Hijrah Itu Lebih Baik…

Sebelum pindah ke Kota Mamuju, saya bertemu dua senior di Kampung Jawa Wonomulyo. Bang Bahrun dan Bang Azikin. Keduanya memungkaskan nasehat bahwa hijrah dari satu ke tempat lain untuk mencapai cita-cita lebih tinggi sebuah keniscayaan. Secara terpisah keduanya memberi analogi meyakinkan dalam satu dua kali diskusi. Kesimpulan pun saya tarik dengan mengemasi semua keraguan lalu membuntalnya demikian optimis. Peristiwa itu enam tahun silam dari hari ini.
19 tahun sebelumnya penulis pernah mencecap ganasnya kota Minyak Balikpapan hingga rupa-rupa nyamuk pedalaman Kutai Kertanegara. Semua itu menjadi oase yang menyejukkan bahwa hidup memang suatu langkah, bak titian, juga pencapaian, yang menjadi rahasia dalam ikhtiar manusia. Walau proses berpindah atau beranjak dari satu titik ke titik lain semacam peta buta. Hanya kesunggguh-sungguhan, kerja keras dan kecerdasan spiritual-lah yang akan memandunya ke garis akhir.
Momentum Muharram yang didalamnya terdapat lempang sejarah tentang hakikat hijrah selalu menetaskan hikmah besar. Sungguh Baginda Nabi Muhammad SAW telah mengajarkan sifat pantang menyerah, keyakinan pada masa depan, dan keberanian untuk memilih situasi. Betapa kesanggupan Beliau untuk meninggalkan Mekkah menuju Madinah telah mengubah padang pasir tandus tanah kelahirannya itu menjadi kiblat umat hingga akhir zaman. Bagi kita saat ini peristiwa Hijrah yang melekati tapak-tapak awal perjuangan Manusia Agung itu. Yang menjadi penanda, untuk merangkai kesuksesan kita bisa mulai dengan keyakinan.
Hijrah memang bisa ditafsir dalam beragam asumsi atau pandangan. Namun sumbu utamanya selalu pada: apakah seseorang berani mengambil keputusan untuk melakukan sesuatu; apakah seseorang cukup bernyali untuk menyabung peruntungannya sedemikian rupa? Apakah seseorang telah memiliki segumpal asa yang akan menuntunnya pada pintu harapan dimana ia akan menggenggam keberhasilan. Sayangnya, tak banyak yang ingin menceburkan proses hidupnya dalam rekayasa sosial, tapi malah menyampirkan cita-citanya pada sesuatu yang mengikatnya dalam belikat waktu.
***
Ketika Muharram menjumpai Kita sekali lagi, mungkin itu berarti bahwa Tuhan tengah menawarkan pilihan-pilihan. Dimana setiap kita dapat mendaras keakuan, dimana kita masih bisa menimbang banyak hal. Yang jelas, sejarah telah memberikan beragam spektrum mengenai hijrah sebagai rahasia hidup.
Sungguh suatu ketika, kita mungkin akan terperangah melihat seseorang yang dahulu biasa-biasa saja, lalu menjadi amat luar biasa. Pun suatu ketika kita akan mendengar penyesalan dari seseorang yang semula terlihat luar biasa, tapi karena ia tak percaya sir dalam hijrah. Akan menjadi tukang rekeng waktu dalam kesia-sian. Untuk itu rebutlah hakikat Muharram kali, sebab itu jauh lebih baik.
Semoga bergesernya tahun Hijriyah saat ini, memberi makna baru dalam kebaruan Kita untuk bergerak lebih baik di masa depan.
Mandar, 1 Muharram 1433

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s