Sepnimar, dalam Gemuruh Kemanusian…

Tiba-tiba penulis mengingat banyak hal ketika duduk di koridor RSUP Wahidin Sudirohusodo awal Maret lalu. Wajah-wajah yang menangkup kesedihan seperti yang dipanggul ibunda Sepnimar, bocah hidrosepalus dari Bonehau itu bersaf menunggu kabar dari kamar operasi.
Penulis mengamatinya, betapa ia mengandung beban berat dan mengundang keprihatinan yang sempurna. Bersama ustadz Hajrul Malik, anggota parlemen Mamuju, siang itu kami menanti hasil operasi pertama Sepnimar. Tak ada dialog yang panjang dengan orangtua anak itu. Wajahnya letih menekuri ubin rumah sakit. Hanya sekali-kali ia menggumamkan jejak kehidupan di Bonehau yang tak memberinya banyak harapan secara ekonomis.
Ia datang dari dusun terjauh, dari lubuk paling tertinggal di Sulawesi Barat. Sang bunda ini bermata kuyu, mungkin lelah atau sembab dalam kesedihan berkepanjangan. Kehidupannya yang jamak seperti warga miskin lainnya di Kampung Besar ini menetaskan duka kita atas layanan kesehatan yang buruk. Bagaimana mungkin hidrosepalus yang tak datang tiba-tiba tidak mengiris hati para tenaga kesehatan yang sekali waktu menegoknya di posyandu. Sepnimar tak hanya pantas ditengok dibuaian kemelaratan orangtuanya, tapi mesti ia segera dicerabut dari kampungnya, ketika handycam dinkes merekam keriangan Sepnimar yang sungsang itu.
Tapi beginilah cara sebagian orang memandang si sakit dalam data dan angka-angka, sebab peta kesehatan yang buruk tak lain alat tukar proyek atau program. Cara kita melihat Sepnimar beberapa pekan lalu mestinya dibuat dalam bingkai yang lebih peka. Penulis yakin di banyak tempat, masih ada Sepnimar lain yang mungkin belum diendus media. Hidrosepalus, gizi buruk, dan penyakit entah apalagi namanya di daerah ini bagian utama dari kegagalan negara atau pemerintah dalam bersikap dan bertindak. Hak mendasar tentang layanan kesehatan yang manusiawi menjadi kewajiban pertama pemerintah, mengucurnya anggaran yang berlimpah seharusnya membuat orang-orang yang memangku kebijakan tentang kesehatan masyarakat kian lincah dan reaktif. Sepnimar kini menjadi contoh betapa kesigapan aparat menjadi tolok ukur yang tak meyakinkan.
Ibunda Sepnimar, kepada penulis menuturkan, ia selama ini dirundung ketakutan akibat rincian biaya pengobatan bila harus menengok rumah sakit. Keluhannya itu seolah sebuah batas dinding yang rapuh tentang kepedulian orang-orang yang ada di sekitarnya. Seakan-akan bunda Sepnimar ini hanya hidup bersama Robin Hood suaminya, dan anak-anaknya di Bonehau. Tanpa memiliki akses apapun, dan kemanapun untuk menghamparkan kesulitannya.
Untunglah, peran sosial media mengambil ruang seperti seharusnya dalam menopang sisi kemanusian. Sepnimar hanyalah nama seorang balita yang tentu saja memiliki visi masa depan seperti halnya anak-anak kita sendiri di rumah. Di bangsal tempat ia dibaringkan, penulis melihat matanya yang berbinar. Tak jelas apa yang menggurat di kelopak matanya yang baru saja dibekas bius operasi. Ia hanya berusaha merespon setiap sudut kesedihan yang membuntal di wajah, dan di hati orang-orang yang menolongnya. Kira-kira bagaimana perasaan orang yang abai pada Sepnimar selama ini?
***
Warga yang kalah karena menanggung predikat miskin adalah potret ironis dari gemuruh kemanusian banyak pihak di Sulawesi Barat. Ini tentu saja kegetiran yang seharusnya menyentak akal budi, agar akal bulus dalam memandang data dan angka-angka yang bermuara pada proyek pembangunan kesehatan, paling tidak sedikit lebih sensitif. Apa yang mesti kita catatkan untuk fakta-fakta, dan detail masalah kesehatan yang membutuhkan kebijakan strategis. Jawabannya, antara lain, ganti saja pejabat yang mungkin dapat kita kategorikan lalai pada soal Sepnimar, atau kasus-kasus kesehatan buruk lainnya.
Kesehatan sebagai salah satu pijakan mendasar bagi bangsa yang berperadaban mestinya diampuh oleh mereka yang tak hanya pandai dalam retorika. Daerah ini membutuhkan anak-anak yang tumbuh sehat, dari ruang-ruang bermain penuh ekspresi, dari kelas-kelas sarat kreatifitas, dari perhatian tentang kesehatan yang seimbang. Apa jadinya bila soal kesehatan anak-anak hanya selalu berujung pada ketidakberdayaan atas nama kemiskinan terstruktur sekian lama.
Cukuplah Sepnimar memberi kita satu batas toleransi. Sebuah garis pemisah tentang gembar-gembor kesehatan yang melayani dengan ritual ketakberdayaan masyarakat jelata dalam menanggung kemiskinan. Terima kasih Sepnimar, Kau telah mengajarkan tentang satu hal; manusia penting memanusiakan sesamanya! (.)
RSUP Wahidin, 2 Maret 2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s