Esai Pendek buat Kindo Bunga

BERMULA dari asap sabut kelapa yang menyerbu pagi. Baqda shalat Subuh yang dingin di kota Mamasa, saya berusaha menahan hawa yang begitu menusuk seluruh pori-pori. Seperti tahun-tahun yang lampau ketika saya datang ke kota sejuk ini.
Masih sangat pagi. Tapi saya telah bergegas menemui seseorang yang begitu menarik rasa penasaran sejak tahun lalu. Kabut yang tak lagi setebal pada lima-sepuluh tahun lalu di Mamasa saya sibak dengan berbungkus sarung bercorak cap gajah duduk. Kali ini saya memang ketinggalan jaket di Polewali, sebuah tindakan teledor bila ingin berkunjung ke Mamasa beberapa malam. Untung saja saya tak pernah lupa membawa selembar sarung bila berpergian. Jadilah saya seperti para ambeq (tetua, bahasa Mamasa) yang membungkus badan dengan hanya menyisakan wajah, sebab tisik dingin di kawasan wisata ini tak mengenal siapapun.
Di simpang jalan tak jauh dari Matana Hotel Mamasa atau beberapa puluh meter dari Losmen Mini, sebuah perapian kira-kira sepanjang satu meter digelar. Disisinya terbaring karung bekas beras kepala berisi benu (sabut) yang telah dicacah. Sebuah tangan yang mulai keriput tampak mengipasi buntalan asap yang cukup memedihkan mata.
Orang yang ingin saya temui di pagi buta itu adalah perempuan tua yang sejak tujuh tahun terakhir menggadai sisa umurnya dengan menjajakan gogos-makanan khas Mandar yang terbuat dari ketan dan harus diasapi/dibakar sebelum dikonsumsi. Peristiwa pasar yang hanya saya temukan selama ini di Wonomulyo, Tomadzio, Tinambung, Banggae atau di sebagian besar sudut pasar wilayah pantai Sulawesi Barat.
Bunga nama perempuan tua ini. Mungkin karena sepanjang Subuh hingga pagi menyeruak duduk di depan perapian gogos, hingga ia tak terlihat seperti orang kebanyakan. Menggigil dalam sarung atau balutan jaket tebal. Yang lebih banyak adalah senyuman khas pada siapapun yang menyambanginya, atau mengangsur uang seribu rupiah untuk sebuah gogos panas pagi-pagi.
“Saya lahir di Ongko, Campalagian. Pernah ke sana?” kata ibu yang berumur di atas 60 tahun ini dalam dialek Campalagian. Saya jongkok tak jauh dari asap yang terus menari-nari di depan retina matanya yang masih awas.
Saya mengangguk. Saya memang pernah ke Ongko, sebuah dusun yang melahirkan seniman tradisi Mandar, Satuni, yang kaya apresiasi tradisi dengan orkes Tomindolonya.
Beberapa warga silih berganti mendatangi stan darurat Kindo Bunga. Sebab bila pagi telah meninggi simpang jalan itu akan ramai oleh tukang ojek, penjual rempah-rempah, beras, dedak, daun ubi, kangkung, sirih, tali rotan, ikan asin, bandeng (bolu), dan seabrek kesibukan pasar Mamasa.
Bila sore hari, simpangan yang telah dicor beton ini akan ditempati gerobak yang menjual martabak, terang bulan, bakwang, tempe goreng dan tahu isi. Serbuan kuliner berminyak yang jauh sebelumnya tak pernah dijajakan dibekas kewedanan Mamasa ini. Kedai minum yang menjual donat dan roti berselai dengan pilihan teh manis atau kopi kental Mamasa juga berjejal. Yang terakhir telah ada sejak dahulu.
Kindo Bunga baru akan tampak lagi di sana begitu shalat Subuh di Masjid Nurul Yakin Mamasa usai, hingga sekitar pukul tujuh pagi. Begitu seterusnya pada tujuh tahun terakhir berselang. Saya hanya memikirkan sesuatu yang begitu luar biasa bagi sosok perkasa ini. Siapa yang memberinya inspirasi pertama kali untuk mengais rupiah ke kota dingin ini, dengan modal dua meter besi sepuluh yang menjadi tungku pembakar gogosnya.
“Ya, lumayan nak. Cukup untuk menutupi biaya kontrak, saya kontrak rumah dengan lima teman dari Polewali,” Bunga masih dalam aksen Campalagian yang khas. Setiap hari tujuh liter ketan ia habiskan untuk seratusan gogos bakar. “Kadang habis, kadang pula dibawa pulang, tapi selalu habis apalagi kalau banyak orang dari bawah yang datang ke sini. Orang di sini juga senang makan gogos.”
Orang dari bawah yang dimaksud adalah sesama pedagang yang mengerubuti Mamasa pada hari-hari tertentu, misalnya pada hari pasar Selasa. Atau, tetamu pemerintah dan wisatawan yang mencari pengganjal perut pagi-pagi.
Konsep siwaliparri jelas telah terpatri dengan baik dalam hidup perempuan uzur yang telah melahirkan dua anak perempuan, meski tidak bersamanya di Mamasa. Dua anak yang telah memberinya beberapa orang cucu saat ini tinggal di Rea Barat, Polewali. Jaraknya hampir 100 kilometer tepat dari tungku gogos tetua yang murah senyum ini.
Tapi inilah realitas bahwa rejeki itu bisa dikais dimana-mana. Berkah itu bisa didulang bila kita memiliki semangat, dan kepercayaan diri yang tak tanggung. Dalam kesahajaan yang sempurna Kindo Bunga mengajarkan sesuatu yang amat berharga. Betapa kerja keras itu tak mengenal usia, sebab pada saat yang sama wanita uzur seumur dia mungkin telah lebih banyak berada di tengah keluarga. Merenda sisa umur dengan meluruskan ibadah ke Langit.
Mengingat Kindo Bunga, sama berarti saya menarik benang hidup yang mungkin terbilang [bisa] beruntung. Saya juga memiliki orang yang begitu saya cintai selama ini, tipikalnya tak jauh berbeda, namanya Kindo Pia. Bunda yang telah almarhum ini adalah sulung ayah saya. Profil perempuan tua penuh kasih sayang yang tak pernah lungkah dari ruang rindu. Ia demikian berarti.
Mungkin magnet ini yang membetot hingga saya begitu ingin berdekat-dekatan dengan perempuan yang demikian telaten menjajakan gogos, yang tak disadarinya sebagai bagian dari proses akulturasi budaya orang pantai. Siapa menduga dan peduli dengan orang tua yang mulai beruban itu setiap pagi. Siapa yang tahu selama ini bahwa sebenarnya Kindo Bunga itu sedang menenteng kuliner tradisi yang makin berdesakan dengan godaan jajanan penuh pemanis dan pengawet.
Pembaca mungkin sering bertemu penjual gogos yang sama. Tapi akan berbeda bila bertemu Kindo Bunga yang menjual gogos ratusan kilometer dari tanah kelahirannya di Ongko. Yang jelas menguyah gogos panas di bawah suhu Mamasa yang menggigilkan tubuh akan terasa lebih nikmat, apalagi disertai teh panas atau kopi asli Mamasa. Bayangkan saja … (*)

Senin, 11 Februari 2008

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s