanyian Topole di Balitung yang selama ini sering kita dendangkan.
Penulis sama sekali tidak ingin membangun polarisasi diantara tokoh atau para figur terbaik sesuai levelnya itu. Yang pasti mereka semua ibarat lilin yang pernah memendarkan cahaya yang amat benderang di lorong-lorong waktu yang mereka titi. Tapi sesungguhnya tak ada orang besar yang benar-benar mati, maka tidak ada jenis dan ilmu manusia yang mampu merumuskan hidup dan matinya mereka. Itu rahasia yang sangat rapi di sisi-Nya, ‘Sirrul-asror’ meminjam istilah Cak Nun.
Yang menjadi amat mungkin kita lakukan hari ini adalah meneliti dan menghitung ulang karya apa yang telah mereka torehkan. Kita pun tetap wajib menghormati dengan kaca mata ilmu, untuk terus-menerus mencintai mereka dalam beragam semangat kreatfitas, kualitas hidup dan kearifan.
“…andai engkau dapat merayu Tuhanmu//untuk lahir kembali//. Itu penggal puisi yang penulis buat tahun 2003, sebagai kado cinta pada Baharuddin Lopa. (*)
Mandar-Jakarta, 17 Maret 2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s