Bagaimana Meletakkan Realitas Secara Bersama?

Apa yang kita serap setiap hari melalui berita di koran dan televisi bukanlah cermin realitas secara sungguh-sungguh. Itu hanyalah produk dari sebuah tata cara meletakkan realitas dari bilik yang disebut newsroom. Perihal tentang berbagai pilihan dari banyak hal semata-mata citra kontruksi yang sulit ditafsir.
Sudut pandang penulis ini ingin mewakili banyak pertanyaan mengenai karut-marut yang berseliweran di media dalam beberapa waktu, dan berpekan-pekan. Sebutlah itu tentang wacana pergantian sekretaris provinsi; Unsulbar; Kalumpang; kondisi kekinian mutu pendidikan kita serta beberapa seting lokal lainnya. Apakah semua itu telah memuaskan dan menuntaskan selera kita dalam upaya merebut makna penting dari fenomena-fenomena yang ada?
Serbuan pilihan berita melalui beragam teknis menulis itu membutuhkan daya kritis pembaca atau pemirsa. Apakah realitas yang dirangkai dalam topik-topik aktual itu telah membuat garis merah, dimana posisi kita sesungguhnya. Apakah fakta-fakta yang jamak dalam diskusi-diskusi di warung kopi yang mulai marak di Mamuju, benar-benar telah mewakili kepentingan kita. Tidakkah kita hanya berkedudukan sebagai pembaca atas tumpangan gagasan sekelompok orang saja.
Penulis tentu saja sengaja menuangkan pikiran ini, untuk mengajak semua orang menjadi pembaca yang lebih kritis. Penikmat berita yang mampu memetakan alur isu yang berkembang, atau malah terkesan menjadi simpang-siur. Setidaknya, pembaca penting memahami teks yang berkelindan selama ini. Mampu menarik tautan dari hubungan antara teks dan pembaca, sisi ekonomi politik, hingga pola-pola makna kultur yang menyembul.
Sebagaimana dikatakan Thompson, dalam Cultural Studies (1995), kita tidak boleh lengah dalam memerhatikan fakta bahwa di dunia yang semakin dibanjiri oleh produk industri media, arena utama yang sepenuhnya baru telah diciptakan bagi proses pemolesan diri. Kita tak boleh hanya sekadar menjadikan bacaan sebagai penuntas sarapan pagi. Atau menjadikan televisi sebagai standar kecukupan.
Sebab realitas yang diciptakan media membutuhkan telaah kritis agar kita semua mampu secara bersama meletakkan realitas dalam ukuran sepantasnya. Di tengah kemajuan teknologi industri newsroom sesungguhnya telah membagi sebagian perannya ke publik. Bahwa kemajemukan fakta dapat dirangkai dalam kategori dan definisi yang berbeda pada masa lalu.
Kini media membutuhkan pembaca dan pemirsa yang kritis agar industri ini tetap mampu menjaga tugas-tugasnya secara berimbang. Lihatlah pola media yang terus membuka diri, meski kendali konstruksi gagasan utamanya tetap dipelihara menurut ideologi dan kepentingannya. (.)
Mamuju, 9 Januari 2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s