Bila Lebaran Tiba

Oleh Adi Arwan Alimin

Kota Mamuju makin lama makin mengecil. Kelap-kelip lampu hanya tampak bagai kunang-kunang yang berusaha menerabas gelapnya sisa senja yang sebentar lagi tenggelam dalam malam yang hitam. Kota yang melekuk dalam itu baru saja kami tinggalkan. Lalu Mamuju hanya terlihat sebagai garis hitam yang pelan-pelan ditelan ombak musim barat.

Fery Darma Kosala yang menyeberangi pelabuhan kecil di kota yang tak terlalu ramai akan mengantarkan kami ke Balikpapan, Kalimantan Timur. Perjalanan menembus Selat Makassar 12 atau 13 jam ke depan. Bila selamat besok pagi-pagi kami sudah membaca koran pagi yang terbit di kota minyak itu. Dari kota petrodollar ini,  saya akan menemani ayah yang akan menuju Saliki, sebuah desa yang masih menjadi bagian dari Muara Badak. Kecamatan yang disesaki perantau dari Sulawesi, dan terus beranak pinak sejak lama.

Ayah dengan kopiah hitamnya, terlihat duduk di kursi penumpang yang sekaligus menjadi tempat tidur bila kantuk tak lagi tertahankan. Ratusan penumpang bersama kami dalam pelayaran malam dengan kapal besi ini. Di depannya, televisi 29 inci sedang mengetengahkan berita yang mengharu-biru, seorang presenter cantik dan berkulit bersih sedang menyampaikan liputan peritiswa yang sedang berkecamuk hangat waktu itu.

Tahun 1998 menjadi momentum yang setiap hari menyisakan kisah yang perlahan mendorong bangsa ini ke arah yang tak bisa diduga. Ayah saya tetap meluruskan matanya dan memasang telinganya dengan serius ke arah televisi, yang diselingi riuhnya penumpang yang bercerita mengenai diri mereka sendiri.

“Tampaknya akan ada peristiwa yang luar biasa beberapa hari nanti,” ujarnya ketika mengetahui saya telah berada di salah kursi yang dapat disetel maju mundur itu. Saat itu kwartal pertama 1998 masih berjalan dengan pintalan waktu yang setiap hari diwarnai beragam aksi di sejumlah daerah.

“Lebih hati-hatinya saja kelak, negeri ini rupanya akan memasuki fase yang semoga tak lebih buruk,” susul mantan aktivis organisasi massa yang beberapa tahun lalu lebih memilih hijrah ke Balikpapan.

Pria yang menjadi ayah saya secara utuh ini adalah sosok yang gemar menjadi pengamat dan suka berdiskusi dengan siapapun.  Ia kadang  cermat dalam analisis kasus, pilihan-pilihan katanya sebagai kutu buku selalu memukau lawan bicara. Ia begitu meyakinkan setiap kali mendesakkan gagasan.

Di luar udara telah begitu gelap. Tapi tabur bintang di langit merangkai pedoman yang tak akan membelokkan visir fery yang bolak-balik setiap pekan ke kota kami. Ayah kini telah menutup pandangannya, dan mencoba mengidas waktu satu demi satu, ia ingin melelapkan diri setelah penat yang membekap sepanjang hari dalam perjalanan darat penuh kelok ke Mamuju.

Tak berapa lama, ia pun sepi dalam ayunan gelombang yang bersahabat sejak meninggalkan bibir pelabuhan beberapa jam lalu. Leretan waktu terasa singkat semenjak aku tumbuh dewasa, dan kini bersama orang yang selalu bersemayam di pikiran, dan luruh menjadi rindu. Rentang tahun yang memisahkan kami sebagai keluarga, menjadi begitu sempit dan tak lagi terekeng, sebab ayah yang selama ini hanya datang melalui surat, telah berada amat dekat dengan saya.

Rasanya perjalanan dengannya ingin saya bentang agar lebih lama lagi. Seperti ada kekuatan yang melintas pada pemilik waktu untuk menghampar kebersamaan dengan pria berkening lebat ini. Tapi mungkin itu hanya buah kerinduan yang selama ini memuncak.

Saya hanya berusaha bertahan di sisinya, meski kantuk yang saya undang sejak tadi tak juga datang menghampiri kelopak mata. Pria yang sedang menjulurkan kaki dengan helaan nafas yang teratur setiap kali ia dibuai mimpi itu, sedang dalam penyembuhan setelah ia menenteng penyakit begitu lama di tanah rantau. Kabar yang aku serap, ayah diserbu ilmu hitam Kalimantan yang membuatnya mesti pulang untuk berobat di tanah kelahirannya. Tapi itu hanya gumpal cerita yang selalu mengiring kehidupan perantau yang  ganas.

Ia pulang kampung untuk kembali mengumpulkan semangat hidup sekaligus mengobati kiriman gendam yang diembus melalui buhul-buhul pada malam yang makin menua. Kata kiriman itu hanya ingin menegaskan satu hal yang pernah dilontarkan sando bahwa penyakit tak biasa yang ditenteng menahun ayah, adalah buah tangan orang lain.  Ayah sesungguhnya tak percaya dengan semua itu. Walau ia amat paham ketangguhannya secara perlahan-lahan mulai digerus sesuatu. Meski kini ia telah beranjak sembuh.

Di atas feri yang membelah Selat Makassar ini, aku hanya memandang ayah yang bergelung sarung dan selembar sajadah. Ia benar-benar telah tenggelam dalam mimpi-mimpi yang beriring hembus angin buritan. Aku hanya duduk menungguinya. Mengamatinya dalam kantuk yang malu-malu merayapi retina.

Di luar sana, hamparan laut yang hitam. Sungguh gelap. Aku tak bisa membayangkan bagaimana pelaut-pelaut ulung dari pesisir Mandar itu bisa  bertahan disela buaian ombak pada malam-malam begini. Seperti apa mereka membaca tanda tentang badai yang sewaktu-waktu dapat menggulung dan membunuh mereka. Bagaimana mereka bisa mereka-reka jejak untuk pulang ke pantainya. Di luar sana, bersama gulita, dawai angin berkesiur mengirim petikan waktu yang terus saja bergerak.

***

Tak banyak yang bisa aku kisahkan tentang pergumulan dengan lelaki bercambang, berambut ikal, dan berhidung bagus itu.  Saya hanya memiliki ingatan yang sekelebat dengan pria gagah yang ternyata adalah ayah kandung saya ini. Kulitnya yang liat menunjukkan bahwa ia memang seorang lelaki pilih tanding. Saya hanya sering mencuri-curi cerita bahwa ayah dikenal sebagai pendekar dengan kemampuan kottau atau silat yang luar biasa.

Hidupnya yang berpindah-pindah karena tuntutan pekerjaannya membuat saya tak bisa mencecap kehangatan layaknya anak-anak yang merindukan ayahnya. Beruntunglah kami masih dapat memunguti pertemuan sekilas ketika saya telah tumbuh berumur.

“Pulanglah, hawa kota ini tak cocok buatmu, Nak. Saya ingin kamu jadi seseorang yang lebih bermanfaat dan membanggakan keluarga. Dan, itu tidak mesti di sini. ”

Kalimat itu meluncur dari mulut ayah saat kami telah tiba di rumahnya di Saliki. Daerah ini masih berjarak beberapa mil, bila melewati sungai anakan Mahakam yang dihuni buaya buas menuju Muara Badak. Atau, kira-kira enam jam perjalanan dengan perahu kelotok dari pasar pagi Samarinda.

Beberapa hari sebelum idul fitri, aku memang benar-benar pulang. Kembali ke Balikpapan lalu menuju Mandar. Meninggalkan sang jawara yang tak pernah bermimpi bahwa saya pun kelak akan mengikuti jejaknya sebagai jagoan tanpa tanding di kampung orang.

Saya baru membacanya sebagai alamat kepergian setelah kabar kematian itu. Tak ada yang dapat saya sedihkan selain pertemuan terakhir bersamanya. Kendati selama ini kami dipisahkan durasi kebersamaan yang begitu panjang.

“Yang lebih penting adalah kualitas pertemuan, bukan berapa kali kita besti bersama-sama,” tuturnya ketika saya mencoba mendebat waktu yang banyak hilang karena sejumlah hal sekian puluh tahun.

Sebelas tahun berselang. Ketika aku hanya bisa merentang cerita ini dalam kalimat apa adanya. Lelaki yang pernah aku antar ke seberang laut itu telah berpulang. Kembali ke pelukan Tuhannya tak lama setelah kami menjejak kota Minyak.  Hari itu adalah lebaran kedua, saat sebuah telepon merobek pagi  bahwa ayah kami meninggal dunia usai shalat Subuh.

Sebelas tahun, sebuah leretan waktu yang tak pendek. Perjalanan ini terus berderak. Setiap kali Ramadhan tiba, kilas waktu tentang kebersamaan terakhir bersama ayah kami selalu menyasar kepedihan. Apalagi menjelang tibanya lebaran idul fitri.

Dalam hitungan tahun yang lebih lama, aku tak pernah bisa mengeja berapa kali menikmati lebaran atau idul fitri bersama ayah dan keluarga besar dengan senda gurau. Tak ada memori yang menjangkau hitungan yang paling mudah sekali pun, karena aku memang kehilangan semua itu selama ini. Lebaran hanya menjadi penanda bahwa Ramadhan yang agung itu telah usai, sebab pada idul fitri tak pernah ada keindahan yang menjalarkan kehangatan seperti pada anak-anak yang lain.

***

“Ayah, jadi nggak pulang ke rumah nenek?”

Tangan mungil gadis berumur lima setengah tahun menghentikan jemariku yang menari-nari di tuts-tuts komputer. Halaman-halaman waktu segera berganti. Guratan kisah yang menjadi artefak itu terpahat dengan kesedihan yang melengkung di kelopak mataku sebagai ayah. Aku menangis.

“Kenapa ayah menangis? Puasanya nanti batal kata ustadz.” Tanyanya sekali lagi, memandangi wajahku yang hampir saja pecah oleh pertanyaan menyesak itu. Aku memeluknya dalam-dalam, dan membalurkan air mata diujung bahunya … (*)

Balikpapan-Mandar, 1998-2009

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s