Pelajaran dari Seorang Presiden

Cara untuk menilai diri sendiri kerap dengan bercermin. Dari bangun tidur hingga bersolek orang melakukan sambil mematut diri di depan benda yang dapat memantulkan raga yang maujud. Cermin juga menyisakan hikayat tentang cara orang untuk menilai diri.
Tapi jangan seperti sindiran pepatah Arab yang menyebut, bila rupa yang buruk, jangan cermin yang dibelah. Bagi pencitraan diri cermin sebaiknya disiapkan lebih besar dari ukuran tubuh, agar keberhasilan gaya dan pola komunikasi yang hendak dibangun berhasil.
Komunikasi yang baik menjadi kadar dari nilai kejujuran. Itulah sebabnya siapapun yang kepincut menjadi pemimpin di level apapun mesti menyadari bahwa kualitas pribadi akan membangun otoritas. Tak mudah untuk menenteng status dan tanggung jawab semacam ini. Tapi selalu saja ada contoh yang bisa dirujuk.
Bila di Mandar melahirkan seorang tokoh besar almarhum Baharuddin Lopa, yang memiliki kualitas kejujuran level tinggi dan kesederhanaan yang memiriskan, kita patutnya mengekornya hari ini. Namun sayang, Baharuddin Lopa ibarat hikayat pada anak-anak cucu kita saja bahwa dahulu seseorang telah dilahirkan di Kampung Besar; Sulbar, dan menjadi pendekar hukum nomor wahid di belantara republik ini. Amat sulit bertemu dengan tokoh sekelas Baharuddin Lopa di Sulbar saat ini.
Kini ketika Sulbar menjadi provinsi yang mandiri, bebas menentukan alur masa depannya, sungguh dibutuhkan lahirnya pemimpin yang jujur. Rasa-rasanya penulis belum pernah membaca spanduk, atau baliho yang dipancang selama ini dalam tagline utama soal kejujuran. Sebab nilai kejujuran itu memang mengacu pada martabat dan nilai.
Mengapa penulis menggamit ide kejujuran dalam catatan ringan kali ini, sebab kebohongan sebagai lawan kata dari kejujuran seketika akan mampu menghancurkan nilai reputasi dan otoritas seseorang. Kejujuran juga akan menghindarkan siapapun dari nafsu dan hasrat berkuasa untuk semata-mata mematangkan kepentingan diri dan kelompoknya.
Tengoklah kisah Presiden Jerman Christian Wulff yang baru-baru ini mundur dari jabatannya. Ia mundur karena dituding telah melakukan kebohongan. Pertama, karena pernah meminjam 650.000 Dollar AS dari temannya istrinya, juga akibat seorang produser film bernama David Groenewold, telah membayari tagihan hotel presiden (hanya) dalam dua kali liburan. Merasa bersalah, Wulff pun pergi.
Komunikasi yang jujur entah melalui medium apapun selalu dinanti. Kita juga menunggu itu dipertontonkan siapapun yang hendak merebut kuasa, atau tengah mengendalikan kekuasaan. (.)
Mamuju, 18 Februari 2012

One thought on “Pelajaran dari Seorang Presiden

  1. muh fadli mengatakan:

    sepakat Bang dengan KONSEP KEJUJURAN!. Karena kebohongan tak akan abadi sementara KEJUJURAN akan selalu dikenang meski raga sudah lapuk dala tanah. Apalagi menjelang PEMILUKADA ini, banyak sosok pemimpin kita yang hanya mencitrakan dirinya dalam angan2 kampanye politik sementara dibelakang layar mereka melakukan penindasan terhadap masyarakat.
    KONSEP KEJUJURAN tak perlu dicitrakan toh akan tercitrakan sendiri dan pencitraannya pun akan melampaui Zamannya. Contoh Konkritnya adalah bapak alamarhum Baharuddin Lopa yang sampai pada saat ini penjadi icon pada garda terdepan dlm sejarah ini.
    sudah sangat cocok ketika kita mengekor pada sejarah hidupnya. Semoga saja calon pemimpin kita di SULBAR bisa belajar dari perjalanan almarhum. bukan hanya membaca sejarahnya tetapi mnenjadi menjadi BAHARUDDIN LOPA baru di era sekarang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s