Aku, dan Lelaki Itu

Oleh: Adi Arwan Alimin

MASA itu kembali terpintal. Padahal pertempuran batin yang tak pernah usai itu telah ditutup hampir sepuluh tahun lalu. Laki-laki itu tiba-tiba hadir di depanku. Meski hanya dalam wujud pilihan-pilihan kata yang diketikkan melalui pesan pendek.

“Kecuali Nabi, tidak ada manusia yang tidak pernah lalai. Tidak ada manusia yang luput dari kesalahan. Maka jangan jatuhkan hukuman bagi seseorang yang justru tak pernah berhenti mencintaimu…”

Kata-kata yang dikirimkan itu mendesakku pada sebuah simpang waktu, dimana ia pernah hadir dan mengisi hari-hari satu dekade yang lalu. Ia benar-benar tak berubah, seperti halnya aku yang tetap menutup ruang dimana ia bisa masuk melalui kisi-kisi kesempatan yang tidak memungkinkan sekalipun.

“Jangan mengusikku lagi…” balasku ingin berlari dari kejaran pertanyaan-pertanyaan yang menggelembung di benaknya. Ia memang gigih, meski aku sesungguhnya lamat-lamat pernah memberi selorong harapan di hatiku. Diam-diam kecintaan itu pernah meruap, tapi tak pernah meluap.

“Engkau benar-benar telah melarungku, engkau benar-benar telah membunuhku, sejak dulu dinda. Walau engkau tidak pernah menyadari, atau mungkin engkau hanya pura-pura tak mengerti… bahagiakah engkau hari ini?” Tikamnya dengan belati penuh lekuk berpamor rindu setinggi bintang.

***

Aku tersudut di dalam kamar. Membenamkan kepalaku di bawah bantal untuk makin menjauh dari pesan-pesan menggelisahkan itu. Entah mengapa, kami bisa bertemu di dunia maya, dimana kami bisa bersembunyi dari siapapun untuk sekadar menjalani hubungan yang mungkin terlarang ini. Padahal sekian tahun kami telah saling memunggungi.

Tapi semakin kutanam seluruh helai rambutku yang legam ke dalam setiap pegas kasur berbusa ini, ia tetap saja menyembul dari helai demi helai benang kusut dipikiranku. Kali ini ia tak bisa lumer seperti sepuluh tahun lalu, dimana aku bisa memalingkan wajah darinya.

Aku memang membencinya, dan berjanji untuk terus menegakkan kemarahan. Ia sebenarnya menyadari itu, tapi terus saja meleretkan pertanyaan agar aku menggelar maaf.

“Perang kebencian ini tak akan berhenti! Seperti dulu, dan nanti!”

Balasku ingin memburai ambisinya agar buyar menjadi kekalahan-kekalahan kesekian kali. Namun aku keliru menilai, sebab laki-laki berkulit putih itu rupanya masih ada, dan kembali hadir di sisi yang lain.

“Satu hal yang paling kubenci, engkau seringkali bersembunyi di balik kata-katamu yang berpilin indah itu. Engkau kerap tidak jujur,” bentakku dari sebuah tempat pagi kemarin.

Tapi apakah aku benar-benar membencinya. Sebab sekali waktu aku pun pernah mencari kabarnya ketika ia akan menikah dengan perempuan yang lain. Aku juga tidak tahu mengapa bara itu tak bisa juga padam. Setiap kali aku ingin mencincangnya dengan segenap emosi tak terkira, ia selalu saja mampu menyatukan tubuhnya satu demi satu hingga mewujud utuh.

***

Aku memang tidak pernah memberinya ruang untuk menyulurkan kata maaf, atas kesalahan yang katanya tak pernah diingat persis. Inilah yang menyuburkan ketaksukaanku karena ia terlalu cepat lupa pada hal yang telah menyinggungku saat kali pertama bertemu.

Aku masih mengingat sosok yang sangat dingin itu. Sosok yang dihormati rekan-rekannya dan adik-adik yunior di kampus, tempat yang sama sekali tak pernah aku duga untuk bertemu laki-laki yang gemar membentak itu. Nama yang menempel di dadanya pun masih merekat kuat, menjalari setiap renik dimana darah mudaku selalu mendidih.

“Hei nona manis, nama kamu siapa?”

Aku mengira panggilan itu bukan buat aku, salah seorang mahasiswi baru yang sedang jongkok bak bebek di depan aula. Maklum saja hari pertama saat itu pembukaan acaranya malah saat matahari sedang terik-teriknya.

“Hei, manis-manis begini, tuli rupanya” lanjutnya ketika aku tak menggeleng.

Sindirnya dengan sorot mata yang serasa ingin mencabut setiap urat yang melingkar di korneaku. Sejak itu ia terus memberondongku dengan tatapan yang menusuk hingga ke belulangku, dan itu aku benihkan sebagai tunas-tunas yang kini bernas. Menanam kebencian hingga bertahun-tahun rupanya tak selamanya mampu membuahkan kematian. Karena aku telah gagal. Ia tak pernah mati. Tak pernah kehabisan energi.

Ketika ia datang di depan pintu telepon genggamku. Aku makin sadar ternyata pertempuran hati itu tak pernah usai di matanya. Rupanya ia masih berdiri di tengah padang peperangan dengan tameng yang kini berlumut pertanyaan lama\.

“Apa kabar bidadarimu?” tanyaku membawanya ke lajur dialog yang lain.

“Bidadari yang mana?” Balasnya.

“Istrimuuu…” aku dengan sengit menebaskan kata itu.

Bagai pendekar aku melompati tempatnya berdiri, dan menetakkan katana sekuat mungkin. Hingga aku berharap agar ia terhuyung-huyung dengan dada berlumuran di atas tanah berdebu.

Aku yakin ia kembali berpura-pura atau hanya ingin mencoba mengabaikan segudang kosa-katanya yang bisa ia hamburkan kapan saja. Aku tahu ia memang bisa menimbunku dengan kekuatan diksinya.

Ooo, ia baik-baik saja. Tapi ini hanya tentang kita, bukan tentang orang lain,” balasnya menopang anak panah yang aku lesakkan sekuat tenaga pada serangan dengan senjata yang lain.

“Mas, memang pintar ngeles, itu yang tidak aku suka,” jawabku lagi.

Saat ia membalas dengan kalimat baru, buru-buru aku memotongnya dengan pesan terakhir.

“Jangan ganggu aku lagi. Wassalam…” pungkasku menutup tirai panggung mini kata tanpa penonton. Aku berharap ia akan benar-benar berhenti mengurai waktu yang sebenarnya masih melekat

***

Setelah itu, ia kemudian tak pernah datang lagi, usai menemuiku beberapa hari terakhir. Ia hilang seperti ditelah angka-angka atau huruf yang berseliweran di udara. Ketika itu, justru serasa ada serbuan kerinduan yang selama ini aku tolak dengan seluruh kekuatan yang menopang kegigihanku.

Setiap hari aku menunggu telepon itu berdering, dan di sana akan tertera kata atau tanda baca yang mengajakku mengembara. Melayang ke masa lalu atau berpesiar dalam silang kata. Tapi telepon itu tak lagi menyelia kabar apapun. Setumpuk sapaan hangat itu seperti mengerut.

Aneh, mengapa aku seperti berharap ia akan datang lagi dengan bait-bait puisinya, atau dengan sodoran tanyanya yang selalu kukibas dengan ketus. Apakah ia kali ini sedang mengubur diri untuk menjauh dari fragmen bahwa ia pernah menjumpai perempuan yang  pernah membuatnya uring-uringan.

Tapi tidakkah semua kata atau kalimat sakti itu hanyalah bius agar aku terlena, dan jatuh hati padanya. Aku sebenarnya menyukai perdebatan yang kami pilah dari potongan-potongan masa silam ketika kami masing-masing telah menjadi milik orang lain. Dua sisi; kebencian dan rasa yang terus saja menguntit sisi hatiku memang tak akan lagi mengubah apapun.

Benarkah aku adalah cadas atau karang seperti yang pernah ia bisikkan melalui puisi pendeknya. Benarkah aku tidak memiliki pintu maaf untuk dibuka sedikit saja agar ia masuk menyentuh relung kesadaranku. Benarkah aku perempuan yang harus memelihara kebencian ini hingga waktu melipat kesempatan untuknya.

“Waktu terasa berhenti dinda, maaf bila ada yang rumpang…” sebuah kalimat menyembul di sela renunganku.

Pesan itu menyusup diam-diam. Tapi aku tak memiliki kuasa untuk menggamit, apalagi akan membawanya pergi. Aku telah menjadi milik orang, ia pun.  (*)

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s