Pendidikan Karakter, Nggak Ada Itu!

Tren yang lagi digalakkan dunia pendidikan kita bagaimana membangun karakter anak didik. Sebuah mimpi di tengah kemaruk peradaban compang-camping bangsa ini. Telah banyak diskusi yang membahas tema itu, sejumlah cara pun dikelola untuk, misalnya kantin kejujuran yang niscaya melatih rasa jujur dan malu. Tapi hasilnya belum bisa diukur untuk satu musim jagung saja.
Ketika catatan ini sedang saya tulis, di salah satu televisi swasta ditayangkan seorang guru yang kedapatan berbuat tak elok. Kamera menangkapnya sedang mendiktekan jawaban-jawaban ujian nasional kepada siswa-siswi yang tengah menghadapi tes final secara nasional. Penulis hampir kehabisan pikir dalam memaknai sikap dan tingkah laku guru, yang yakin saja dilakukan secara sistematis di sekolah. Kita seolah-olah telah kehilangan segala ruas kepantasan, hingga dengan begitu mudahnya wibawa guru di depan lambat-laun tergerus rasa hormat.
Guru-guru yang mulia, tak akan kehilangan martabat bila bersikap lebih disiplin dan patuh pada tata krama soal cara mendidik, dan mengajar. Maka jangan heran bila serta-merta pada saat ini, nuansa lebih segan dan hormat pada guru menjadi luntur. Sebab tak ada lagi semangat yang lebih baik untuk belajar, tiada lagi keharusan untuk mengutui bacaan dan tugas-tugas dari sekolah. Semua itu menjadi lebih mudah dijawab, sebab pada akhirnya, lebih banyak sekolah yang mempertandingkan guru-guru mengerjakan soal-soal ujian nasional. Risih rasanya.
Kecemasan kita soal jongkoknya kepribadian dan anjloknya karakter siswa kita dalam dekade terakhir, sebenarnya dikoyak-koyak sendiri para Tuan Guru yang Terhormat. Jadi nggak perlu lagi kita menyoal betapa penting bangunan karakter siswa dalam kepribadian yang membanggakan, bila contoh-contoh buruk tak juga dihentikan. Tulisan ini senada dengan catatan penulis edisi sebelumnya, sebab ada gelombang ketakutan dan kecemasan dalam melihat bingkai pendidikan perilaku dewasa ini.
Ketika Guru kencing berlari, kira-kira siswa dan murid akan seperti apa? Bila para guru mengajarkan kecurangan secara massal saat ujian nasional, kita hanya akan menunggu luluh-lantaknya nilai dan hakikat pendidikan, yang bak bom waktu. Hakikat Tut Wuri Handayani tampaknya sedang diajarkan mentah-mentah!
Dalam beberapa hari saat ujian nasional berlangsung, penulis banyak menyerap informasi dan kabar buruk soal tindakan guru yang secara kelembagaan dianggap patut membantu siswa-siswi yang sebelumnya menerima warisan yang sama; guru-guru pasti akan membocorkan jawaban! Semoga masih tersisa guru-guru kita yang tak setuju dengan cara-cara demikian. Betapa pendidikan hanya sesuatu yang seolah-olah saja, jika setiap ujian nasional guru-gurulah yang sibuk menjawab soal.
Ini semua tanggung jawab orang di atas, sebab melakukan pembiaran. Kata seorang pendidik kepada penulis. Ini berarti apa? Apakah perilaku menjiplak jawaban secara bersama-sama adalah bagian dari kebijakan setiap kali ujian tiba? Apakah telah demikian longgarnya nilai tentang rasa malu di sekitar kita. Kadar Siriq anna Lokkoq bagi masyakarat pendidik di Mandar Sulawesi Barat, mungkin perlu digagas ulang. Terlalu murah.
Kita yang selama ini dididik untuk bersikap jujur dan bertanggung jawab dalam bingkai kearifan lokal, perlu mengetuk pintu kesadaran masing-masing. Bahwa wacana pendidikan karakter bangsa yang sedang tren, sesungguhnya telah jauh abad ditanamkan moyang kita. Para pendidiklah yang sejatinya membenihkan nilai-nilai itu ke ubun-ubun anak-anak didik. Bukan dengan mengajari berbuat curang, atau menularkan rasa malas membaca dan belajar seoptimal mungkin.
Maka berhentilah sekolah-sekolah itu, atau dinas pendidikan membincang soal pendidikan karakter bangsa. Bila mata pelajaran curang itu tak juga dihentikan. Berhentilah bersenandung mengenai keluhuran budi, dan rasa hormat jika guru-guru kita di lapangan tak mampu menahan diri saat musim UN datang. Kecuali, bila yang mereka maksud yakni agar anak-anak itu kelak tumbuh sebagai generasi yang tak jujur, korup, dan malas. Jauh dari kata pandai. Taweq! (.)
Musim Ujian Nasional, 24 April 2012

One thought on “Pendidikan Karakter, Nggak Ada Itu!

  1. muh fadli mengatakan:

    pendidikan karakter belum sepenuhnya dianggap tidak ad. sebab pendidikan karakter itu bisa lebih memberikan keringanan bagi kecurangan dan kecarut marutan bagi para sekelompok orang dal;am dunia pendidikan. alasannya adalah semakin banyak program yang diterapkan dalm dunia pendidikan, semakin banyak pula ruang bagi kita tuk melakukan kritik dan semakin banyak kemungkinan bagi kalangan bawah tuk mendapatkan penyadaran. minimal itu dalam sekedar teori bahwa pendidikan karakter itu memang di butuhkan. konsep pendidikan karakter itu ideal sehingga kita harus mengawalnya. dan terus melancarkan kritik manakala pelaksanaannya melenceng dari konsep.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s