Bung, Hegemoni Tak Begitu Saja!

Setiap kali saya datang ke Polewali Mandar, selalu saja dirubung banyak pertanyaan. Apalagi jelang Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) tahun 2013. Meski momentumnya relatif masih jauh, namun makin kencang saja suluran pertanyaan beberapa pihak untuk banyak tahu. Rupanya realitas di media belum memenuhi dahaga tentang wacana terus berpusar.
Namun saya kerap berhenti pada diskusi yang menyeret nama figur. Tak ingin mengerek sesiapa kuatir dianggap kepagian. Tak juga hendak dinilai ingin menyorong sosok tertentu untuk dibenamkan agar mereka berorientasi sama. Hari ini, masyarakat kita kian cerdas dan memiliki kecakapan lebih bernas untuk memilih siapa yang pantas disemati gelar pemimpin kepala daerah. Diskursus yang kini mengemuka di Polewali Mandar tentang siapa yang lebih pantas, rupanya telah mengaburkan banyak hal.
Terbukanya ruang kebebasan dan adanya kesetaraan publik untuk masing-masing menilai calon pemimpinnya, makin menerangkan sesuatu kepada kita bahwa rakyat tak lagi semacam tiga dekade lalu. Persepsi masyarakat terhadap banyak orang yang kini disebut-sebut atau menyebut-nyebut dirinya sendiri untuk memasuki area pemilukada, telah menasbihkan sebuah level keterpilihan di akar rumput.
Saya sering merenung-renungkan pikiran beberapa orang yang bertemu akhir-akhir ini, betapa konstribusi investasi sosial amatlah penting. Tak cukup modal 1000 keinginan sebagai mesiu untuk merebut hegemoni dalam kuasa politik. Pengaruh tidak pernah diperoleh begitu saja, tetapi harus dibenih, disemai, dan disapih terus menerus. Di Polewali Mandar konteks ini tentu saja juga berlaku.
Saya ingin mengutip pendapat Gramsci yang menyebutkan, ketika suatu kelompok sosial telah dominan dan mempertahankan dengan gigih kekuasaan yang telah ada dalam genggamannya, mereka tetap harus memimpin. Lihat Roger Simon, 2004:45). Hal itu tentu menuntut energi untuk mempertahankan dan memperkuat otoritas sosial dari kelas yang sedang berkuasa. Sekali lagi, teks ini meski menjadi perhatian siapapun yang kepingin melarung sekeranjang hasrat politiknya di Polewali Mandar.
Momentum Pilbup di Polewali Mandar masih setahun beberapa bulan, masih ada cukup ruang untuk memuaikan cara atau strategi merebut simpati. Di Pasar Induk Wonomulyo, kemarin, saya telah melihat beberapa sudut los dijejali sumringah wajah yang mengais simpati hingga ke pasar. Stiker, spanduk, dan baliho hingga saat ini masih dianggap memiliki daya ampuh untuk menyerap daya tarik.
Ada satu pertanyaan menarik, kira-kira kelas mana yang akan mampu meruntuhkan hegemoni politik di jazirah Tipalayo saat ini? Hal terpenting dalam realitas yang mengemuka di Polman, yakni adanya analisis yang konkret terhadap sejumlah situasi-situasi yang konkret serta dialektika yang mencakup semua proses kekinian.
Adalah perlu bagi kekuatan sosial yang sedang belajar merebut hegemoni untuk terus belajar dan memahami teknik survival dalam politik. Taweq Bung! (.)
Mandar, 19 Januari 2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s